Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 14


__ADS_3

Setiap akhir pekan, keluarga Wicaksono selalu berkumpul. Rumah Rendra menjadi rumah utama untuk mereka melepas rindu. Didit dan Desi juga anaknya ikut berkumpul, walaupun mereka bukan keluarga inti dari Wicaksono


“Liburan semester minggu depan bagaimana kita liburan? Mumpung Abang Al belum terlalu sibuk nyusun skripsi,” ucap Rendra.


“Waah ... setuju, Bro. Udah lama juga kita ga liburan bareng 'kan,” timpal Eki.


“Gimana Bun, setuju?”tanya Rendra pada istrinya.


“Iya, Yah. Bunda setuju kok. Tapi, jangan yang terlalu jauh.”


“Bagaimana kalau kita ke Bandung saja?” semua orang tampak menyetujui ucapan Rendra.


“Oia ... kalian boleh bawa teman, atau pasangan kalian. Biar tambah seru,” ucap Riana. Dia sengaja bicara seperti itu karena sangat penasaran dengan wanita yang berhasil membuat putra sulungnya jatuh cinta.


Semua anak tampak senang, karena dengan begitu mereka bisa lebih menikmati liburan semester kali ini. Ingin rasanya Alaric mengajak Ana untuk liburan bersama dengan keluarganya. Tapi, siapalah dia? Alaric mempunyai ide yang bagus agar pujaan hatinya ikut bersama dengan mereka.


“De, sini deh!” Alaric melambaikan tangan pada Aulia agar menghampirinya yang sedang duduk di halaman belakang.


“Ada apa, Bang?” tanyanya sambil duduk di sebelah Alaric.


“Buat liburan nanti, bisa ga abang minta tolong?” Aulia mengerutkan keningnya tidak mengerti.


“Maksud abang?”


“Ajak Ana ya, abang mau dia ikut,” Aulia tersenyum nakal dengan tatapan yang menggoda.


“... apa sih, De?” ucap Alaric sambil menutup wajah menggoda adik sepupunya itu.


“Ciee ... akhirnya Abang bisa juga jatuh cinta,”


“Dih siapa yang lagi jatuh cinta coba. Masa ajak Ana dibilang jatuh cinta?”


“Udah Bang, ngaku aja napa? Ade dukung abang sepenuhnya. Nanti ade bakal ngajak dia deh.” Alaric tersenyum sambil mengusap rambutnya.


“Makasih ya.” Aulia tersenyum mengangguk.


**♥️♥️**


Sudah menjadi kebiasaan, Alaric selalu menjemput Ana setiap malam saat pulang kerja. Akhir-akhir ini Ana memang mengambil shift siang karena paginya yang harus ujian.


“Abang, ga capek harus jemput Ana tiap malam?”

__ADS_1


“Ga kok. Udah makan belum? Makan dulu ga apa-apa ya?” Ana hanya tersenyum mengangguk.


Alaric pun ikut tersenyum, dan lanjut melajukan mobilnya ke salah satu cafe 24 jam yang berada di tengah kota Jakarta. Setelah keduanya sudah memesan makanan, suasana seketika hening. Alaric mulai menampakkan kalau dirinya menyukai wanita yang ada dihadapannya, dengan terus memandangnya sambil tersenyum. Menyadari dirinya yang terus saja dilihat oleh Alaric, Ana menjadi salah tingkah. Sesekali dia melihat ke kiri atau kanan dan juga menunduk.


“Bang, kenapa ngeliatin aku terus?” tanyanya yang sudah mulai merasa risih.


“Kamu cantik. Wanita cantik 'kan harus dinikmati,” jawab Alaric dengan polosnya. Wajah Ana seketika menjadi sangat merah, karena malu. Melihat itu Alaric tertawa dengan puas dan mencubit pelan pipi kanannya.


“Aw ... sakit!” ucap Ana sedikit cemberut sambil memegangi pipinya.


“Habisnya kamu lucu tau.” keduanya saling melempar senyuman.


Akhirnya makanan yang ditunggu-tunggu datang. Dan keduanya pun langsung menikmati makanan, karena tidak bisa dipungkiri kalau mereka sejak tadi sudah merasa sangat lapar. Sudah hampir seminggu ini keakraban mereka semakin dekat. Alaric sudah tidak canggung lagi dengan Ana, begitupun sebaliknya. Tapi sampai sekarang Alaric belum juga menyatakan perasaannya, karena menurutnya mereka sudah sama-sama dewasa dan tidak perlu lagi ada pernyataan cinta layaknya anak SMA.


“Kalau makan pelan-pelan.” Alaric mengambil nasi yang ada di dekat bibir Ana, dan kemudian memakannya. Ana yang melihatnya langsung terdiam kaget dan terus menatap Alaric yang dengan acuhnya melanjutkan makannya kembali.


“Kenapa?” tanya Alaric yang menyadari sejak tadi Ana melihatnya.


“A ... ah eng-ngak kok, enggak ada apa-apa,” jawabnya sedikit terbata. Ana melanjutkan makannya sambil tertunduk karena malu.


Selesai menyantap makanan malam mereka, keduanya kembali terdiam. Ana melihat sekitar suasana cafe sambil memainkan sedotan yang ada di minumannya.


“An, libur nanti kamu ada acara kemana?” tanya Alaric mencairkan suasana..


“Oh ... bagus deh,” ucapnya singkat sambil tersenyum dan kembali meminum minumannya. Ana mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan jawaban Alaric.


“Maksudnya?” Alaric hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutnya.


“Pulang yuk! Udah malem, nanti ibu kost kamu marah lagi.” Alaric berjalan duluan ke meja kasir, sedangkan Ana mematung sambil menyentuh rambutnya yang sedikit acak-acakan.


Hari ini Alaric membuat dia merasa aneh. Pertama saat mengambil remehan nasi di wajahnya, dan yang kedua dia tiba-tiba menyentuh rambutnya. Ana merasa Alaric semakin berbeda. Makin kesini dia nampak makin ceria dan memperlihatkan sifat aslinya. Tidak seperti pertama dia mengenal Alaric. Pria dingin dan nyaris tidak pernah tersenyum. Mengingat hal itu membuat Ana tersenyum.


“Kamu kenapa tersenyum gitu? Apa kamu bertemu dengan seseorang?” tanya Alaric sambil melihat sekitar. Dia takut kalau sebelumnya Ana bertemu dengan pria lain dan tersenyum seperti itu saat dia sedang berada di kasir.


“eng-gak kok,” jawabnya dan langsung berdiri meninggalkan dirinya. Alaric kembali melihat sekitar mencari sosok pria yang membuat Ana tersenyum seperti itu. Tapi yang dia lihat semua pria yang ada di sana mempunyai pasangan masing-masing. Alaric pun melangkahkan kakinya menyusul Ana yang sejak tadi sudah meninggalkan dirinya.


Selama perjalanan Alaric masih terdiam dengan memasang wajah yang serius. Berbeda dengan Alaric yang berada di cafe tadi, membuat Ana merasa kebingungan. Dia ingin sekali bertanya, apakah dirinya melakukan kesalahan? Tapi berulang kali dia urungkan niatnya karena takut.


Sampai di depan kost, Alaric turun dan membukakan pintu untuk wanita pujaannya. Dia masih belum mengeluarkan sepatah kata pun untuk Ana, dan itu membuat Ana memberanikan diri untuk bertanya.


“Emmm ... Bang, apa aku melakukan kesalahan?” Alaric menghentikan langkahnya saat hendak kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia membalikkan kembali badannya, dan menatap Ana dengan serius, membuat Ana semakin tidak mengerti dan salah tingkah.

__ADS_1


“A ... ada yang aneh ya?” tanyanya terbata sambil merapihkan rambutnya.


“Tadi kamu senyum-senyum sama siapa?” Pertanyaan itu membuat Ana seketika langsung tertawa.


Ternyata dia diam sejak tadi itu memikirkan gue senyum sama siapa? batin Ana sambil tertawa.


Melihat Ana yang tertawa puas, membuat Alaric semakin merasa kesal. Dia membalikkan tapi dengan cepat Ana memegang tangannya.


“Ma-maaf Bang, Ana ga kuat mau ketawa.” Alaric kembali berhadapan dengan Ana, masih dengan wajahnya yang serius dan melihat tangan Ana yang masih memegang tangannya.


“Ups ... ma-maaf, Bang.” dengan cepat Ana menarik kembali tangannya, menunduk karena malu.


“Terus jawabannya apa?” tanya Alaric dan membuat Ana mengangkat wajahnya.


“Oh tadi, aku hanya memikirkan saat kita pertama kali bertemu, saat dimana abang yang masih jutek dan memikirkan itu membuat aku tersenyum, karena ternyata abang itu ga sejutek yang aku pikirkan. Abang baik, ramah dan terkadang lucu,” jelas Ana membuat Alaric tersipu malu. Dia berusaha menahan senyumannya sambil memalingkan wajahnya melihat sekitar.


“Oh ... ya udah masuk sana! Udah malem,” ucapnya sambil melihat langit. Dia tidak mau kalau Ana melihat wajahnya yang merah.


“Emm ... kalau gitu Ana masuk ya, Bang. Btw ... makasih untuk semuanya.” Alaric hanya mengangguk. Ana melambaikan tangannya dan Alaric membalasnya kemudian langsung masuk ke dalam mobil.


Shit ... bisa-bisanya gue cemburu sama diri gue sendiri, ucapnya kesal mengingat dirinya tadi kesal melihat senyuman Ana di cafe tapi bukan untuk dirinya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Maaf yaa, Author tidak up beberapa hari ini. Dikarenakan badan yang drop dan tidak memungkinkan untuk menulis. Semoga kalian masih setia menunggu yaaa..


Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya, dan ditunggu komen kalian semuaaa...


Jaga Kesehatan yaaa All..

__ADS_1


Aku Padamu 😘😘😘


__ADS_2