
S2 Bab 52
“Apa kabar, Bang?” tanya gadis cantik yang baru saja tiba itu sambil mengulurkan tangannya.
Alaric terdiam kaget. Dia tidak menyangka wanita yang selama ini carinya ada dihadapannya. Bahagia tapi mayayat hati saat mendengar dirinya yang sudah punya tunangan. Terlebih tunangannya itu adalah satria.
Mencoba tenang dan biasa saja, Alaric pun membalas uluran tangannya.
“Apa kabar, Bro?” tanya Satria dengan memasang wajah kemenangan. Alaric menjawabnya dengan tersenyum kecil.
“Wah ... sepertinya kalian sudah saling berkenalan. Bagus dong, berarti aku ga perlu repot-repot mengenalkan mereka berdua. Oia Ana, dia bang Al yang aku ceritain. Bagaimana menurut kamu?” dengan polosnya Erna menanyakan itu pada Ana. Jawaban Ana hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tatapan Alaric terus tertuju pada mantan kekasihnya itu. Dia tidak menyangka Ana secepat itu melupakan dirinya.
...'Mungkin di sini aku yang terlalu bodoh mengharapkan cinta Ana selama tiga tahun. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.' gumamnya dalam hati....
Kecewa? Ya ... tentu saja Alaric kecewa dengan semua yang sudah terjadi. Tapi dia tidak akan menyerah dengan cintanya. Selama janur kuning belum melengkung, Alaric akan berusaha untuk mendapatkan hati Ana kembali. Apaoun itu caranya.
Alaric masih diam dan hanya melihat Erna dan Satria yang asik mengobrol. Sedangkan Ana, sama halnya dengan Alaric, dia hanya xiam tertunduk.
“Maaf, aku pamit ke belakang dulu!” hati Alaric berdebar saat mendengar pertama kali suara Ana setelah tiga tahun tidak pernah mendengarnya.
'Bagaimana aku bisa melupakan kamu, Sayang. Bahkan suara merdumu mampu membuat jantung ini tidak karuan.'
“Oh iya, Sayang,” jawab Satria yang membuat Alaric terbakar dengan rasa cemburu.
'Harusnya hanya aku yang bilang kata-kata itu. Shiitt ... dasar lelaki br*ngsek! Sok-sok enggak tahu keberadaan Ana. Tapi kamu merebut dia dariku.'
Selang lima menit, Alari juga pamit untuk ke toilet. Sebenarnya itu sengaja dia lakukan hanya untuk bwrtemu dengan Ana. Dia ingin sekali memeluk tubuh wanita yang sangat dia cintai. Alaric menyenderkan tubuhnya di lorong dekat toilet wanita. Sambil melihat jam, dia sesekali menengok ke arah toilet, karena sudah cukup lama dia berdiri di sana tapi batang hidung Ana tetap tidak terlihat juga.
“Abang, ngapain di sini?” tanya Ana yang baru keluar dari toilet. Alaric langsung menarik tangannya keluar resto melalu pintu belakang yang mengarah langsung ke parkiran. Alaric seketika langsung memeluk tubuh mungil Ana yang selama ini sangat dia rindukan.
“Sayang, aku rindu! Maafkan aku! Maafkan aku! Kamu berhasil membuatku seperti orang gila. Kamu berhasil membuat hatiku terasa sesak selama tiga tahun ini. Dan kamu berhasil mematakannya hari ini. Apa kurang cukup hukuman buatku?” Ana terus memberontak ingin melepaskan pelukan Alaric, tapi tenaganya tidak cukup untuk itu, dan akhirnya dia pun pasrah.
“... please! Biarkan aku seperti ini hanya dalam beberapa menit saja. Aku sangat merindukanmu, Sayang. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama? Apa cinta dan rasa sayangmu sudah hilang untukku?” Alaric tidk kuat untuk mengeluarkan air matanya. Beruntungnya situasi sangat sepi. Ana pun tidak menyangka kalau Alaric akan menangis di depannya.
Ana hanya diam, dia membiarkan Alaric terus memeluk tubuhnya dan terus bicara penyesalan dirinya. Dia sama sekali tidak menanggapi semua ucapan Alaric.
'Maafkan Aku, Bang! Maaf aku yang sudah membuatmu menderita. Aku mungkin tidak pantas memiliki kamu.'
Hampir 15 menit, akhirnya Alaric melepaskan pelukannya. Dia menyetuh wajah Ana dengan tatapan kerinduan yang teamat luar biasa. Ana pun membalas tatapannya tanpa ekspresi. Sebenarnya dia menahan dirinya agar tidak menangis.
“Sayang, sampai kapan pun, aku tidak pernah menganggap hubungan kita berakhir. Aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan kamu kembali, apapun caranya.” bukan ancaman tapi mungkin itu hanya sebuah peringatan untuk Ana. Jantung Ana berdebar saat mendengar apa yanh dikatakan oleh Alaric.
“Aku dan kamu sekarang berbeda, Bang. Erna gadi yang cantik. Bunda tidak pernah salah memilikinya jodoh untukmu. Hargai pilihan bunda dan aku harap kita akan sama-sama bahagia. Lupakan aku, Bang!” bagai ditusuk pisau, hati Alaric terasa sangat sakit saat mendengar apa yang dikatakan Ana padanya.
Alaric menarik tangan Ana saat dirinya hendak masuk kembali ke dalam resto.
“Ana, walaupun kamu seperti ini dan terus menolak aku, aku tidak akan menyerah. Kamu milikku, kamu wanitaku dan tidak ada satu orang pun yang bisa memilikimu. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan kembali hatimu. Ingat itu!” kata-kata yang sedikit emosi membuat jantung Ana berdebar. Alaric pun melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke dalam, meninggalkan Ana yang masih berdiri diam mematung.
Ana meneteskan air matanya. Antara bahagia karena Alaric masih menyayanginya seperti dulu dan sedih karena harus membuatnya sesakit itu.
...'Maafkan aku, Bang!' gumamnya....
Alaric pun kembali bergabung bersama Erna dan Satria yang masih asik mengobrol.
__ADS_1
“Btw ... kalian terlihat akrab, apa kalian sudah lama saling kenal?” tanya Alaric merasa heran melihat keakraban dari keduanya. Keduanya saling memandang dan terlihat sedikit salah tingkah.
“Karena Satria sering ke Singapura, hadi aku dekat dengannya. Dia 'kan tunangan dari sahabatku, masa aku ga deket,” jawab Erna.
'Cih ... dasar rubah! Dulu aku minta kabar tentang Ana, kamu bilang enggak tahu apa-apa.' kesal Alaric pada Satria.
“Maaf ya lama!” kata Ana yang baru saja bergabung. Kedua mata Ana dan Alaric saling memandang menggambarkan kalau keduanya menahan rindu yang teramat dalam.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Hai para readers yang aku sayangi...
Bantu Like, Komen dan Vote dong, biar semangat lagi nulisnya...
AKU PADAMU ❤️❤️❤️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Puisi by Kenkyo
Bila kehadiran embun menyejukan
Suasana pagi
Tentu hadirmu menyejukan suasana hati
Bila sang mentari hadir menyinari bumi
Tentu kaulah yang selalu hadir
Menyinari hati ini
Kau bagaikan udara
Jika kau tiada mungkin semua rasapun
Akan binasa
Cantikmu bagai purnama
Yang menyinari senja walau hanya sementara
Dan aku akan tetap menjadi sang pujangga
Menjaga cinta agar terus tumbuh bersahaja
__ADS_1
Percakapan kita adalah diam yang nyata
Sukma yang saling hampir menghampiri
Sebab tubuh selalu terkungkung ilusi
Dan kalimat hanyalah delusi juga halusinasi
Teruntuk kamu yang ku kagumi
Entah bagaimana rasa ini harus terungkap
Semua hanya berkecamuk dalam hati
Tanpa mau keluar dalam gelap
Aku mampu menyembunyikan rasa
Namun tak untuk selamanya
Kelak, jika tuhan berkehendak
Kau akan tau alasanku masih tetap berpijak
Perlahan kau bawa ku menari bersama bulan
Meski ku tahu itu hanya sekedar gurauan
Tanpa sadar ternyata aku jatuh terlalu jauh
Relungku terpanah setiap tatapmu padaku
Indah wajahmu menghiasi hari
Senyum manismu meluluhkan hati
Hari demi hari terasa sepi
Bila tawamu tak mengiringi
Tetaplah menjadi penenang hati
Karena bagiku kau begitu berarti
Ku mohon..
Jangan pernah berniat tuk pergi
Ataupun rasa untuk membenci
Karena ku ingin kau tetap di sini
Menemani..
Menjaga hati yang telah kau kunci
__ADS_1