Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 11


__ADS_3

Selesai kelas, Ana menagih penjelasan dari sahabatnya. Aulia hanya tersenyum nakal dan tidak memberi penjelasan kepada Ana. Membuat gadis cantik itu merasa kesal. Keduanya pun berjalan keluar kelas menuju tempat parkir.


“Dih ... mulai maen rahasia-rahasia ya!” ucap Ana yang sejak tadi tidak dihiraukan oleh sahabatnya.


“Beb, gue itu ga pernah liat abang gue seperti ini. Jadi gue yakin kalau dia suka banget sama lo.” kini Aulia membuka suaranya menjawab sejuta pertanyaan dari sahabatnya sejak tadi.


“Ga mungkinlah Beb. Jangan suka ngaco!” ucap Ana sambil mencubit hidungnya, hal yang sangat Ana.


“Sakit! Dih ga percayaan, ya udah kita buktikan aja nanti”


“Oke! Oia tadi gimana jalan sama bang Krisna?” Aulia menggandeng lengan Ana dan tersenyum genit bahagia. Ana yang melihatnya tersenyum, dia tahu kalau Aulia merasa sangat bahagia sekarang.


“Ehem ... ehem ... gue tau deh jawabannya. Ngapain aja sih???” goda Ana.


“Dih kepo! Hahahaha ... ada aja, yang jelas gue bahagia.” jawab Aulia dan berjalan cepat menghampiri abangnya yang sudah menunggu didepan mobil sambil ngobrol bersama Alaric yang juga menunggu kedatangan Ana.


Tatapan Alaric langsung tertuju pada gadis pujaan hatinya. Dia langsung melemparkan senyuman sambil melambaikan tangannya. Gibran dan Aulia yang melihat sepupu mereka saling pandang dan tersenyum. Mereka merasa bahagia akhirnya abang mereka bisa juga jatuh cinta. Hal yang selama ini keduanya tunggu-tunggu.


Entah sejak kapan Alaric benar-benar menyukai pribadi Ana. Dia juga tidak bisa menjawab apabila ada orang yang menanyakan hal itu padanya. Yang jelas perasaan yang dirasakannya saat ini, dia sangat bahagia.


“Bro, gue duluan,” pamit Alaric Gibran sambil tos ala mereka sejak kecil. Sebelum naik Alaric membukakan pintu untuk Ana dan kemudian dia berjalan ke arah kemudi.


“Aul, Bang Gibran, duluan ya.” Aulia mengangguk tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ana pun ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan sahabatnya.


“Bang, mereka berdua cocok ya,” ucap Aulia yang masih menatap mobil Alaric yang sudah melaju.


“Cocok, pake banget.” lanjut Gibran. Dia merasa sangat senang, bagaimana tidak senang? Akhirnya dia bisa konsentrasi menggambil hati gadis pujaannya Intan. Selama ini yang Gibran takutkan adalah Alaric membalas perasaan wanita yang dia sukai. Tapi ternyata yang dia pikirkan salah, dan dia memutuskan mulai saat ini dia akan mengejar Intan sampai mendapatkan hatinya.


**♥️♥️**


Flashback pada saat Aulia pergi makan siang dengan Krisna. Keduanya memilih makan di cafe tidak jauh dari kampus. Tempatnya memang sangat nyaman dan bagus terlebih buat sepasang kekasih. Karena nuansanya yang serba merah dan pink membuat suasana terasa sangat romantis.


“De, tadi siapa?” tanya Krisna yang membuat Aulia menghentikan makannya.


“Tadi?”


Yang merangkul kamu keluar kelas.”


“Oh ... dia Reza, sahabat aku sama Ana. Kenapa emang, Bang?”


“Oh ... bilangin ke dia, bisa ga lain kali ga usah rangkul-rangkul kamu kaya gitu lagi? Abang ga suka ngelihatnya.” Aulia tersenyum nakal dan terus menatap Krisna, membuat dia menjadi aneh dan merasa malu dengan tatapannya.


“Kenapa sih, De? Ada yang aneh di mata abang?” Aulia hanya menggelengkan kepalanya.


“... lah terus?”

__ADS_1


“Abang cemburu yaa??? Ayo ngaku!”


“Iya! Kalau abang cemburu kenapa?” Senyuman Aulia memudar. Niat hati ingin menggoda Krisna tapi malah dia speechless mendapat jawaban yang menantang dirinya. Aulia salah tingkah dan mengambil minumannya, meminumnya dengan cepat. Krisna yang melihatnya tertawa dan langsung mengacak-acak rambutnya karena gemas dengan tingkah laku Aulia.


“Abang!! Iih ... rambut aku acak-acakan jadinya,” kesal Aulia sambil merapihkan rambutnya.


“Kamu tetap cantik di mata abang. Pokoknya inget kata abang tadi ya, Jangan dirangkul sama pria manapun kecuali bang Al sama Bang Krisna. Oke!!”


“Apa alasannya?” kembali Aulia menantang Krisna. Sebenarnya dia penasaran tentang selama ini perasaan Krisna padanya. Krisna hanya diam dan terus menatap wajah cantik Aulia.


“... kok diem sih?” tanya Aulia kesal.


“Abang yakin kamu tahu jawaban abang.”


“Mana ade tau kalau abangnya diem aja.”


“Liat wajah kamu kesel gini buat abang makin gemes tahu ga sih.” Krista kembali mengacak-acak rambut Aulia dan membuat Aulia menatap tajam ke arahnya.


“... serem banget sih. Oke ampun abang rapihin lagi ya.” Krisna mencoba merapihkan rambutnya tp tangan Krisna ditepis oleh Aulia.


“Ga usah, ade kesel sama abang.” Aulia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari cafe. Krisna pun berlari menyusulnya setelah melakukan pembayaran terlebih dahulu.


Saat jarak sudah dekat, Krisna perlahan berhenti lari dan berjalan mengikuti langkah Aulia. Dia tersenyum dan mempercepat langkahnya agar selaras dengan langkah Aulia. Krisna tiba-tiba langsung menggenggam tangan Aulia membuat gadis cantik itu kaget dan berusaha melepaskan tangannya. Tapi usaha melepaskan tangannya gagal, karena genggaman Krisna yang begitu erat membuat Aulia akhirnya menyerah.


“Bisa ga kita gini sampai gerbang masuk kampus?” pertanyaan Krisna membuat jantung Aulia berdebar dengan sangat kencang. Aulia mengangguk sambil tertunduk karena malu. Krisna yang mendapat jawaban dari Aulia tersenyum bahagia.


**♥️♥️**


“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang pegawai yang bertugas saat itu.


“Ah ... tidak Mba. Oia Mba, apa saya bisa tanya sesuatu?”


“Bisa, Bu.”


“Apa Ana hari ini tidak bekerja?” pegawai itu langsung melihat jam yang ada ditangannya.


“Dia shift siang Bu, mungkin sebentar lagi sampai. Apa Ibu mau menunggu?”


“Tidak perlu Mba, saya minta ini, dan itu aja masing-masing tiga buah ya.”


“Oke Bu, mohon ditunggu sebentar.”


Hati Riana merasa kecewa, karena hari ini tidak bisa bertemu dengan Ana. Entah kenapa Riana sangat menyukai gadis itu, dan ingin rasanya mengundang Ana makan di rumahnya dan memperkenalkannya pada anak sulungnya.


Disisi lain Alaric dan Ana sudah sampai di depan Bakery.

__ADS_1


“Abang, makasih ya udah repot-repot anter Ana ke sini,” ucap Ana sambil melepas sabuk pengamannya.


“Ga repot kok, abang 'kan sekalian mau kerja.” Ana tersenyum dan turun dari mobil. Alaric pun ikut turun dari mobil.


“Pulang jam berapa?”


“Jam delapan malam, Bang.”


“Oh ... ya udah sana masuk takut kesiangan.” Ana mengangguk tersenyum. Dia pun berjalan ke arah pintu pegawai yang samping bakery. Sesekali Ana melirik ke belakang dan melambaikan tangan pada Alaric. Dia tersenyum dan membalas lambaian tangan Ana sambil terus menatap Ana sampai dia masuk ke dalam.


“Abang!” panggil Riana yang melihat anaknya di parkiran mobil. Sejak tadi Alaric tidak menyadari kalau mobil ibundanya parkir disebelah mobilnya.


“Bunda. Bunda ngapain di sini?” tanya Alaric kaget melihat bundanya.


“Ya ... bunda beli roti dong. Harusnya bunda yang tanya, abang ngapain ada di sini?”


“Abang ... abang tadi habis anterin temen, Bun,” jawabnya sedikit terbata.


“Oh ... ya udah kita pulang sekarang yuk! Atau kamu masih ada kelas?”


“Ga kok Bun. Abang mau pulang juga sekarang.”


“Oke ... bunda tunggu di rumah ya, sayang.” Alaric tersenyum mengangguk dan mencium kedua pipi ibundanya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Yuhu ... ada angin apa Author up lagi hahahahaha


jawabannya adalah jeng jeng jeng karena lagi mood buat nulis.


Seperti biasa Author minta jarinya untuk like dan komen. Jangan lupa juga vote sebanyak-banyaknya biar Author tambah semangat lagi untuk menulis..


Jangan lupa untuk selalu tersenyum yaa

__ADS_1


Aku padamu semuanya ♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2