
Alaric sampai di rumah bersamaan dengan ibundanya. Alaric pun masuk ke dalam rumah sambil merangkul Riana.
“Bang, nanti kapan-kapan bunda mau kenalin kamu sama perempuan, kamu harus mau ya?” Alaric yang sedang minum seketika tersedak mendengar perkataan dari ibundanya.
Uhuk ... uhuk
“Maksud Bunda apa?”
“Kalau minum itu pelan-pelan, Bang! Ya ... bunda mau kenalin kamu aja ke seseorang. Dia gadis baik dan cantik,” ucap Riana sambil menata aneka roti yang tadi dibelinya.
“Bunda mau menjodohkan abang? Bun, abang udah punya pilihan sendiri.”
“Bukan menjodohkan, tapi mengenalkan aja. Terserah kamu mau cocok atau ga, yang penting kamu kenalan dulu aja sama orangnya. Bunda ga akan maksa kok, kalau kamu harus menyukai dia,” Jelas Riana membuat Alaric diam.
“...Bang, kamu mau 'kan?” Alaric hanya tersenyum mengangguk. Hal yang tidak bisa ditolaknya adalah menuruti kemauan sang ibunda. Selama hidupnya dia tidak pernah membantah dan mengecewakan sang ibu. Wanita yang sangat luar biasa itu adalah orang yang sangat dicintainya.
“Bun, abang ke kamar dulu ya!” pamitnya sambil mencium pipi Riana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhir-akhir ini Salsa sangat sibuk dengan pekerjaannya. Memang wanita berusia 25 tahun ini sangat gila akan pekerjaan. Saking asiknya dia bekerja, sampai-sampai dia kerap kali melupakan kekasihnya sendiri, Fauzi merasa diacuhkan.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, jelas semua karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Salsa masih saja bertahan di depan komputernya untuk mempersiapkan presentasinya minggu besok. Sejak tadi Fauzi berdiri di depan meja kerjanya, tapi Salsa sama sekali tidak mengetahui keberadaannya. Dia masih fokus menatap layar komputer, membuat Fauzi kesal.
“Ehemmm ....” mendengarnya membuat Salsa langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Fauzi. Salsa pun melempar senyum polosnya.
“Sejak kapan datang?” tanya Salsa.
“Dari tadi, kamu sibuk banget sih, bikin apa?” tanya Fauzi sambil berjalan menghampirinya dan duduk disebelahnya.
“Senin besok 'kan aku presentasi Yank, jadi aku harus mempersiapkan semuanya,” jawab Salsa dan kembali konsentrasi menatap komputernya. Hal inilah yang sangat tidak disukai oleh Fauzi, sifat Salsa yang selalu gila akan pekerjaan.
Fauzi menarik kursi Salsa dan menghadapkannya ke arah dirinya. Salsa kaget dan menatap Fauzi dengan heran.
“Apalagi yang harus kamu persiapkan? Semua 'kan sudah tersusun rapih, sayang. Nyadar ga kamu seminggu ini sama sekali ga punya waktu untuk aku?”
__ADS_1
“Aku cek dari awal lagi sayang, takutnya 'kan ada yang salah. Sabar ya!” Salsa kembali menggeser kursi yang didudukinya ke depan komputer, tapi lagi-lagi Fauzi menarik kursinya.
Kali ini jarak keduanya cukup dekat sekali, membuat jantung Salsa seketika berdebar. Kedua mata mereka saling memandang, perlahan Fauzi mendekatkan wajahnya, dan dengan cepat Salsa menutup bibir manisnya dengan tangannya. Hal itu membuat Fauzi mengehentikan niatnya yang ingin mencium bibir manis kekasihnya. Fauzi tersenyum, dia mengusap lembut rambut panjang Salsa dan mengecup keningnya. Ini pertama kalinya Fauzi mencium Salsa walaupun hanya di keningnya, membuat gadis cantik itu mematung karena kaget.
“Ya udah kamu lanjut, aku nunggu disini sampai kamu beres,” ucap Fauzi mendorong kembali kursinya sampai menghadap ke komputer.
Fauzi meraih ponsel yang ada di meja depannya dan memainkannya, sedangkan Salsa masih mematung di kursinya. Jantungnya sangat berdebar dengan kencang, dia tidak menyangka Fauzi akan menciumnya. Sesekali Salsa melirik sedikit ke arah Fauzi yang sedang memainkan game kesukaannya, dia melihat Fauzi yang bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan dirinya, tubuh yang seketika menjadi panas, jantung yang tidak henti-hentinya berdebar, dan juga badannya yang kaku untuk digerakkan.
Cih ... mungkin dia sering melakukannya dengan wanita lain, makanya dia bersikap biasa aja, kesal Salsa sambil melanjutkan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.30, Salsa pun belum selesai mengerjakan kerjaannya.
“Sayang ....” panggil Fauzi yang tiba-tiba menarik kursinya duduk dibelakang Salsa. Dia memeluk pinggang kekasihnya dan meletakan dagunya di senderan kursi Salsa.
“Emmm ....” jawab Salsa singkat. Kali ini bukan jantungnya aja yang berdebar, tapi seluruh tubuhnya pun merasakannya.
Hari ini dia kenapa? batinnya bertanya-tanya.
“Laper, udahan yuk! Kamu emangnya ga laper?” Salsa melepaskan pelukannya dan membalikkan kursinya menghadap fauzi.
“Ya udah kita pulang sekalian cari makan ya. Aku beresin dulu ini,” ucap Salsa sambil berdiri membereskan berkas-berkas yang tergeletak di meja kerjanya.
“Ki-Kita lanjut ya yank, katanya tadi laper?” tanyanya dengan terbata. Fauzi tersenyum nakal, dia melangkahkan kaki maju sampai keduanya tak ada jarak lagi. Fauzi merasa sangat senang sekali menggoda kekasihnya. Dia tahu sekarang Salsa merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini, tapi Fauzi tetap ingin sekali menggoda Salsa.
“Zi, kita di kantor!” ucapnya pelan tertunduk, karena wajah Fauzi yang sudah mendekat.
“Emang kenapa? Toh semua orang sudah pulang.”
“Tapi 'kan ada kamera, Zi.” Fauzi mengangkat wajah Salsa, keduanya saling menatap. Seolah-olah tidak mendengar perkataan Salsa, Fauzi tetap mendekatkan wajahnya. Jantung Salsa seakan berlari dengan kencang. Dia menutup wajahnya ketakutan membuat Fauzi tertawa puas melihatnya. Kembali Fauzi mencium keningnya. Salsa membuka matanya perlahan menatap Fauzi kesal karena menertawakannya.
“Aku ga akan sentuh bibir kamu kalau kamunya ga mau, sayang. Ya udah kita cari makan yuk! Udah malem juga.” Salsa tersenyum mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak tadi Alaric melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Dia berniat untuk menjemput Ana di tempat kerjanya. Setelah makan malam, Alaric langsung mengambil kunci mobilnya dan pamit pada Rendra dan Riana. Kedua orang tuanya saling pandang melihat kelakuan Alaric yang berbeda akhir-akhir ini.
__ADS_1
“Sayang, anak kita kayanya lagi jatuh cinta ya?” tanya Rendra pada istrinya saat Alaric sudah pamit pergi.
“Mungkin,” jawab Riana dengan wajah yang masam sambil membereskan piring di meja makan. Rendra berdiri dan memeluk istrinya dari berlakang, karena dia tahu istrinya sedang memikirkan sesuatu.
“Sayang, kok muka kamu keliatan sedih sih?” tanyanya sambil mencium tengkuknya.
“Yah, bunda ingin sekali mengenalkan Alaric sama wanita yang bunda kenal. Tapi kayanya sekarang ga mungkin deh,” keluhnya. Rendra tersenyum dan membalikkan badan Riana menghadap dirinya.
“Sayang biarkan dia mencari wanita yang dia inginkan. 'Kan kamu sendiri yang bilang ga akan memaksa kehidupan pribadi anak kita.”
“Iya sih. Tapi bunda sangat menyukai wanita itu. Dia mengingatkan bunda dulu. Tapi ya sudahlah, bunda akan mendukung semua keputusan bang Al.” Rendra tersenyum dan mencium kening istrinya.
Disisi lain Alaric sudah standby di depan cafe dua puluh menit sebelum Ana Keluar. Dia menunggu di parkiran sambil memainkan ponselnya. Tidak lama Alaric melihat Satria dengan motor bebeknya parkir di sebelah mobilnya.
Shit!! Ngapain juga dia ikutan jemput, kesal Alaric.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Hai guys ...
bantu Vote Author dong biar author semangat nulisnya hehe..
👍 Like
__ADS_1
💬 Comment
👉 Vote 🍂🍂