
S2 Bab 59
Alaric tertunduk di hadapan Bimo. Jantungnya berdetak tidak karuan, dan keringat dingin mulai bermunculan. Dia hanya diam ketika Bimo mengatakan apa yang selama ini diderita Ana tiga tahun ke belakang. Bimo menceritakan penderitaan Ana akibat ulah Alaric dan teman-temannya. Mendengar itu berhasil membuat Alaric menjatuhkan air mata.
Alaric mencupit kedua matanya, untuk menahan air mata yang terus keluar karena rasa bersalahnya. Melihat Alaric seperti itu, Bimo sudah bisa pastikan kalau dia benar-benar mencintai Ana. Bimo sengaja ingin melihat reaksi Alaric ketika dia menceritakan penderitaan Ana selama ini, dan Bimo pun merasa puas dengan reaksinya.
“Jadi kamu masih mau mengejar anak saya?” pertanyaan itu sengaja dia ajukan untuk melihat seberapa besar keberanian Alaric mendekati Ana setelah tahu dia sudah menyakiti Ana begitu dalam.
“Saya akan menebus semua penderitaan Ana dengan kebahagiaan, Pak. Izinkan saya untuk membahagiakan dia,” ucap Alaric dengan sangat lantang tanpa ragu-ragu. Bimo tersenyum mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Alaric akan mengatakan itu. Bimo mengira Alaric akan mundur karena rasa bersalahnya, tapi ternyata tidak.
“Kamu yakin?” Alaric membenarkan duduknya tegak dan mengatakan, “Sangat yakin, saya akan membahagiakan dia, Pak. Saya janji!”
“Saya tidak ingin melihat anak saya menangis lagi seperti dulu. Dan Saya pegang janji kamu. Jadi kapan?” Alaric mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksud dari ucapan Bimo. Alaric hanya terdiam dengan wajah yang binggung.
“... kenapa? Saya tanya kapan kamu akan melamar anak saya?” Alaric melotot kaget mendengar perkataan Bimo.
“Maksud Bapak? Me-melamar?” tanyanya dengan terbata.
“... secepatnya, Pak. Saya akan membawa kedua orang tua saya bertemu dengan Bapak. Terima kasih, Pak, terima kasih.” Alaric berdiri mencium punggung tangan Bimo dengan senyuman wajah yanh berseri-seri. Bimo ikut tersenyum sambil menepuk pundak Alaric.
Setelah itu, keduanya berbincang masalah keluarga dan juga bisnis Alaric. Bimo merasa bangga dengan Alaric, diusianya yang masih sangat muda, dia menjadi pengusaha sukses. Walaupun perusahaannya bukan dibangun dengan hasil kerja kerasnya, tapi dia berhasil membuat perusahaan itu lebih maju dari sebelumnya.
Bimo tahu betul, perusahaan yang dimiliki keluarga besar Wicaksono. Karena perusahaan Alaric adalah rival perusahaannya. Tapi, dengan hubungan anaknya dan Alaric membuat Bimo merencanakan untuk bekerja sama agar perusahaan keduanya lebih besar lagi.
Ana yang masih harap-harap cemas menempelkan telinganya di pintu kamarnya berharap dia mendengar percakapan papanya dan juga Alaric. Tapi keingintahuannya tidak tercapai. Dia tidak bisa mendengar apapun dibalik pintu kamarnya.
'Tuhan, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?' cemasnya sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.
Cukup lama keduanya berbicang-bincang dan tidak terasa waktu sudah malam. Bimo menyuruh Alaric untuk makan malam di rumah, tapi Alaric menolaknya. Karena sejak tadi bunda Riana terus saja menelepon dirinya. Riana merasa khawatir, karena sekertaris Alaric mengabari Riana kalau seharian ini Alaric tidak datang ke kantor. Bahkan dia meng-cancel semua meeting hari ini. Mendengar itu Riana was-was, pasalnya Alaric tidak pernah sepwrti ini sebelumnya.
“Kamu benar tidak akan makan malam di sini?” tanya Bimo yang mengantarkan Alaric sampai depan rumahnya.
“Tidak, Pak. Terima kasih atas tawarannya. Saya harus segera pulang, soalnya bunda terus menerus meminta saya untuk pulang.”
“Kalau begitu, salam kenal untuk kedua ornag tua kamu ya. Oia ... mau saya panggilkan Ana?”
__ADS_1
“Iya, Pak, pasti saya akan sampaikan sama bunda dan Ayah. Tidak usah, Pak. Titip salam saja buat Ana. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak.” Alaric, mencium tangan Bimo lalu pamit pergi.
Selama di mobil, Alaric terus saja tersenyum. Tidak menyangka ayah angkat Ana begitu baik dan langsung menerima dirinya. Pikiran Alaric sejak tadi ketakutan kalau-kalau Bimo tidak merestui hubungan mereka. Tapi, ternyata dia sangat mendukung hubungan dia dan Ana.
Riana yang sejak tadi merasa khawatir, terus menerus melihat ke arah pintu rumahnya. Dia sedang menunggu anak sulungnya pulang ke rumah. Kabar dari sekertaris Alaric membuat pikiran Riana melayang kemana-mana. Dan Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga.
“Dari mana saja kamu, Bang?” Tanya Riana sambil membantu anaknya mengambil jas yang ada di tangannya. Alaric hanya tersenyum, dan dia menarik bundanya duduk di kursi ruang tamu.
“... ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” kembali Riana bertanya karena rasa cemas dirinya. Alaric tersenyum mengangguk dan itu berhasil membuat bunda kesayangannya mengerutkan kening tidak mengerti dengan arti senyuman dari anaknya.
“Ayah mana, Bun?”
“Ada di dalam. Ada apa?”
“Ada yang mau abang bicarakan sama Ayah dan Bunda.” jantung Riana berdetak tidak karuan. Baru kali ini dia melihat anaknya seserius ini.
“Ada apa sebenarnya, Bang. Apa ada masalah di kantor?” Alaric tersenyum menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah sebentar ya! Bunda panggil ayah dulu sebentar.” Riana pun masuk ke dalam untuk memanggil suaminya yang sedang duduk santai di kamarnya.
“Ada apa, Bun? Keliatannya serius.”
“Entahlah. Ayo, Yah!” Rendra mengangguk. Dia pun mengikuti langkah istrinya menuju ruang tamu.
“Ada apa, Bang? Sepertinya ada masalah di kantor ya? Ayah dengar kamu hari ini membatalkan semua meeting. Ada apa sebenarnya?” Alaric merapihkan duduknya dan mulai mengangkat suara.
Dengan wajah yang nampak serius, Alaric meminta restu pada kedua orang tuanya untuk melamar Ana. Dia juga meminta agar keduanya menemui keluarga Ana sebagai tanda keseriusan Alaric. Riana mendengarnya begitu sangat bahagia. Saking bahagianya dia tidak sadar meneteskan air matanya.
Alaric pun menceritakan yang terjadi hari ini. Alasan dia kenapa tidak berangkat ke kantor dan juga rencana dia untuk melamar Ana. Tanpa pikir panjang kedua orang tuanya langsung menyetujui rencana anaknya. Rendra pun menanyakan kapan mereka harus pergi menemui orang tua Ana. Alaric tersenyum, 'secepatnya' jawaban Alaric atas pertanyaan Ayahnya. Riana pun menghampiri sang anak dan memeluknya dengan erat. Dia mengucapkan rasa syukur dan terima kasih akhirnya impian dia selama ini terwujud sudah.
Di sisi lain Ana terus penasaran dengan situasi di ruang tamu, akhirnya memberanikan diri untuk keluar. Betapa kagetnya dia melihat ruang tamu yang sudah kosong. Dia pun menghampiri papanya yang berada di kamar.
Tok ... tok ... tok ....
“Pa, boleh aku masuk?”
__ADS_1
“Masuklah, Nak!”
“Pa, maaf sebelumnya. Aku mau tanya kemana Alaric? Apa yang Papa bicarakan sama dia?” wajah Ana terlihat sangat tegang dan cemas.
“Papa suruh dia pulang. Dia sudah terlalu menyakiti kamu, Sayang. Dan papa tidak mau hati kamu terus-menerus merasakan sakit.” mendengar itu membuat Ana meneteskan air matanya.
“Tahu apa Papa tentang perasaan aku? Alaric orang baik, Pa. Dan yang terjadi selama ini hanya kesalahpahaman. Aku sangat mencintai dia, Pa,” Ana menangis dan langsung berlari keluar dari kamar papanya.
“Kak, kakak! Ana! Dengarin papa dulu!” Ana tidak menggubris panggilan papanya dan terus berlari masuk ke kamarnya.
“Pa ... papa. Tahu anaknya sensitif, pake dikerjain pula.” Tina menggelengkan kepalanya melihat kelakuan usil suaminya. Bimo hanya tertawa puas sudah berhasil mengerjai anak sulungnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Don't Forget
👍 Like
💬 Komen
🌺 Vote sebanyak-banyaknya
Yang belum follow IG aku, ditunggu Follownya yaa @PENULISMICIN untuk dapatkan info terbaru tentang karya-karya aku...
terima kasih semua...
__ADS_1
Aku Padamu Semuanya ❤️❤️