
S2 Bab 65
Satu bulan adalah waktu yang singkat untuk mempersiapkan sebuah pernikahan yang mewah. Riana juga Tina benar-benar sangat sibuk. Mereka tidak mengizinkan Alaric ataupun Ana untuk terjun mengurus pernikahan keduanya. Keduanya pun hanya bisa pasrah. Impian Ana yang hanya ingin merayakan pernikahan sederhana sepertinya tidak akan terwujud.
Bukan hanya para wanita ini saja yang ingin pernikahan berlangsung dengan mewah, tapi kedua ayah mereka juga. Pasalnya yang akan menikah adalah anak sulung dari keluarga masing-masing, jadi mereka ingin semua kolega-kolega bisnisnya diundang.
Alaric dan Ana bagaikan boneka yang hanya menuruti apa yang diperintahkan. Hari-hari mereka sibuk seperti foto pra-wedding, fiting baju pengantin, perawatan dan yang lain-lain. Keduanya hanya bisa pasrah mengikuti titah sang ibu.
Selesai foto pra-wedding, keduanya mencari makan siang di sana. Karena kebetulan studio tempat mereka melangsungkan pemotretan berada di dalam mall.
“Sayang, habis foto kita ada jadwal lagi nggak?” tanya Alaric.
“Setahu aku enggak ada deh. Kenapa, Yank?”
“Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan persiapan pernikahan kita, sampe ga ada waktu untuk berdua. Aku ingin menghabiskan waktuku hari ini sama kamu.” Ana tersenyum malu. Dadanya masih saja berdebar saat Alaric membicarakan sesuatu tentang mereka.
“Bukannya Abang harus balik lagi ke kantor. Siang nanti ada meeting 'kan?” Alaric lupa kalau memang setelah makan siang ada meeting penting yang tidak bisa ditinggalkan.
“Ah ... benar,” ucapnya lemas sambil membuang nafas kasar.
“Bagaimana kalau minggu kita kencan?”
“Mau kencan gimana, Sayang? Lusa kita 'kan sudah dipingit ---tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba---.” mengingat itu kini Ana yang membuang nafasnya dengan kasar.
Keduanya memang berasal asli dari Jakarta, tapi keluarga besar mereka dari Jawa, dan masih sangat kental sekali memakai adat itu. Sebenarnya Alaric tidak percaya dengan adat istiadat seperti itu, tapi dia menghargai keinginan orang tuanya.
“Aku lupa kalau pernikahan kita sebentar lagi. Ya sudah kita kencannya setelah nikah aja, gimana?” Alaric tersenyum nakal, membuat Ana mengerutkan keningnya.
“... kenapa senyumnya gitu?” tanya Ana heran.
“Kalau nanti, kita kencannya di dalam kamar aja, enggak usah kemana-mana,” bisik Alaric. Ana yang mendengarnya merinding sebadan-badan. Dia pun berdiri melangkah meninggalkan Alaric yang masih tertawa puas melihat reaksi calon istrinya.
'Cih ... punya calon suami pikirannya mesum mulu,' gumamnya kesal.
“Sayang, tunggu!” teriak Alaric, tapi Ana dengan sengaja mempercepat langkahnya.
...----------------...
Tidak mau kalah dengan Alaric, Krisna juga memberanikan diri bicara terlebih dahulu pada orang tuanya untuk mendukung dan merestui dirinya melamar Aulia. Desi dan Didit yang mendengarnya sangat bahagia, karena sejak dulu memang mereka ingin anaknya segera menikah.
__ADS_1
Mendapat restu dan dukungan dari kedua orangtuanya, Krisna memberanikan diri untuk meminta restu pada kedua orangtua Aulia. Melihat niat baik Krisna, Sonia dan Eki pun merestuinya. Mendengar kabar itu, kini kedua keluarga saling bertemu. Mereka tidak menyangka akan menjadi besan, pasalnya mereka sudah terikat keluarga dari pernikahan Riana dan Rendra.
Selama pertemuan, mereka pun langsung mencari tanggal yang cocok untuk pernikahan Krisna dan Aulia. Rencananya pernikahan akan dilangsungkan setelah pernikahan Alaric dan Ana berlangsung. Masih memakai adat Jawa, tidak boleh ada pernikahan saudara di tahun yang sama, itu artinya pernikahan akan berlangsung di tahun depan tepatnya lima bulan dari sekarang.
Akhirnya mereka pun memutuskan akan melangsungkan pernikahan di awal tahun depan. Karena niat baik itu harus segera dilaksanakan. Sepeti halnya Ana dan Alaric, Aulia dan Krisna pun mematuhi semua yang sudah direncanakan kedua orangtua mereka.
Setelah pertemuan, Aulia dan Krisna memilih untuk tidak pulang mengikuti orang tua mereka, Karena malam ini mereka berencana berkumpul bersama sepupu keduanya.
“Sayang, aku enggak nyangka kalau kita juga akan menikah. Aku nggak sabar menunggu hari itu, karena ini impianku sejak dulu,” ucap Krisna.
“Aku lebih enggak nyangka kalau acara lamaran kamu hanya bertemu kedua orangtua dan selesai,” sindir Aulia dan berhasil membuat Krisna tertawa.
“Lah ... Yank! 'kan kamu yang minta. Katanya kalau aku kaya bang Al, kamu merinding. Gimana sih?”
“Ya ... tapi 'kan nggak gini juga, Bang. Bawain bunga atau apa kek gitu, masa nggak ada romantis-romantisnya dikit sih,” kesal Aulia. Krisna hanya tersenyum mendengar ocehan dari calon istrinya.
Akhirnya keduanya sampai di cafe tempat biasa mereka berkumpul. Aulia merasa aneh, karena tidak seperti biasa, parkiran cafe selalu penuh setiap malam hari, tapi malam ini tampak sepi. 'Ah ... mungkin lagi tidak ada pengunjung,' pikirnya.
“Yank ... Sayang ....” panggil Krisna yang membuyarkan lamunanya.
“Ah ... iya, Bang”
“Kamu masuk duluan aja, aku mau telepon temen kantor dulu.” Aulia pun mengangguk. Setelah melihat Aulia masuk ke dalam cafe, dengan cepat Krisna masuk ke dalam melalui pintu belakang, sebelum Aulia sampai terlebih dahulu.
Ya ... Krisna berniat untuk memberikan surprise pada Aulia, karena sejak kemarin dia selalu saja membicarakan tentang lamaran yang romantis. Dia tidak pernah meminta itu pada Krisna, karena dia tahu kalau Krisna bukan orang yang romantis seperti yang dia pikirkan. Tapi, Krisna mengerti kalau sebenarnya Aulia menginginkan lamaran yang romantis seperti Alaric dan Ana.
Memang sengaja hari itu cafe ditutup sementara. Dibantu yang lainnya, dia menyulap cafe menjadi seromantis mungkin.
*Foto diambil dari Pinterest
Krisnya pun berdiri tepat di tengah-tengah kelopak bunga mawar, sambil memegang seikat bunga mawar putih kesukaan Aulia. Dengan nafas yang ngos-ngosan dia merapihkan jasnya dan berdiri tegak tersenyum menunggu kedatangan Aulia.
Saat memasuki cafe, Aulia tampak heran karena semua tampak gelap tidak seperti biasanya. Tapi dia terus melangkah dan masuk ke dalam. Semua lampu dinyalakan ketika Aulia sudah berada dalam. Seketika dia berdiri mematung di depan Krisna. Dia tidak percaya kalau Krisna melakukan semua ini untuknya.
Musik pun perlahan mulai berbunyi. Krisna mangangkat mic yang ada di tangan kirinya. Dia membawakan lagu dari badai romantic project yang berjudul 'melamarmu'. Krisna hanya menyanyikan bagian reff-nya saja.
......Jadilah pasangan hidupku......
__ADS_1
...Jadilah ibu dari anak-anakku...
...Membuka mata dan tertidur di sampingku...
...Aku tak main-main...
...Seperti lelaki yang lain...
...Satu yang kutahu...
...Kuingin melamarmu...
Aulia tidak bisa menahan tangis. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Krisna menyiapkan semua ini untuknya. Krisna pun melangkah maju, dan menarik tangan Aulia untuk masuk ke dalam love yang dibentuk dari kelopak bunga mawar itu. Dia pun berlutut di depan Aulia sambil menyerahkan bunga mawar putih itu untuknya.
“Sayang, maukah kamu jadi ibu dari anak-anakku?” Aulia mengangguk tersenyum, dia pun mengambil bunga itu dari tangan Krisna.
Suara tepukan dari keempat saudaranya meramaikan suasana. Krisna tersenyum, dia pun berdiri dan memeluk kekasihnya. Aulia pun masih belum bisa menghentikan tangisnya.
“Udah dong, jangan nangis,” lirih Krisna.
“Cih ... kamu jahat.” dia memukul pelan dada Krisna dan menyambut pelukan kekasihnya dengan erat.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Don't Forget
👍 Like
__ADS_1
💬 Komen
🌺 Vote sebanyak-banyaknya biar Author tambah semangat lagi UP novelnya...