
S2 Bab 89
Keesokan harinya, sesuai yang diucapkan Riana, kedua pasang pengantin yang masih dibilang baru ini pun oindah ke rumah mereka. Berat sebenarnya hati Riana saat melepas anak sulungnya keluar dari rumah yang hampir 30 tahun di tempatinya bersama dengan Alaric.
Pastinya semua keluarga ikut Alaric dan Ana pada saat hari pertama mereka pindah di rumah yang tergolong gedong itu. Ini juga sebagai ajang kumpul keluarga yang sangat langka terjadi. Suasana tampak ramai dengan kehadiran Fasya, gadis cantik dan imut yang kini berusia tiga tahun dan juga baby piw yang usianya kini sudah satu tahun dan baru mulai belajar berjalan.
Fasya terus menempel pada papinya alias Alaric. Melihat kedekatan Fasya dan Alaric membuat Ana merasa iri. Dia juga ingin mempunyai anak dan dekat dengan suaminya. Entah kenapa melihat Salsa dan juga Intan membuat dia merasa bukan wanita yang seutuhnya. Melihat wajah Ana yang tidak seperti biasanya membuat Alaric menyadari bahwa istrinya sedang merasa sedih.
“Fasya, kita samperin Mami yuk! Terus Fasya ajak ngobrol Mami biar enggak sedih,” lirih Alaric pada Fasya yang berada dalam pangkuan.
“Papi, memangnya Mami kenapa? Kok mami sedih?”
“Emmm ... Mami sedih soalnya harus berpisah sama Nenda ---Nenda adalah panggilan untuk Riana. Panggilan itu sebenarnya adalah nenek bunda yang disingkat menjadi Ninda---.” mendengar itu Faysa mengangguk dan segera menghampiri Ana yang sedang duduk bersama dengan Aulia, Intan dan Salsa.
“Mami, sini deh!” ucap Fasya dan Ana pun mendekatkan telinganya padan mulut gadis cantik itu. Entah apa yang dikatakan Fasya membuat Ana mengangguk dan pamit pada semuanya mengikuti langkah kaki Fasya.
Fasya menarik tangan Ana dan menghampiri Alaric yang sedang menunggu keduanya.
“Ada apa, Bang?” tanya heran Ana.
Alaric dan Fasya kemudian menarik tangan Ana ke tempat yang memang belum sempat dilihatnya. “Bukalah!” ucap Alaric. Dan sesuai perintah suaminya, Ana membuka pintu ruangan yang berada tidak jauh dari taman belakang. Betapa kagetnya Ana saat melihat sebuah kamar yang sudah di dekor lengkap untuk kamar anak.
Ana melangkah masuk dan melihat sekeliling sambil tersenyum haru.
“Sayang, kapan kamu menyiapkan ini?” tanya Ana bingung. Alaric menghampirinya dan berbisik ditelinganya, “Sebelum aku membeli rumah ini, aku sudah merencanakan kamar anak kita. Entah itu perempuan atau laki-laki aku sudah menyiapkannya.” mendengar itu Ana merasa kaget, karena yang dia masuki adalah kamar anak perempuan, karena dilihat dari dekorasi ruangan yang semuanya serba pink.
“Maksud kamu, Sayang? Jadi kamar anak bukan hanya satu saja?” Alaric tersenyum mengangguk dan langsung menarik tangan Ana. Dia memperlihatkan kamar sebelahnya yang semua dekorasinya serba biru.
__ADS_1
Ana tidak menyangka kalau suaminya akan sedetail ini menyiapkan semua keperluan bayi perempuan maupun bayi laki-laki. Yang dia tahu kalau suaminya tidak suka belanja terutama membeli pakaian.
“Sayang, anak kita 'kan nanti enggak akan mungkin tidur terpisah dari kita. Menurutku semua ini sangat berlebihan. Terus, ngapain langsung bikin dua kamar, Sayang?” ucap Ana sambil tertawa. Alaric yang melihatnya langsung memasang wajah sedih sambil memeluk Fasya yang ada di gendongannya.
“... Sa-sayang, bukan maksudku membuat kamu sedih, tapi ....”
“Aku tahu kok, Yank. Sebenarnya aku hanya ingin membuat kejutan kecil ini untukmu, karena aku juga sedih melihat kamu selalu tampak muram. Maafkan aku!”
Ana tersenyum dan berjalan menghampiri dirinya. Dia memeluk tubuh suaminya dari belakang, “Aku sangat menyukainya, Sayang. Dan aku berharap kalau kelak anak kita langsung kembar agar tidak sia-sia kamu membuat dua kamar untuk anak kita.” Alaric tersenyum mengangguk, merangkul istrinya dan mencium keningnya.
Hari semakin larut dan semua orang pun pamit pulang. Kini Ana dan Alaric benar-benar merasakan tinggal bersua setelah hampir enam bulan pernikahan mereka. Sebenarnya ada rasa kehilangan bagi Ana, karena biasanya jam segini dia selalu sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Alaric saa t kwluar dari kamar mandi menghampiri Ana yang tampak sedih.
“Aku merasa kehilangan aja, Sayang.” Alaric tersenyum dan merangkul istrinya, “Inj hanya awal-awal, Sayang. Nanti juga kita terbiasa hidup jauh dari orang tua. Oia, kita belum makan malam, bagaimana kita makan di luar?”
“Kalau kamu tidak merasa capek boleh saja. Lagi pula sebenarnya aku juga ingin memakan masakan kamu.” Ana tersenyum dan langsung bergegas pergi ke dapur.
Rumah keduanya tampak begitu luas, dengan dilengkapi sebuah taman belakang juga kolam renang. Selama istrinya memasak, Alaric berkeliling-keliling rumahnya. Dia merasa kalau Ana tidak bisa membersihkan semua ini sendirian. Alaric pun berencana untuk mempekerjakan asisten rumah tangga.
Setelah berkeliling rumah, dia menghampiri Ana di dapur. Betapa anehnya dia saat melihat Ana yang hanya duduk dan tidak mengolah bahan-bahan makanannya. Melihat itu Alaric bergegas menghampiri istrinya.
“Sayang, kamu kenapa?” Ana tertundul sambil memegangi keningnya.
“Sayang, tiba-tiba pandanganku gelap dan kepalaku sangat pusing sekali.”
Alaric mengangkat wajah Ana dan menyuruhnya untuk membuka matanya.
__ADS_1
“Sayang, apa sekarang kamu melihatku?” tanya Alaric khawatir. Ana yang perlahan membuka matanya mengangguk pelan.
“... syukurlah!” Alaric langsung memeluk tubuh Ana.
“Tapi kepalaku masih sangat pusing, Sayang. Sepertinya aku tidak bisa memasak malam ini.”
“Lupakan itu! Sekarang kita ke dokter ya, sekalian kita mencari makan di luar.” Ana mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
🌺Vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Happy Reading ❤️❤️❤️