
S2 Bab 67
*Gambar diambil di google
Alaric sudah duduk di tengah-tengah gedung untuk melakukan ijab kabul. Saking gugupnya, jantung Alaric berdetak tidak karuan. Semua orang sudah bersiap di posisi masing-masing. Ana yang ditemani Intan juga Aulia sudah berdiri di ambang pintu menunggu panggilang pihak panitia wedding organizer.
Seketika suasana gedung tampak hening. Alaric pun mulai mengucapkan janji suci dirinya, disaksikan kedua orangtua dia dan juga orangtua Ana. Dengan lantang dan lancar, alaric mengucapkan ijab kabul. Semua orang mengucap syukur saat wali hakim mengatakan 'SAH' untuk pernikahan dia.
Diiringi musik klasik, Ana dituntun oleh kedua sepupunya berjalan masuk ke dalam gedung. Bukan hanya Alaric yang terpana dengan kecantikan Ana, tapi orang-orang yang berada di dalam gedung pun terpana oleh kecantikan yang terpancar di wajahnya.
Saat sampai di tengah-tengah berada bersama Alaric, keduanya mengikuti arahan dari panitia. Tim photographer sudah bersiap diposisi mereka masing-masing, untuk mengabadikan momen yang hanya terjadi satu kali seumur hidup itu. Alaric kemudian memakaikan cincin pernikahan, dan lanjut mencium kening wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Selanjutnya Ana mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda, kalau seorang istri harus tunduk patuh atas perintah suaminya.
Setelah itu, kedua mempelai harus melakukan tradisi sungkeman sebagai tanda terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan mereka. Di kursi mempelai, kedua orang tua Ana dan Alaric duduk untuk menunggu kedatangan dirinya, tidak lupa juga Ibu Sarah ikut bersama dengan mereka, karena dia sudah seperti ibu kandung Ana sendiri.
Alaric menuntun istrinya berjalan menuju panggung pengantin. Keduanya pun berlutut, menunduk sambil mencium tangan satu-persatu punggung tangan dari para orangtua. Diiringi lagu dan juga kata-kata sedih dari pembawa acara, membuat kedua pengantin ini tidak bisa menahan rasa harunya. Terutama Ana yang sejak tadi terus meneteskan air matanya.
Kini giliran Alaric bertemu dengan Bimo, “Jaga anak papa ya, Bang! Walaupun bukan anak kandung papa, tapi dia melebihi apapun yang ada di dunia. Jangan biarkan air mata menetes di pipinya ya! Kalau sampai itu terjadi, lisensi izin kamu menyentuh Ana, papa tarik sementara,” bisik Bimo sambil memeluk menantunya. Alaric yang mendengar perkataan dari mertuanya seketika tertawa. Dia tidak bisa berjanji untuk tidak membuat Ana menangus, tapi dia akan berusaha sepenuh hatinya membahagiakan Ana. sampai akhir hayatnya. Mendengar itu membuat Bimo merasa tenang dan tidak salah telah memberikan anaknya pada Alaric.
Dan giliran Ana mencium punggung tangan Riana, “Nak Ana, titip Abang Al ya. Kalau dia nakal kamu boleh jewer dia. Kadang dia suka bandel, jadi bunda harap kamu yang sabar dengan sikapnya. Bahagia selalu ya, Nak! Doa bunda selalu menyertai kalian berdua,” lirih Riana sambil memeluk Ana. Sejak tadi Ana tidak berhenti menangis, Riana yang melihatnya ikut menangis dan tersenyum padanya.
“Sudah, jangan nangis lagi! Ini adalah hari bahagiamu, Nak. Tersenyumlah!” Ana mengangguk tersenyum.
Setelah segala prosesi adat telah dilakukan, Kedua mempelai pun dibawa oleh tim rias untuk mengganti pakaian mereka. Warna baju gold, membuat keduanya tampak terlihat cerah dan elegan. Kecantikan Ana pun semakin terpancar, dan itu membuat Alaric tidak henti-hentinya menatap istrinya.
Alaric pun mendekati Ana dan terus menatapnya sambil tersenyum. Menyadari itu, tim rias pun keluar ruangan dan menunggu keduanya di depan pintu. Alaric terus menatap istrinya, membuat Ana merasa malu.
__ADS_1
“Ngapain sih lihatnya kaya gitu?” lirih Ana sambil menunduk.
Alaric mengangkat wajahnya,“Kamu sangat cantik, Sayang, sehingga aku tidak bisa melepas pandanganku darimu. Sayang, kamu sekarang istriku dan miliku selamanya. Jangan harap kamu bisa pergi lagi dari hidupku.” Alaric pun mengecup bibir manis Ana untuk yang pertama kalinya.
Selesai mengganti pakaian, keduanya kembali ke kursi pengantin. Kini suasana gedung lebih ramai dibanding tadi sebelum mereka mengganti baju. Para tamu undangan sudah mulai datang satu persatu dan juga menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Foto-foto pra-wedding keduanya, menghiasi hampir disetiap sudut gedung. Suasana yang mewah membuat semua orang terasa nyaman berada di sana. Senyum yang terpancar di wajah kedua mempelai membuat semua orang dapat merasakan rasa bahagia mereka.
Suara musik dari salah satu artis ibu kota membuat suasana kian ramai. Hampir 2000 undangan yang disebar menghadiri acara pernikahan mereka. Alaric yang melihat istrinya kelelahan, karena menggunakan hak tinggi, menyuruh panitia untuk membawanya istirahat. Tapi, Ana menolak dan memilih untuk istirahat duduk di kursi pengantin.
Alaric yang melihat kedatangan Citra melemparkan senyumannya. Dia pun memberitahukan kepada istrinya kedatangan Citra. Ana sudah mendengar cerita tentang Citra dari Alaric, mendengar itu Ana langsung berdiri dan ikut tersenyum menyambutnya.
“Terima kasih, Cit, kamu datang,” ucap Alaric menyambutnya.
“Aku sudah berjanji, pasti akan ku tepati. Ini pasti Ana. Hai ... aku Citra,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Ana membalas senyumannya dan menyambut uluran tangan Citra.
“Wah ... kamu ternyata jauh lebih cantik dari bayangan aku. Pantes saja Alaric sungguh tergila-gila padamu,” puji Citra.
“Kamu juga enggak kalah cantik kok.”
“Oke ... aku sekalian mau pamit ya. Yang rukun dan bahagia ya kalian. Emm ... kalau main ke Malaysia, hubungi aku. Kita bisa berjumpa di sana.” Alaric mengangkat kedua jempolnya dan berterima kasih, karena sudah menyempatkan datang pada acara pernikahannya.
“Dia cantik dan sepertinya baik,” lirih Ana dengan tatapan masih melihat punggung Citra.
__ADS_1
“Ya ... dia sangat baik,” lanjut Alaric.
Kembali keduanya menyambut para tamu undangan yang datang. Banyak dari teman kuliah mereka datang dan mereka tidak menyangka kalau keduanya benar-benar akan berjodoh. Hari itu bagai reuni, karena mereka akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman lama setelah tiga setengah tahun berpisah.
Akhirnya acara pernikahan yang sangat mewah itu selesai juga. Bukan hanya kedua mempelai yang terasa capek, tapi seluruh keluarga merasakan hal yang sama. Rasa capek mereka tidak sebanding dengan kebahagiaan yang luar biasa untuk hari ini. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Alaric dan Ana sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bulan madu mereka besok. Keduanya memilih bulan madu di Bali, karena memang sejak dulu Ana ingin sekali pergi liburan ke sana. Rasa lelah yang teramat luar biasa membuat keduanya langsung tertidur lelap, dan menunda malam pertama mereka.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
👍Like
💬 Komen
🌺 Vote
Jangan lupa follow IG @PENULISMICIN. Di sana kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author.
Terima kasih buat kalian yang sudah mengikut karya Author.
__ADS_1