Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 52


__ADS_3

Riana harus menelan kenyataan pahit, kalau dia bisa pulang tanpa anaknya. Baby Alaric masih harus menerima perawatan medis, karena perkembangan paru-parunya yang belum optimal. Walaupun begitu Riana harus tiap hari memberikan ASI-nya kepada anaknya.


Setiap hari Riana melakukan pumping ASI buat jagoannya. Sedih sebenarnya dia tidak bisa menyusui anaknya secara langsung. Sudah berjalan empat hari usia Alaric, tapi Riana belum sama sekali menggendong tubuh mungilnya pada saat dirinya pergi ke rumah sakit untuk memberikan ASI. Saat di rumah sakit, Riana pasti menyempatkan diri untuk melihat keadaan bayinya, walau hanya lewat kaca.


Air matanya selalu terjatuh, disaat dia melihat tubuh mungil anaknya yang masih berada di dalam incubator. Beruntungnya dia mempunyai suami yang selalu membuat dirinya tegar dan bersemangat.


“Segera urus semuanya ke pengadilan, saya mau mereka dihukum seberat-beratnya.” ucap Rendra di dalam telepon genggamnya. Riana yang mendengarnya merasa kaget, dia langsung menghampiri suaminya.


“Mas, maksud kamu dengan pengadilan apa?” tanya Riana, karena memang sampai sekarang dia tidak mengetahui tentang tuntutan Rendra pada keluarga Ferdi.


“Kamu ga perlu tau. Aku akan mengurus semuanya,”


“Ga bisa Mas, aku harus tau. Kamu mau menuntut keluarga Ferdi 'kan?”


“Bukannya sudah seharusnya mereka mendapat hukuman?”


“Mas, aku ga mau masalah ini menjadi panjang. Masalah anak kita yang masih dirawat aja belum selesai. Maafkanlah mereka Mas, Tuhan aja maha pemaaf, kenapa kita tidak?” Rendra tetap diam sambil memandang anaknya.


Sebenarnya Rendra sangat sakit hati dengan mantan kakak ipar istrinya. Dia tidak bisa menerima kejadian empat hari lalu yang menimpa anak dan istrinya. Riana terus berusaha memohon pada sang suami untuk tidak membawa masalah ini kejalur hukum. Dia tidak mau semuanya akan semakin rumit.


“Mas, please!” Riana memohon pada suaminya sambil memeluk tubuhnya. Rendra tidak bisa kalau tidak menuruti sang istri, terlebih sang istri memasang wajah memelas padanya.


“Ya udah, aku kabari Didit dulu untuk membatalkan gugatan kita.” Riana tersenyum mengangguk.


Sambil menunggu Rendra yang sedang menelepon, Riana kembali menatap anaknya. Bayi mungil itu mengerakkan badannya, membuat Riana sangat ingin memeluk dan mencium anaknya.


**♥️♥️**


“Siapa Dit?” tanya Desi.


“Rendra. Dia menyuruh aku membatalkan gugatan terhadap keluarga Ferdi,”

__ADS_1


“Loh ... kok gitu? mereka harus mendapatkan hukumannya dong, yank,”


“Ini atas perintah adik kamu, sayang. Dia tidak mau masalah diperpanjang lagi. Cukup secara kekeluargaan aja. Aku salut sama adik kamu, dia tidak pernah sama sekali menyimpan dendam pada siapa pun,”


“Termasuk padaku. Ya ... dia sangat mirip dengan Alm.Ibu. Mempunyai hati yang tulus dan sifatnya seperti malaikat. Dia tidak pernah mengeluh hidup dengan pas-pasan, ga seperti aku.” Desi tertunduk menyesal. Didit langsung menariknya dalam pelukannya.


“Kamu wanita yang hebat dimata aku, sayang.” Desi menyambut pelukan Didit sambil tersenyum bahagia. Dia sangat bersyukur bisa dipertemukan kembali dengannya.


Sesuai yang diperintahkan Rendra, Didit langsung menelepon temannya yang seorang pengacara. Dia menyuruh pengacara tersebut untuk membatalkan gugatan dan menyelesaikan secara kekeluargaan. Beruntungnya berkas gugatan mereka belum masuk ke pengadilan. Karena, akan sangat sulit membereskannya kalau berkas itu sudah masuk kesana.


Mendengar berita dari pengacara Rendra, keluarga Ferdi sangat bersyukur. Berulang kali mereka mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf kepada Rendra dan keluarganya. Permohonan maaf itu pun sudah disampaikan ke Rendra dan keluarganya.


**Kediaman Wicaksono**


Ratih menyuruh semua anaknya untuk berkumpul dirumahnya, termasuk Didit dan Desi yang sudah dia anggap anaknya sendiri. Mereka tinggal menunggu Rendra dan Riana yang sedang dalam perjalanan dari rumah sakit. Saat sampai di rumah orang tuanya, Rendra dan istrinya langsung masuk ke dalam. Dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh ibunya.


“Hai semua.” sapa Rendra yang baru memasuki rumah, dan langsung bergabung dengan keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga.


“Dia sangat sehat, Bu. Kata dokter besok Alaric sudah bisa dibawa pulang ke rumah.” mendengar itu semua tampak merasa bahagia. Akhirnya cucu pertama keluarga Wicaksono bisa pulang ke rumah.


“Mas, besok nginep disini ya! aku ingin sekali dekat dengan baby Al.” Rendra langsung melirik ke istrinya untuk meminta persetujuan, dan Riana tersenyum mengangguk menjawabnya. Semuanya pun tampak senang.


“Ngomong-ngomong, ada acara apa nih kita kumpul?” tanya Rendra.


Ratih dan Prabu mulai duduk di tengah-tengah anak-anak mereka. Dia melirik suaminya untuk memulai.


“Karena semua anak-anak ayah sudah kumpul, ayah mau ngasih pengumuman sedikit untuk kalian. Yang pertama, mulai bulan depan Eki akan menggantikan posisi ayah di perusahaan pusat. Ayah sudah ingin pensiun dan menikmati kebersamaan ayah bersama anak dan cucu. Yang kedua, Rendra tetap memimpin perusahaan dan dibantu oleh Didit yang akan menggantikan posisi Eki nanti. Yang ketiga biar Ibu yang akan mengumumkannya.” mendengar apa yang dikatakan prabu, Eki kaget. Dia tidak menyangka akan memegang perusahaan sendiri.


“Karena Sonia sudah mengandung. Seperti yang di lakukan Eki dulu, saat Riana sudah mengandung. Ibu mau Didit segera melamar anak perempuan ibu.”


Desi kaget mendengar perkataan mertua dari adiknya. Dia tidak menyangka kalau kedua orang Rendra menganggapnya sebagai anak mereka. Dia terharu dengan ucapan Ratih untuknya. Ratih yang melihat Desi menangis, langsung menghampirinya dan merangkul tubuhnya.

__ADS_1


“Kamu sudah menjadi anak Ibu, sama halnya seperti Riana. Dan Ibu juga menginginkan kebahagiaan kamu, sayang.” Desi sangat bersyukur dan memeluk tubuh Ratih. Dia merasakan kehangatan yang selama ini dia rindukan. Kehangatan dan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu. Ratih tersenyum dan menyambut pelukannya. Semua orang yang melihatnya terharu bahagia, terutama Riana. Dia benar-benar bersyukur pada Tuhan, karena telah mengirimkan keluarga yang penuh dengan kehangatan. Rendra yang melihat istrinya menangis, merangkulnya dan mencium keningnya.


“... Jadi gimana, Dit? kapan kamu bakal ngelamar anak Ibu?” tanya Ratih pada Didit.


“Sejak dulu Didit udah siap, Bu. Didit tinggal menunggu jawaban Echi menerima Didit,” jawabnya dengan lantang dan percaya diri.


“Cih ... kapan kamu ngelamar aku coba?” tanya Desi mengundang tawa semuanya.


“Tiap hari sayang, kamunya aja ga pernah anggap aku serius,”


“Makanya Bro, ngelamar cewek itu harus romantis,” ucap Eki.


“Emang Abang, romantis?” tanya Sonia pada suaminya dan kembali mengundang tawa semuanya.


“Yah, Bu, Didit serius sama Echi, dan sebagai bukti keseriusan Didit sama Echi, besok Didit dan keluarga akan datang ke sini melamar Echi.” mendengar itu Desi langsung melirik ke arah kekasihnya. Didit hanya melempar senyumannya.


“Oke, kalau begitu besok kita semua akan kembali berkumpul, bersamaan dengan datangnya Alaric ke rumah ini.” semua tampak tersenyum bahagia.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa Like, Komen, dan Vote sebanyak-banyaknya yaaa....

__ADS_1


Terimakasih....


__ADS_2