Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 7


__ADS_3

Sejak kelas usai, Gibran, Krisna dan Intan mencari keberadaan Alaric. Tidak seperti biasanya dia menghilang begitu saja tanpa berkumpul terlebih dahulu dengan mereka.


“Bang Al kemana sih? Kok ga keliatan batang hidungnya hari ini. Gue 'kan kangen,” ucap Intan sambil menikmati minumannya di cafe milik Gibran. Mendengar perkataan Intan membuat Gibran sedikit cemburu, karena apapun usaha dia mendekati Intan, tapi Intan tidak sama sekali menyadari perasaannya.


“Ngebet banget lo kak sama bang Al,” timpal Krisna sambil memainkan game yang ada di ponselnya.


“Jelas lah, siapa sih yang ga penasaran sama bang Al? Semenjak gue kenal sama dia, sedikitpun gue ga pernah liat bang Al dekat dengan siapapun. Dan itu yang membuat gue penasaran.” mendengar itu sedikitnya Gibran merasa senang, karena menurutnya, Intan seperti itu pada sepupunya hanya sekedar rasa penasaran semata.


**♥️♥️**


Rasa kesal Salsa membuat dia tidak mau mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Fauzi. Dia sudah terlanjur kesal pada sahabatnya itu.


“Dasar laki-laki semua sama. Dengan gampangnya bilang suka dan lupain gitu aja. Untung gue belum bilang kalau gue juga suka sama dia,” Salsa terus mengomel selama perjalanan pulang menuju rumah ibunya.


Sampai di kediaman ibunya Desi, dia bergegas masuk ke dalam. Rasa lelahnya membuat dia ingin sekali segera merebahkan tubuhnya.


“Sore, Bu,” sapa Salsa pada Desi sambil mencium kedua pipinya.


“Sore sayang. Loh kenapa mukanya kok kusut banget?” tanya Desi. Dengan wajah yang masam, Salsa tidur di pangkuan ibunya, dan dia menceritakan apa yang dia alami hari ini. Desi menjadi pendengar setia ketika anak gadisnya curhat padanya.


“Kata ibu sih, Fauzi ga akan mungkin pindah ke lain hati dengan secepat ini. Dia pasi cuma mau buat kamu panas aja, biar kamunya cemburu,” jelasnya sambil mengusap rambut anaknya.


“Tapi Bu, kenapa hati aku ga yakin ya?” Desi hanya tersenyum, tidak bisa dipungkiri kalau anaknya sangat mirip sekali dengan dirinya.


**♥️♥️**


“Yah, ngerasa ga kalau abang berubah?” tanya Riana pada suaminya.


“Berubah apanya sih, sayang? Abang masih terlihat biasa aja kok,” jawab suaminya sambil menatap wajah istrinya yang cantik walaupun umurnya sudah menua.


“Abang itu lebih ceria dari biasanya. Bunda yakin kalau dia pasti sudah punya pacar.”


“Bagus dong! Bukannya sejak dulu itu yang bunda mau? Kok sekarang malah keliatan binggung sih?”


“Bunda seneng kok, yah. Cuma bunda merasa takut kehilangan kasih sayang abang aja,” keluhnya dan membuat suaminya merasa sangat gemas.


“Dih bunda, kaya sama pacar aja. 'Kan ada ayah di sini yang selalu sayang sama bunda.” Riana tersenyum dan mengecup bibir suaminya.

__ADS_1


“Oia Yah, kemaren bunda mampir beli roti di bakery dekat kampus abang. Bunda bertemu dengan cewek cantik, sopan santun dan ramah. Kalau ga salah namanya Ana. Tadinya bunda mau ngenalin dia sama abang, tapi kayanya abang udah punya kekasih,” jelas Riana.


“Biarkan dia memilih pasangannya, Bun. Yang penting dia wanita baik seperti bundanya. Ya udah tidur yuk udah malam.” Riana mengangguk tersenyum, dan seperti biasa Riana masuk ke dalam pelukan suaminya.


Alaric membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Sambil tersenyum-senyum dia mengingat seharian ini menemani Ana untuk mencari buku. Tidak ada yang spesial sebenarnya, cuma entah kenapa dia sangat bahagia hari ini.


Semua ini berkat Aulia, ucapnya pelan.


Alaric mengambil ponselnya, dan mencari nomer telepon Ana yang tadi sempat dia tanyakan sebelum keduanya berpisah. Ingin rasanya Alaric menghubunginya. Dia terus menatap layar ponselnya, dan mencoba mengetik pesan singkat. Tapi pesan singkat itu berulang kali dihapusnya karena hatinya yang ragu takut Ana tidak akan membalas pesannya.


Tring ...


Alaric tidak menyangka wanita yang sejak tadi dipikirnya, menghubungi dirinya duluan.


Ana :“Bang, terimakasih untuk hari ini ya. Maaf kalau aku merepotkan abang hari ini.”


Mendapat pesan Ana dengan cepat Alaric membalas pesan darinya.


Alaric :“Sama-sama Ana. Lain kali kalau butuh bantuan, aku siap akan membantu. Btw ... kok belum tidur?”


Alaric :“Oh ... besok ada kuliah jam berapa?”


Ana : “Rada siangan, Bang. Tapi pagi aku kerja dulu.”


Alaric :“Kalau begitu kamu istirahat ya!”


Ana :“ Iya, Bang. Sekali lagi terimakasih ya. Bye abang.”


Tidak surut senyuman dari wajah Alaric. Dia terus menatap ponselnya dan membaca kembali pesannya dengan Ana. Pertama kalinya ada wanita yang bisa membuatnya seperti ini. Dan hatinya sekarang mulai yakin, kalau dia benar-benar sangat menyukai Ana.


**♥️♥️**


Pagi hari Salsa sudah bangun dan membantu ibunya mempersiapkan sarapan untuk keluarganya. Rasanya malas untuk dia pergi ke kantor. Kalau bukan karena deadline yang sudah hampir dekat, dia tidak akan pergi bekerja.


“Kak, tolong bangunkan Krisna, katanya dia sekarang ada kuliah pagi,” titah Desi pada anak sulungnya. Salsa mengangguk dan segera berjalan ke kamar adik laki-lakinya.


“Krisna, banguuuuuuun!” ucapnya sedikit teriak. Bukannya bangun, Krisna malah menarik lengan Salsa sampai gadis cantik itu duduk di pinggir kasur dan memindahkan kepalanya tidur di atas pangkuan kakaknya.

__ADS_1


“Dih ... malahan lanjut tidur. Kris, Aulia dateng nungguin kamu loh di meja makan,” bisik Salsa. Dengan cepat adik kandung satu-satunya Salsa itu langsung bangun dan menuju ke kamar mandi. Salsa yang melihatnya tertawa sangat puas. Dia tahu kalau adiknya itu sangat menyukai Aulia.


“Dasar, giliran denger kata Aulia aja langsung bangun” ucapnya berjalan keluar kamar sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


Semua makanan sudah tertata rapih di atas meja. Dengan tubuh yang sangat wangi dan rambut yang sangat rapih, Krisna datang dengan tersenyum lebar. Tapi, senyumnya langsung hilang dengan seketika ketika dia hanya melihat keluarga intinya saja yang berada di meja makan.


“Loh ... Aulia mana?” tanyanya polos. Kedua orang tuanya saling menatap heran, tapi tidak dengan Salsa. Dia tertawa puas melihat wajah binggung adiknya. Melihat itu Desi dan Didit pun semakin tidak mengerti.


“Ah ... kakak rese nih jadi orang. Nyebelin banget sih, kak! Ga bisa apa ga ngerjain adiknya,” kesal Krisna sambil menarik kursi. Kedua orang tuanya langsung mengerti dengan tingkah laku kedua anak mereka. Karena hal ini memang sudah sangat sering terjadi. Mereka berdua hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Sampai diusia mereka yang bukan lagi anak-anak, keduanya masih saja saling usil.


“Udah-udah debatnya, ayo makan keburu kalian terlambat,” ucap Didit pada kedua anaknya. Dengan masih merasa kesal, Krisna memakan makanannya sambil melirik tajam ke arah kakaknya. Salsa yang menyadari lirikan tajam adiknya hanya tertawa dan menjulurkan lidahnya hingga membuat Krisna semakin kesal dengan kakak tersayangnya.


Ting ... tong ....


“Siapa sih pagi-pagi gini udah bertamu,” ucap Salsa. Salsa melarang ibunya membuka pintu, dia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


Siapa sih pagi-pagi gini, ga nyadar waktu apa? Kesal Salsa.


Saat membuka pintu, Salsa merasa kaget melihat sosok laki-laki tinggi putih berdiri di depannya sambil tersenyum lebar padanya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Maaf telat Up..


Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaa...


Dibuka kolom komentar bagi siapa saja yang mau berkomentar. Komentar kalian adalah mood booster buat Author...♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2