
Setelah menyantap sarapan, mereka langsung berangkat. Terlebih dahulu mereka mengurus surat perceraian yang siap di pengadilan. Rendra beserta istri dan anaknya menunggu di mobil selagi Didit dan Desi mengurus surat-surat perceraian.
“Mas, kok hatiku ga tenang ya,” ucap Riana. Rendra langsung merangkul istrinya.
“Kamu tenang aja sayang, kita akan mengawasi mereka saat bertemu.” Riana mengangguk. Sebenarnya hatinya sangat menolak untuk pertemuan hari. Entah kenapa perasaan dia sangat tidak enak sejak tadi pagi. Tapi, Riana berusaha menepis semua keraguan dalam hatinya.
Tidak butuh waktu lama, Didit dan Desi datang.
“Bagaimna? semua sudah beres?” tanya Rendra.
“Beres dong. Ga sia-sia gue terkenal dulu di kampus,”
“Iya, lo terkenal bucin sejati. Pria galau yang ga pernah move-on,” canda Rendra mengundang tawa.
“Lo jangan buka kartu deh. Seribu satu cowok kaya gue tau. Langka!!”
“Satwa kali, langka.” ucap Desi dan mereka semua tertawa.
Mereka pun berangkat menuju tempat janjian dengan Ferdi. Selama perjalanan Rendra terus menggenggam tangan istrinya. Dia tau kalau istrinya merasa sangat khawatir. Sesekali Rendra mengecup keningnya agar Riana merasa tenang.
Sampai ditempat yang dituju, mereka pun langsung turun. Belum tampak batang hidung Ferdi disana. Desi melihat jam yang ada di tangannya. Sudah waktu yang mereka janjikan, tapi sama sekali Ferdi tidak nampak.
“Yank, kamu ga coba telpon dia?” tanya Didit. Desi menggelengkan kepalanya.
“Biarkan aja, kalau dia mau bertemu dengan anaknya dia pasti datang. Kalau ga, ya jangan harap ada kesempatan kedua.” ucapnya.
Salsa tidak mengerti kalau hari ini dia akan bertemu dengan ayahnya. Dia hanya sibuk bermain boneka didalam gendongan ayahnya. Sudah lima belas menit Ferdi tak kunjung datang. Dan itu membuat Riana merasakan sangat senang didalam hatinya. Walaupun Salsa bukan anak kandungnya, tapi batin dia dengan keponakan anaknya sangat kuat. Dia tidak rela siapapun mengambil Salsa darinya walaupun itu ibu kandungnya sendiri. Desi pun mengerti perasaan adiknya dan dia sama sekali tidak pernah menuntut untuk mengambil anaknya kembali dari Riana.
Tidak disangka, Ferdi datang bersama dengan keluarga. Desi merasa kaget melihat keluarga suaminya yang turun dari mobil, menghampiri mereka. Bukan hanya Desi saja yang kaget, tapi Riana juga. Desi langsung menarik tangan Ferdi menjauh dari semua orang.
“Kenapa keluarga kamu juga ikut?” tanya Desi emosi.
“Sumpah Des, ini diluar rencana. Mereka tiba-tiba pengen ikut dan aku ga bisa ngelarangnya.”
“Tapi setidaknya kamu harus bilang ke aku kalau mereka mau ikut,”
“Ya, apa salahnya sih kalau mereka mau liat anak aku? mereka juga 'kan punya hak untuk melihat Salsa.” keduanya terus berdebat, tanpa tahu bagaimana keadaan disana. Desi kesal, dia meninggalkan Ferdi dan kembali kesana. Desi kaget saat melihat Riana yang sudah jatuh pingsan. Ferdi juga ikut kaget melihat semua orang panik.
__ADS_1
“Gue bawa Riana ke rumah sakit dulu, kalian selesaikan masalah ini” ucap Rendra.
Rendra segera membawa istrinya. Rasa khawatir membuat tubuhnya getar. Rendra melajukan mobilnya sangat kencang menuju rumah sakit. Tidak peduli dengan rambu-rambu lalu lintas, dia melajukan mobilnya diluar batas kecepatan.
Sayang, kamu akan baik-baik saja ya ....
“Ini semua gara-gara Lo. Riana sedang mengandung, kalau sampai terjadi apa-apa dengan adik gue, gue bakal laporin kalian sekeluarga ke polisi.” Ucap Desi sambil menangis.
“Sumpah aku ga tau kalau jadi seperti ini. Kamu tenang aja, aku bakalan bawa Salsa kembali pada kalian. Aku minta maaf Des,” Ferdi menggengam tangan Desi, tapi dengan cepat Didit menepis tangannya.
“Sebaiknya kamu cepat mengembalikan Salsa pada kami, kalau selama tiga jam kamu tidak mengembalikannya, siap-siap kamu dan keluarga kamu masuk ke DPO (daftar pencarian orang) kepolisian.”
Didit menarik tangan Desi dan mencegat taxi yang disana tanpa mendengar penjelasan dari Ferdi.
“Shiiiiit ....” teriak Ferdi kesal.
**Rumah Sakit**
Tiba di rumah sakit, tim Dokter yang sebelumnya sudah di beritahu Rendra sudah bersiap berdiri di depan. Tubuh Riana pun diletakkan di atas brankar. Tim Dokter dengan cepat membawa Riana ke ruangan tindakan, karena air ketuban Riana yang sudah pecah.
Tidak butuh waktu lama, Dokter keluar dari ruangan tersebut.
“Pak, kami minta persetujuan Bapak, untuk melakukan operasi Caesar pada istri Bapak,”
“Apa istri saya akan melahirkan Dok? tapi 'kan ini belum waktunya?”
“Ketuban istri Bapak sudah pecah dan bayi harus segera dikeluarkan,”
“Apa mereka akan baik-baik saja?”
“Saya akan berusaha, Pak.” Rendra pun menyetujuinya dengan menandatangani surat izinnya.
Keluarga Rendra pun datang, saat mendengar kabar dari anaknya. Mereka menghampiri Rendra yang sedang duduk sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
“Mas, bagaimana Ria?” melihat sang ibu datang, Rendra langsung memeluk tubuhnya. Ratih tidak menyangka kalau anaknya menangis, karena selama hidupnya, dia tidak pernah melihat Rendra menangis seperti ini.
Usia kandungan Riana masih delapan bulan dan itu artinya untuk perhitungan medis kandungan Riana masih belum cukup untuk melahirkan. Semua orang harap-harap cemas menunggu jalannya operasi Riana. Desi dan Didit yang baru datang pun ikut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Desi merasa tidak enak dengan adik iparnya. Tapi, dia tidak berani untuk mengajaknya bicara saat ini, karena situasi yang tegang. Setelah satu jam, akhirnya Dokter keluar dari ruangan. Rendra langsung berdiri dan menghampirinya.
“Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?”
“Istri Bapak masih belum sadar diri, karena pengaruh obat bius. Sebentar lagi perawat akan membawa istri Bapak ke dalam ruangan. Dan selamat Pak, anak anda berjenis kelamin laki-laki dan sekarang masih pemulihan di inkubator,”
“Terimakasih, Dok.” Dokter pun masuk lagi ke dalam ruangan.
Tubuh Rendra lemas dan jatuh, kedua sahabatnya langsung menangkap tubuhnya dan membawanya duduk di kursi. Rendra masih sadarkan diri, tapi tatapannya kosong ke depan. Semua yang melihat dirinya merasa sangat sedih, karena Rendra sejak dulu tidak pernah seperti ini.
“Mas, kamu harus bersyukur istri dan anakmu baik-baik saja. Sekarang kita liat keadaan Riana, yu! tadi suster sudah membawanya masuk ke ruangan.” ucap Ratih pada anaknya.
Rendra pun menyetujuinya. Ketika sampai di ruangan, air mata Rendra kembali mengalir sat melihat tubuh istrinya yang tergoler lemas. Dia benar-benar merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga dengan baik istri dan anaknya. Rendra menghampiri Riana, dia duduk disampingnya dan memang tangan Riana sambil berulang kali menciumnya.
Sayang, aku akan buat perhitungan sama mereka. Sadarlah! aku takut kehilanganmu, gumamnya sambil meneteskan air mata.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya...
Hai ... Hai ....
Bagaimana puasanya, Lancar?
Maaf ya baru update...
Semoga kita semua selalu sehat dan dalam lindungan Allah...
__ADS_1