
S2 Bab 74
Setelah mendengar cerita dari Ibu Risma, Ana sangat bersyukur. Dia berharap ibunya akan baik-baik saja, pasalnya Bu Risma bilang kalau ibunya sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Dan mereka pun segera pergi ke sana.
Selama perjalanan, Risma menceritakan saat ibunya jatuh sakit. Selama 24 tahun ini, bukan mereka tidak mencari keberadaan Ana, tapi memang hasilnya selalu saja nihil. Bermodalkan media sosial dan juga berbagai macam cara Risma untuk menanyakan pada Gina tentang keberadaan Ana, tidak juga mendapatkan hasil.
Pencarian berhenti ketika Gina mulai sakit-sakitan. Awalnya hanya sakit biasa dan mereka fokuskan untuk merawat Gina dan tidak melanjutkan pencarian Ana. Gina menderita diabetes karena penyakit turunan dan mengakibatkan gagal ginjal. Sudah berjalan hampir tiga tahun dia harus melakukan cuci darah, maka dari itu Risma fokus untuk merawatnya.
Satu minggu yang lalu, Gina tiba-tiba bicara tentang alamat rumah dan mungkin itu tempat Ana dititipkan. Entah kenapa dia terus menyebutkan nama jalan itu, sambil melihat foto yang ada di tangannya sebelum dia jatuh drop. Pada saat Gina drop tidak sadarkan diri dua hari yang lalu, Risma mulai mencari tahu tentang apa yang dikatakan Gina.
Sampai akhirnya Risma menemukan alamatnya. Sambil membawa foto yang terus dipegang oleh Gina, dia berpikir kalau mungkin anaknya dulu dititipkan di sini. Saat dia sampai di sana, rumah itu tampak sangat kecil dan hanya ada pasangan suami istri yang sudah lanjut usia. Risma langsung memperlihatkan foto dan dengan sangat yakin orang tua itu mengatakan benar kalau anak yang ada di foto itu adalah Angel, anak dari Gina.
Nama Ana sendiri adalah Angel Baskara. Orang tua itu pun bercerita tentang bagaimana Angel dititipkan padanya. Pada saat itu hujan sangat lebat, Gina berteduh di depan rumah mereka. Melihat itu membuat sepasang suami istri itu mempersilakan dia masuk. Mereka adalah seorang pemulung dengan memiliki empat orang anak.
Sepasang suami istri itu pun menyuruh Gina untuk menginap di sana, karena hari sudah larut dan juga hujan sangat lebat. Gina pun menyetujuinya, karena memang dia tidak punya arah tujuan. Tidur beralaskan karpet plastik yang tidak biasa untuknya, membuat ia tidak bisa memejamkan matanya.
Melihat semua orang tidur sangat pulas, begitu juga dengan anaknya, Gina memutuskan untuk pergi. Dia menulis sepucuk surat untuk kedua orang yang sudah menolongnya untuk merawat anaknya. Selain surat, dia juga memberikan sejumlah uang yang cukup untuk membeli susu beberapa bulan ke depan. Dengan berat hati, Gina meninggalkan anak semata wayangnya yang masih berusia empat bulan itu pada sepasang suami istri itu, karena menurut dia mereka adalah orang yang baik.
Dua tahun berlalu, sampai akhirnya kedua pasang suami istri itu tidak sanggup untuk membiayai Ana. Mereka sudah mempunyai empat orang anak dan untuk makan keempat anaknya pun sangat sulit, apalagi ditambah oleh Ana. Akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan Ana di panti asuhan.
Saat mengetahui semua kebenarannya, Risma dengan cepat pergi ke panti asuhan. Istri dari pemulung itu memberitahukan alamat lengkap tempat mereka menitipkan Ana dan juga surat keterangan dari panti kalau dia pernah menitipkan seorang anak di sana. Mendengar itu Ana benar-benar tidak mengingat orang yang sudah merawatnya dari bayi hingga berumur dua tahun. Yang ada di memorinya adalah kalau dia hidup sejak kecil di panti asuhan.
Cerita tentang dia dan ibunya belum selesai, karena mereka sudah sampai di rumah sakit. Jantung Ana berdetak dengan cepat saat melangkah memasuki rumah Sakit.
__ADS_1
'Tuhan, izinkan aku bertemu dengan ibuku. Izinkan aku memberikan cintaku yang selama ini aku pendam dalam hati ini. Tuhan sembuhkanlah dia,' gumam Ana.
Kedua orang tua angkat Ana yang mendapat kabar dari Alaric juga bergegas ke rumah sakit. Karena mereka berhak tau orang tua kandung dari anak angkat mereka. Alaric menuntun istrinya sambil berjalan, karena dia tahu kalau saat ini Ana masih syok dengan semua cerita masa lalunya.
Akhirnya sampai di depan ruangan kelas tiga. Ada banyak pasien di dalamnya dan itu membuat Ana kebingungan, siapa ibunya dari enam pasien yang ada di sana? Batin Ana bertanya-tanya. Risma pun menghentikan kakinya, di ranjang pojok sebelah kanan. Dia membuka perlahan tirai, dan itu membuat Ana memeluk Alaric sambil menangis. Dia bahagia, saking bahagianya dia tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan ya ia rasa.
Tubuh kurus dengan berbagai macam alat yang ada di tubuh Gina, membuat tubuh Ana lemas. Beruntungnya Alaric merangkul dia sehingga Ana tidak terjatuh.
“Sayang, kuatlah! Kamu harus kuat,” ucap Alaric menyemangati Ana. Dia hanya mengangguk dan kembali menangis di pelukan suaminya.
Tidak lama, Bimo dan Tina pun datang. Setelah melihat keadaan Gina, dia meminta Risma untuk memindahkan dia ke ruangan VIP dan juga perawatan yang ekslusif dari dokter-dokter yang terbaik. Risma pun segera mengurus semua yang diperintahkan oleh orang tua angkat Ana.
Selagi menunggu perpindahan ruangan, Ana terus memeluk mama angkatnya. Tina berusaha menenangkan Ana agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Kini Gina sudah berada di ruangan VIP. Ana melangkahkan kakinya mendekat ke tempat tidur ibunya. Ditemani Alaric dia duduk di pinggir ranjang. Untuk pertama kalinya Ana memegang tangan lembut yang dulu mengendong tubuh kecilnya. Air mata Ana mengalir, sambil tersenyum dia mencium tangan ibunya.
“Bu, ini aku, anakmu,” lirih Ana. Alaric yang ada di belakang istrinya, mengusap punggungnya agar Ana merasa lebih tenang.
Ana terus menatap wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Semua ini masih terasa mimpi untuknya. Dia menyentuh wajah yang kini sudah keriput karena tubuhnya yang kurus.
“Bu, aku mohon bangunlah, Bu! Apa Ibu tidak ingin bertemu denganku. Aku Angel bu, anak Ibu yang selama ini ibu tunggu. Aku sekarang di sini, Bu. Aku mohon bangunlah!” Ana tertunduk menangis sambil terus menggenggam tangan ibunya dan sesekali mencium tangannya.
“Sayang, ibu pasti bangun.” Alaric merangkul Ana.
__ADS_1
Ana sangat bersyukur dia dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangi dirinya. Mulai dari suami, kedua orang tua angkatnya, Ibu Sarah, dan juga mertua yang sangat baik hati. Dan kini kebahagiaannya semakin bertambah, karena bisa bertemu dengan ibu yang selama ini diimpikannya. Ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Tidak ada sedikitpun rasa benci muncul untuk ibunya, karena Ana yakin kalau ibunya punya alasan kenapa dia tidak merawat dirinya.
Hari semakin larut, dan Alaric mengajak istrinya untuk pulang terlebih dahulu. Awalnya Ana menolak dan ingin menunggu ibunya di rumah sakit. Tapi Risma dan kedua orang tuanya menyuruh dia istirahat di rumah agar lebih tenang, dan Ana pun akhirnya mengikuti suaminya pulang ke rumah.
“Bu, aku pulang dulu ya! Besok aku akan kembali lagi, dan aku harap besok ibu membuka mata untukku.” Ana mencium keningnya sebelum ia pamit untuk pulang.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
👍Like
💬Komen
🌺Vote sebanyak-banyaknya yaaa
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA😘😘😘😘