Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 55


__ADS_3

S2 Bab 55


Sampai di rumah Aulia masih memikirkan apa yang dikatakan kekasihnya.


“Janji?” dia terus mengingat janji apa yang dia katakan pada Krisna. Karena dia sama sekali tidak mengingat apa yang dia janjikan.


Tok ... tok ... tok ---Suara ketukan pintu---


Dengan cepat Aulia membuka pintu kamarnya.


“Mami, ada apa?” tanya Aulia kaget saat melihat wajah Sonia yang terlihat menegangkan.


“Kak Intan mau melahirkan. Kita ke rumah sakit sekarang ya! Kamu siap-siap mami tunggu di bawah!” Dengan cepat Aulia menuruti titah ibunya.


Malam itu Aulia dan kedua orang tuanya langsung bergegas ke rumah sakit. Tidak lupa mereka mengabari Riana dan juga Desi untuk memberitahukan kabar bahagia itu. Sampai di rumah sakit, mereka langsung mendekati Gibran yang sedang tertunduk di depan ruangan.


“Bang, bagaimana Intan?” dengan wajah yang terlihat sangat khawatir, Gibran langsung memeluk sang mami. Dia mengeluarkan air matanya. Untuk pertama kalinya Gibran menangis diusianya saat ini.


“Kak Intan kenapa, Bang?” kembali Aulia menanyakan, karena Gibran sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sonia.


“Kata dokter, harus melakukan operasi, Mi. Dan tadi abang sudah menandatangani surat persetujuannya. Mami, apakah Intan dan anak Abang akan baik-baik


saja?” ucapnya masih dalam pelukan maminya. Sonia menepuk bahu anaknya, “Tentu saja, Bang. Dia pasti baik-baik saja.”


Semua menunggu harap-harap cemas. Satu-persatu keluarga pun audah berkumpul menunggu selesainya operasi. Intan melakukan operasi karena pembukaan yang tidak juga naik, sedangkan air ketuban yang terus saja keluar membuat Gibran pun terpaksa menandatanganinya.


Krisna dan Alaric pun ikut datang dan menenangkan Gibran. Satu jam berlalu akhirnya dokter pun keluar dari ruangan operasi. Terdengar suara bayi yang sangat keras membuat semua bersyukur dengan kelahiran cicit pertama keluarga Wicaksono.


Dokter menyuruh ayah dari sang bayi untuk masuk. Gibran bergegas masuk ke dalam dan melihat keadaan sang istri. Saat masuk Intan melemparkan senyumannya. Gibran yang melihat istri dan anaknya yang sedang tidur di atas dada Intan meneteskan air mata.


Dia mengecup kening istrinya. Tidak henti-hentinya mengucapkan syukur dan terima kasih pada istrinya karena sudah melahirkan buah hatinya. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu sangat tampan seperti paras dari ayahnya. Gibran terus menatap wajah kecil anaknya dan tidak masih tidak menyangka kalau dirinya kini adalah seorang ayah.

__ADS_1


Setelah semua proses selesai, Intan pun dibawa ke ruangan. Keluarga pun berkumpul di ruangan VVIP yang mereka pesan. Sengaja Gibran memesan ruangan itu agar seluruh keluarganya bisa masuk ke dalam. Semua tatapan mata mereka tertuju pada bayi mungil yang sangat lucu dan ganteng.


“Wah ... lo bisa juga buat cetakan yang bagus, Gib,” canda Alaric mengundang tawa.


“Gue emang cakep kali, makanya anak gue luar biasa cakepnya.” suasana haru dan bahagia tercipta diruangan itu.


“... btw lo kapan, Bang? Masa kalah sama gue,” canda Gibran dan membuat semua orang juga penasaran dengan jawaban Alaric.


“Tunggu aja tanggal mainnya.” dengan bangga sambil tersenyum Gibran menjawabnya. Riana yang mendengar jawaban sang anak hanya tersenyum, karena dia tahu semua yang sudah terjadi pada anaknya.


Hari sudah semakin larut, dam satu-persatu keluarga pun pamit. Dan keesokan harinya, Ana yang mendengar berita kelahiran Intan dari Aulia merasa senang. Dia berencana untuk menjenguk Intan di rumah sakit. Aulia pun menjemput sahabatnya itu.


Kali ini Aulia sudah merencanakan sesuatu buat sahabat dan abangnya Alaric. Dia bekerja sama dengan Gibran untuk menyuruh Alaric datang kembali ke rumah sakit.


Awalnya Alaric menolak karena kerjaan dia yang sangat menumpuk. Tapi karena paksaan dari sepupunya, akhirnya dia pun pasrah dan langsung pergi menghampirinya.


Sampai di rumah sakit, Alaric dengan setelan kerjanya langsung menghampiri ruangan Intan. Wajah yang terlihat kesal seketika berubah dengan senyum lebar yang terpancar ketik melihat Ana yang sedang menggendong bayi mungil itu.


Setelah lama menggendong sang bayi sampai tertidur, Ana pun menyimpan kembali bayi mungil itu ke dalam box bayi. Kini mereka berkumpul di sofa sambil menikmati cemilan-cemilan yang sudah disediakan oleh Gibran. Banyak hal yang mereka bicarakan dari mulai menanyakan bagaimana study Ana di Singapura sampai menanyakan kapan dia menikah dengan Satria.


Ana sebenarnya tidak ingin terus-menerus berbohong, tapi saat ini juga bukan waktu yanh tepat untuk menceritakan semuanya. Dia menjawab satu-persatu pertanyaan dari Gibran, Intan dan juga Aulia. Sedangkan Alaric hanya diam menunduk mendengarkan ketiganya yang asik bicara.


Mendengar nama Satria yang terlontar dari bibir Ana membuat tubuh Alaric terasa panas. Ingin rasanya dia berteriak kalau Ana hanya miliknya, tapi apa daya, semua hanya angan-angan dia saja. Melihat wajah Alaric yang terlihat kesal, Gibran makin sengaja terus menanyakan tentang hubungan mereka. Itu dia lakukan agar Alaric melakukan sesuatu agar dia memperjuangkan cintanya.


Tidak terasa dua jam berlalu, Ana juga harus ke kantor papanya, karena hari ini dia mulai pelan-pelan mempelajari sistem perusahaan. Bimo memang menyuruh anaknya untuk terjun ke perusahaan, karena dia ingin anaknya kelak akan mewarisi perusahaan yang dia bangun dari nol.


“Sepertinya aku harus pamit, hari ini aku ada urusan di kantor,” pamit Ana sambil melihat jam tangannya.


“Ya An, gue kayanya enggak bisa anter lo deh. Gue mau temenin Kak Intan soalnya.” Aulia sengaja, dia melirik ke arah abangnya Alaric memberi kode agar mengantarkan Ana.


“Oh iya, enggak apa-apa gue bisa sendiri kok.” Ana pun pamit pada semuanya, dan berjalan keluar dari ruangan.

__ADS_1


Tidak lama keluar, Alaric pun pamit dan segera menyusul wanita pujaan hatinya. Dia benar-benar sangat berterima kasih pada adik sepupunya karena berkat Aulia hari ini dia bisa bertemu dengan Ana. Sambil berlari kecil akhirnya Alaric menyusul Ana. Dia kaget saat melihat Alaric yang sudah berjalan di sampingnya.


“Abang!” sapanya.


“Emmm ... aku anterin ya! Sekalian aku juga mau ke kantor.”


“Enggak usah, Bang. Lagi pula kantor kita berlawanan arah. Enggak apa-apa kok, makasih ya sudah menawarkan.” mendengar jawaban Ana membuat hati Alaric sakit, tapi dia tidak pantang menyerah. Alaric terus saja memaksa Ana untuk mengantarnya dan akhirnya wanita cantik itupun menyetujuinya.


“Makasih ya An, kamu mau aku anterin,” ucap Alaric malu-malu saat keduanya berada di dalam mobil. Ana hanya tersenyum, dalam hatinya dia sangat senang bisa duduk berdua lagi dengan Alaric walaupun hanya duduk di dalam mobil.


'Aku sangat merindukanmu, Bang!' gumam Ana sambil mencuri-curi menatapa Alaric yanh sedang menyetir.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Maaf semuanya 😔😔 selama empat hari kemaren tidak UP, karena Author harua merawat pasien di rumah, harap maklum ya semua!


Makasih yang sudah setia menunggu Update-an novel ini...


Minta Like dan Votenya yaaa...


Yang mau komen sangat ditunggu biar Author tambah semanga...

__ADS_1


Terima kasih semua 😘😘😘❤️❤️❤️


__ADS_2