
S2 Bab 37
Mendapat panggilan dari Ana sambil terisak-isak dengan cepat Satria menghampirinya. Sampai di tempat kerja Ana, Satria mengabari Ana dan itu membuat gadis cantik ini keluar menghampiri dirinya. Entah kenapa melihat satria tangis Ana semakin kencang. Dia tidak bis menahan air matanya dan langsung berlari memeluk Satria.
“Hey! Kamu kenapa?” Tanya Satria sambil menepuk bahu Ana. Bukan menjawab malah tangisan Ana semakin kencang. Dia hanya diam dan masih menanis di atas dada bidang Satria. Melihat wanita kesayangannya seperti itu, Satria hanya bisa menepuk bahunya memenangkan Ana.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya tangis Ana berhenti. Hanya pada Satria dia meluapkan rasa sedihnya. Ana pun mulai menceritakan semua yanh terjadi padanya hari ini. Dan itu berhasil membuat Satria cukup emosi.
“Terus, kenapa cowok kamu ga mau menerima telepon?” Tanyanya dengan seikit emosi. Ana hanya tertunduk menggelengkan kepalanya.
“... bodohnya dia kalau sampai dia percaya semua itu. Aulia lagi, dia 'kan sahabat kamu dari semenjak masuk kuliah, apa dia ga mau denger yang sebenarnya dari kamu? Lagi pula kenapa kamu diem aja? Kenapa kamu ga membela diri sendiri sih? Argh ... ini alasan aku selalu menaruh kekhawatiran sama kamu.” Satria kesal. Dia berbicara panjang lebar sambik bolak-balik berjalan di depan Ana untuk menahan emosinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, dan Ana berpamitan pada semua rekan kerjanya. Sedih yang berlipat-lipat pada hari itu untuk Ana. Dimana gosip yang menimpanya dan juga dia harus berpisah dengan rekan-rekan kerja yang sudah hampir satu tahun ini menemani dirinya.
Satria masih menunggu Ana di depan bakery sambil dudul di atas motor kesayangannya. Cahaya lampu dari mobil yang baru saja datang membuat Satria menutup matanya karena silau.
“Nak, apa kabar?” tegur Bimo pada Satria yang masih menutup matanya dengan lengan.
“Pak Bimo! Baik Pak,” jawab Satria dan langsung mencium punggung tangan Bimo.
“Tumben kamu jemput. Ana ga bilang sama papa kalau dijemput olehmu. Tahu gitu papa ga ke sini, biar ga ganggu kalian,” canda Bimo sambil tersenyum dan menepuk bahu Satria. Bimo sangat mengenal baik dengan Satria. Malah dia juga sudah menganggap Satria sebagai anaknya.
Tidak lama Ana keluar dari bakery. Melihat sang papa membuat Ana merasa senang dan ingin sekali memeluk tubuhnya. Ana ingin menceritakan semuanya, tapi itu tidaj mungkin terjadi. Dia berlari kecil dan memilih memeluk Bimo dengan erat. Melihat anaknya seperti itu membuat Bimo merasa aneh. Dia tahu kalau ana pasti sedang ada masalah. Pasalnya Ana sudah lama tidak memeluk tubuhnya seperti itu, semenjak dirinya memutuskan untuk tinggal sendiri.
“Sayang, ada apa? Apa ada yang terjadi?” Tanya Bimo sambil membelai rambutnya. Ana hanya menggelengkan kepalanya.
“... terus kenapa kamu seperti ini?” tanyanya lagi.
“Aku hanya sedih, Pa. Aku sedih harus berpish dengan mereka.” Ana berbohong, walaupun sebenarnya yang dia katakan itu ada benarnya juga. Tapi, alasan sebenarnya adalah karena gosip murahan itu, terlebih karena sahabat dan kekasihnya.
__ADS_1
“Oalah ... papa kira kenapa. Kamu 'kan sekali-kali bisa maen, Sayang. Oke, sekarang sudah malam mending kita pulang yaa! Kamu mau pulang sama siapa? Papa atau Satria?”
“Papa. Kak Satria, makasih ya hari ini sudah dengerin semua curhatan aku.” Satria hanya tersenyum mengangguk.
“Ya sudah, papa tunggu di mobil ya!” Bimo memilih untuk menunggu anaknya di mobil. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Dan Bimo memberikan waktu untuk keduanya bicara.
“Kamu jangan sedih lagi ya! Aku yakin nanti mereka juga tahu kok yang sebenarnya. Yang harus kamu ingat! Aku di sini. Selalu ada di sini buat kamu. Kapapan pun kamu butuh aku, aku selalu ada, oke! Udah jangan sedih lagi, muka kamu tambah jelek kalau cemberut kaya gitu,” canda Satria yang berhasil membuat Ana tersenyum.
“Makasih yaa! Kak Satria memang kakak sekaligus yang sangat berharga dalam kehidupan aku. Yang mengerti semua tentang aku. Makasih ya Kak!” Satria tersenyum mengangguk. Hatinya sedikit sakit mendengar apa yang dikatakan Ana tadi. Sejak dulu sampai sekarang, perasaan Ana tidak pernah berubah. Dia hanya dianggap sebatas seorang kakak, sedangkan perasaan Satria begitu sangat dalam buatnya.
“Udah sana! Kasian Papa nungguin kamu.” Ana mengangguk tersenyum. Sambil melangkah jalan, Sesekali Ana membalikkan badan dan melambaikan tangan padanya.
Disisi lain, Alaric yang sudah sampai di Jakarta dengan cepat pergi menuju kost-an kekasihnya. Sejak tadi pikirannya dipenuhi oleh vidio dan foto tentang Ana yang katanya adalah simpanan om-om nakal. Alaric ingin segera mendapatkan penjelasan tentang hal itu pada kekasihnya.
Rasa khawatirnya membuat dia tidak sadar bahwa sejak tadi ponselnya berbunyi. Setelah melihat postingan itu di salah satu grup kampus, Alaric tidak lagi melihat ponselnya. Dia tidak menyadari begitu banyak telepon yang masuk dari Ana dan juga ayahnya.
Selama perjalanan Ana hanya diam. Tatapannya terus menatap keluar jendela. Pikirannya terus tertuju pada Alaric yang sampai detik ini belum ada kabar sama sekali. Bimo sesekali melirik ke arah anaknya. Walaupun dia hanya seorang papa angkat, tapi dia tahu betul kalau anaknya saat ini sedang ada masalah. Bimo memilih tidak menanyakannya, karen dia tahu pasti suatu saat nanti Ana akan menceritakan semuanya padanya.
Sampai di kost-an Bimo ikut turun mengantarkan anaknya, “Papa akan menunggu kamu pulang ke rumah. Jangan terlalu lama ya!” ucap Bimo sambil membelai rambut anaknya.
“Papa, bolehkah aku memeluk, Papa?”
“Sejak kapan kamu meminta izin untuk memeluk papamu sendiri. Sini, Sayang!” Bimo membuka kedua tangannya dan membuat gadis cantik itu tersenyum. Ana langsung masuk ke dalam pelukan papanya. Tidak dipungkiri, kalau pelukan Bimo adalah pelukan ternyaman di dunia. Bimo sudah seperti papa kandung baginya. Kelembutan hati Bimo pada Ana melebihi kasih sayang seornag ibu pada anaknya.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Alaric sampai di depan kost-an kekasihnya. Setelah membayar taxi, Alaric turun dan lansung meraih ponselnya sambil berjalan. Seketika langkahnya terhenti. Ponsel yang baru saja dipegangnya untuk menelepon Ana jatuh saat melihat yang terjadi di depan dirinya. Ana yang mendengar suara ponsel jatuh langsung melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Alaric.
“Abang!” Ucap Ana kaget. Alaric tidak percaya apa yang dilihatnya. Pikirannya kacau dan tambah kacau lagi saat melihat apa yang terjadi. Emosinya kini memuncak. Tanpa mendengar apa yang dikatakan Ana, Alaric langsung naik kembali ke dalam taxi yang ditumpangi dirinya, karena kebetulan mobil taxi itu belum pergi.
“Pak, pergi sekarang!” ucap Alaric pada sopir taxi itu. Mobil itu pun langsung melaju pergi.
__ADS_1
“Abang!” Ana berlari berusaha mengejar mobil itu. Sambil menangis Ana terjatuh duduk, karena tubuhnya yang sangat lemas. Bimo yang melihatnya kaget, dia langsung berlari dan merangkul tubuh anaknya.
“Sayang, ada apa ini sebenarnya?” Tanya Bimo yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Papa!” ucap Ana sambil menangis sekencang-kencangnya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Wow ... bagaimana 'kah kisah selanjutnya???
terus ikuti yaaaaaa
jangan lupa like, komen, dan vote yaaa...
Follow IG Author donga @Septriani_wulan15 biar kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author...
Aku padamu semua ❤️❤️❤️
__ADS_1