
Aulia mengejar Krisna yang sudah semakin jauh didepannya.
“Abang!! Tungguin!” mendengar teriakan dari Aulia, Krisna menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang.
“Loh! Ngapain kamu ngikutin abang?” tanyanya heran.
“Ya Abang, Aul lagi ngomong malah maen pergi aja. Kenapa Abang nyamperin Aul?”
“Tadinya mau ngajak makan siang bareng. Tapi kayanya ade udah ada temen makan siang, jadi ga jadi,” jelas Krisna. Aulia tersenyum membuat Krisna mengerutkan keningnya merasa heran.
“Dih ... belum juga ngajak udah maen pergi aja. Ya udah ayo!!” Aulia berjalan sambil menggandeng lengan Krisna membuat jantung si empunya merasa berdebar-debar.
Andai kamu tahu, abang bahagia seperti ini dan berharap kita terus seperti ini, gumamnya sambil tersenyum melihat punggung Aulia yang berada selangkah di depannya.
**Kantin**
Selesai memesan makanan Ana dan Reza mencari tempat kosong sambil membawa nampan berisi makanan. Mata Ana tertuju pada tiga orang yang sedang menikmati makanan mereka. Siapa lagi kalau bukan Alaric, Gibran dan Intan. Melihat Ana, Alaric pun melambaikan tangan padanya dan menyuruh dirinya bergabung bersama dengan mereka.
“An, lo kenal?” tanya Reza.
“Salah satu dari mereka ada abangnya Aulia. Kita gabung ke sana yuk!”
“Kakak ipar gue. Ya udah ayo!” Keduanya pun berjalan ke arah mereka.
Intan yang melihat senyuman Alaric saat Ana menghampiri mereka merasa sangat kesal. Dia menyadari kalau Alaric sangat tertarik pada cewek yang sangat dia benci, karena sudah merebut hati pujaan hatinya. Alaric menyuruh Ana untuk duduk di depannya dan Reza duduk di samping Alaric.
Ketiganya melihat ke arah Reza, terutama Alaric yang seolah-olah meminta penjelasan.
“Hai semua. Oia ... kenalin ini Reza, temen Aulia juga.” sapa Ana pada ketiganya sambil memperkenalkan Reza. Mereka hanya tersenyum satu sama yang lainnya.
“Hai Ana. Loh tumben kamu ga sama Aulia?” tanya Gibran.
“Dia bareng sama Bang Krisna tadi,” jawab Ana.
“Ehem ... Krisna aja udah maju masa lo ga, Bang,” canda Gibran membuat Ana tidak mengerti. Tidak dengan Intan, dia merasa kesal sekali dengan Gibran yang selalu mendekatkan Alaric dengannya.
Tatapan Alaric lurus menatap Ana yang sedang menikmati makanannya. Gibran yang melihatnya tersenyum, dan diapun mempunyai ide.
“Tan, anterin gue ke perpus yuk!” ucapnya pada Intan sambil menginjak kaki Reza dan memberikan tanda mata padanya agar ikut pergi meninggalkan keduanya. Sekali kode Reza pun langsung mengerti dan membereskan makanannya ke atas baki makanan.
__ADS_1
“Dih ... ogah! Gue masih mau di sini, Gib,” kesal Intan. Tapi Gibran tetap saja memaksa menarik tangannya membuat gadis cantik itu pasrah mengikuti titah sahabatnya.
“An, gue juga duluan ya. Soalnya gue ada janji ma anak-anak,” ucap Reza.
“Loh, kok pada pergi sih?”
“Udah lo lanjutin makan aja bareng Bang Al, kita ada urusan dulu,” ucap Gibran dan meninggalkan keduanya, begitupun dengan Reza yang langsung pamit pergi.
Entah kenapa Alaric merasa senang, dia berusaha menahan senyumannya. Dia tahu kalau semua ini Gibran yang rencanakan. Di sisi lain Ana tertunduk malu sambil pelan-pelan menikmati makanannya. Jujur dia merasa sangat malu, karena hanya duduk berdua dengan Alaric.
“Hari ini kamu kerja?” tanya Alaric membuka pembicaraan.
“Emmm ... habis makan siang aku udah ada kelas, terus beres kelas mau langsung ke tempat kerja, Bang.”
“Ya udah nanti Abang anter ya.” Ana hanya tersenyum mengangguk dan melanjutkan makannya perlahan.
Selesai menyantap makanan, Alaric mengantarkan Ana sampai kelasnya. Selama perjalanan semua mata tertuju pada keduanya. Tidak sedikit dari mereka yang berbisik membicarakan keduanya. Bagaimana tidak? Alaric adalah salah satu pangeran kampus terutama fakultas ekonomi. Banyak wanita yang sudah mendekati dirinya tapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa mendapatkan hatinya. Jangankan hati, untuk jalan berdua seperti sekarang pun tidak ada yang pernah. Maka dari itu semua merasa aneh ketika keduanya jalan berdua.
Ana merasa sangat malu dan tidak PD. Karena dia merasa tidak secantik wanita-wanita yang ada di kampus. Dia menyadari mata-mata yang melirik tajam ke arahnya, yang seolah-olah ingin memakan dirinya.
“Nanti aku tunggu di parkiran ya!” ucap Alaric saat keduanya sudah sampai di depan kelas.
“Ii-iya, makasih sudah anter aku, Bang. Kalau gitu aku masuk dulu ya.” Alaric tersenyum mengangguk. Bukan langsung pergi, dia masih berdiri di depan pintu dan terus saja melihat Ana. Lagi-lagi keduanya menjadi pusat perhatian anak-anak yang sudah berada dalam kelas. Ana menoleh sesekali ke belakang dan melambaikan tangannya ragu. Wajahnya memerah karena menahan malu.
“Abang, ngapain di sini?” tanya Aulia yang baru saja datang bersama dengan Krisna.
“Habis anterin Ana. Kalian berdua dari tadi kemana? Ditungguin juga.” bukan jawaban yang didapatkan oleh Alaric, tapi keduanya malah menatap dirinya kaget dan heran.
“... kenapa? Ada yang salah di wajah gue?” tanya Alaric kebingungan.
“Cie ....” goda Aulia sambil berjalan masuk ke dalam kelas. Sebelum masuk dia terlebih dahulu pamit pada Krisna dan melambaikan tangan padanya.
“De ... woy! De!” teriak Alaric memanggil Aulia sampai orang sekitar melihat padanya. Tapi, gadis cantik itu terus berjalan masuk tanpa memperdulikan Alaric yang memanggil dirinya.
“Hahahaha ... udah yuk, Bang! Kita mending samperin Gibran. Tadi gue liat dia ada di taman. Udah ga ada kelas 'kan?” tanya Krisna sambil merangkul bahunya.
“Dih, tu anak kenapa coba tadi? Aneh!” Krisna hanya menggelengkan kepala dan tersenyum sambil berjalan dan tentu saja masih merangkul bahu Alaric.
Aulia yang baru masuk kelas langsung berlari kecil menghampiri Ana yang memilih duduk di pojokan kelas. Karena, sejak tadi mata para gadis menatapnya aneh yang yang seolah-olah ingin menerkam dirinya.
__ADS_1
“Hai gadis cantik,” sapa Aulia sambil duduk dan menyimpan tasnya di atas meja.
“Hai,” jawab Ana singkat dan masih tertunduk memainkan ponselnya.
Aulia terus melihat Ana dengan menopang dagunya. Ana yang merasa aneh pun mengangkat wajahnya dan kaget melihat posisi Aulia yang menghadap dirinya. Terlebih kanget melihat tatapan tajam Aulia sambil tersenyum nakal menggoda.
“Aul, apaan sih ah? Ga lucu lo liatin terus gue kaya gitu!” ucapnya dengan nada yang kesal.
“Lo apain abang gue, An?” pertanyaan yang membuat Ana mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan sahabatnya.
“Maksud lo?”
“Selama gue hidup, gue ga pernah liat abang gue deket atau jalan berdua sama wanita lain selain bunda sama kak Salsa. Lo pasti pelet abang gue ya? Ngaku! Ayo ngaku!” ucap Aulia sambil tersenyum nakal.
“Dih apaan sih? Siapa juga yang main pelet. Abang lo itu cuma anggap aku adiknya sama halnya kaya dia anggap lo,” jelas Ana tapi mendapat lirikan tajam Aulia yang mengejek.
“... ya udah kalau ga percaya,” ucap Ana masa bodo.
“Kita liat aja nanti!” ucap Aulia. Ana merasa heran. Ingin rasanya meminta jawaban atas pernyataan yang diungkapkan Aulia padanya. Tapi sayang dosen sudah memasuki kelas, dan niatnya pun gagal untuk menanyakannya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Terimakasih sebesar-besarnya buat readers setia aku yang selalu menunggu UP nya novel aku. Semoga kalian diberikan kesabaran ya, hahahahahahaha...
Jangan lupa komen, like dan vote sebanyak-banyaknya. Bantu Author untuk Vote biar Author tambah semangat lagi untuk berkarya.
Oia Author mau kasih tahu novel recommended banget buat kalian yang judulnya Don't Forget pena Yu Aotian.
Sambil menunggu Up novel ini kalian baca-baca dulu novel kesukaan aku...
__ADS_1
Happy Nice Day All..
Aku padamu ♥️