
Satu bulan bukan waktu yang lama untuk mempersembahkan sebuah pernikahan. Kedua calon pengantin ini sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan mereka. Tidak jarang mereka berdebat tentang perbedaan pendapat. Karena itu sudah lumrah di alami oleh pasangan calon suami istri.
“Jadi, mau yang ini ga?” tanya Didit pada calon istrinya yang duduk manis sambil menekuk wajahnya.
Didit menunjukan sepasang cincin yang dihiasi berlian diatasnya. Desi hanya diam mengangguk. Sebenarnya dia tidak ingin membeli barang yang sangat mewah, dan juga pernikahan yang terlalu dibesar-besarkan. Tapi, karena Didit adalah anak lelaki satu-satu dikeluarganya, mereka ingin membuat acara yang tidak di lupakan oleh semuanya.
Melihat calon istrinya setuju, akhirnya Didit pun membeli cincin yang harganya selangit. Setelah mendapatkan cincin, keduanya langsung ke tempat fitting baju pernikahan. Karena pernikahan keduanya yang sebentar akan terlaksana.
“Sayang, kenapa harus disini?” tanya Desi yang heran mereka berhenti di depan designer ternama di kota Jakarta. Yang Desi tahu, kalau designer ini sering digunakan artis-artis ibu kota papan atas. Didit hanya tersenyum dan meraih tangan Desi untuk masuk ke dalam. Dia tahu betul, kalau dia menjawab pertanyaan calon istrinya, maka akan ada lagi perang kata-kata. Desi akhirnya pasrah mengikuti langkah Didit masuk ke dalam.
Didit langsung menyapa designer yang merancang gaun pengantinnya. Keduanya pun langsung mencoba gaun yang sudah 90% jadi. Desi melirik tajam ke arah Didit, karena dia tahu kalau gaun yang ada di depannya pasti harganya selangit. Didit melempar senyuman, karena dia sudah lelah sejak tadi berdebat terus dengan calon istrinya.
Desi pun digiring oleh karyawan butik untuk fitting gaun pengantinnya, begitupun dengan Didit. Keduanya mencoba baju pengantin di ruangan yang berbeda. Setelah sepuluh menit Didit keluar dan menunggu Desi yang belum selesai memakai bajunya. Tidak lama dari situ, akhirnya Desi keluar. Didit yang melihatnya menganga. Desi tampak anggun dan sangat cantik, walau wajahnya belum sama sekali tersentuh oleh make-up.
“Kok, ngeliatin aku kaya gitu sih?” Desi tertunduk malu, karena Didit terus menatap dirinya.
“Kamu cantik, sayang,” dia langsung menghampiri Desi, dan membelai rambutnya.
“Sayang, ini pasti sangat mahal sekali?”
“Please beib! aku ga mau kita berdebat. Cukup debat kita seharian ini. Kamu jangan memikirkan berapa biaya yang aku keluarin untuk pernikahan kita, oke!”
“Tapi ....” Didit menutup bibirnya dengan telunjuk jarinya, membuat Desi seketika diam dan tidak melanjutkannya.
Ada dua pasang gaun mewah yang dipesan Didit. Dan dua-duanya sungguh elegan dan pas di tubuh keduanya. Setelah mencoba gaun pengantin, keduanya berniat langsung ke rumah Rendra, karena mereka akan makan siang bersama.
**♥️♥️**
Kediaman Rendra akhir-akhir ini diramaikan dengan tangisan baby Al. Kini usia bayi ganteng itu sudah menginjak satu bulan. Tubuhnya cepat besar, dia tumbuh dengan gemuk dan sehat.
Hampir setiap hari Rendra selalu pulang lebih awal untuk bisa bermain dengan kedua anak kesayangannya. Dia benar-benar menjadi suami yang sangat di idam-idamkan wanita diluar sana. Bagaimana tidak? dia selalu membantu Riana dalam mengurus keperluan anaknya. Walaupun mereka mempunyai baby sitter, tapi Rendra sama sekali tidak mengizinkan dia untuk menyentuh anak-anak. Tugasnya hanya menjaga dikala Riana sibuk mengurus salah satu dari anaknya.
“Mas, aku ke dapur dulu ya, sebentar lagi Kak Desi sama Kak Didit akan tiba.” Rendra hanya tersenyum mengangguk, dan kembali bermain dengan kedua anaknya.
Kedatangan Eki dan Sonia makin meramaikan suasana. Memang ketiga sahabat ini sudah janjian untuk berkumpul di kediaman Rendra, untuk membicarakan pernikahan Didit dan Desi yang tinggal menunggu hari.
“Onti ....” teriak Salsa dan langsung berlari memeluk Sonia.
__ADS_1
“Salsa, onti kangen sayang,”
“Onti, baby di dalem perut lagi apa?”
“Lagi bobo sayang.” Salsa mengusap perut Sonia, semua orang yang melihatnya melempar senyuman.
Sonia membantu Riana untuk menyiapkan makanan. Setelah semua makanan tersusun rapi diatas meja makan, kedua bergabung dengan para suami yang asik bermain dengan Salsa dan Alaric.
“Ini penganten pada kemana sih? lama bener,” ucap Eki.
“Kangen lo sama gue?” sahut Didit yang baru saja masuk. Keduanya langsung bergabung bersama mereka.
“Gimana urusan kalian beres?” tanya Rendra.
“Beres dong,” jawab Didit dengan bangganya. Disisi lain Desi memasang wajah yang cemberut dan langsung menghampiri anaknya.
“Kenapa lo Chi?” tanya Eki yang menyadari wajahnya yg masam.
“Jangan tanya dia bro, lagi PMS,” Didit menjawab pertanyaan Eki dan mendapat lirikan tajam dari kekasihnya. Semua orang yang melihatnya tertawa dengan pasangan yang banyak sekali drama kehidupannya.
“Ouh ... ampun beib, jangan liat seperti itu, hatiku sakit tau,” Desi tidak memperdulikan apa yang dikatakan Didit dan kembali bermain dengan Salsa.
“Bodo!” sahut Didit dan membuat mereka tertawa.
Keduanya menceritakan persiapan pernikahan yang sudah mereka siapkan Kembali ada perdebatan, keempat orang yang menyimak keduanya hanya menggelengkan kepala mereka, dan meninggalkan keduanya pergi ke meja makan. Mereka sudah biasa melihat mereka yang selalu berdebat. Menyadari sudah tidak ada orang bersama mereka, keduanya pun langsung menghampiri mereka di ruang makan.
“Gila, kita ditinggalin,” keluh Didit dan membuat semua orang menertawakan dirinya.
“Bosen gue liat lo berdua berdebat, ga bisa kaya kita berdua gitu?” ucap Rendra.
“Belom, nanti kalau udah nikah gue bakal lebih sweet dibanding kalian,” mereka hanya tersenyum menggelengkan kepala.
Tidak terasa hari sudah malam. Baby Al dan Salsa pun sudah tidur sejak tadi sehabis makan malam. Sonia dan Eki pun pamit pulang dan diikuti oleh Didit juga Desi.
“Inget, cukup anterin kerumah jangan masuk ke dalam.” ucap Rendra pada kedua calon pengantin.
“Gila, gue masih punya iman kali bro,”
__ADS_1
“Kali aja lo ga kuat ya 'kan? mana kita tahu bro,” ucap Eki. Keduanya sangat senang memang menggoda Didit dan Desi, secara mereka berdua orang yang punya ikatan lebih lama dari mereka, tapi orang yang terakhir untuk menikah.
“Gue tahan sampe nanti malam pertama,” semua yang mendengarnya tertawa, tapi tidak dengan Desi. Dia mencubit pinggang Didit sampai dirinya meringis kesakitan.
“Sakit Beib,”
“Ngomongnya jangan bar-bar.” ucap Desi singkat dan berhasil membuat Didit terdiam.
Mereka pun pamit pada Rendra dan Riana. Selama perjalanan Didit terus mencium tangan Desi yang ada di tangannya. Dia merasa bahagia yang luar biasa. Dia sudah tidak tahan untuk segera menikah dengan wanita yang selama ini selalu bersemayam di hatinya. Tidak terasa mereka sampai di depan mini market tempat biasa Didit memarkirkan mobilnya.
“Sayang, izinkan aku memiliki dirimu seutuhnya.” ucap Didit sambil menatap wajah Desi. Desi hanya tersenyum mengangguk.
“Sayang, kalau sekarang minta cium boleh?” Jantung Desi seketika berdebar dengan permintaan kekasihnya. Dia tertunduk malu membuat Didit semakin ingin memakan dirinya. Didit mengangkat wajahnya, dan mencium lembut bibir kekasihnya. Desi pun menyambut ciuman hangat dari kekasihnya. Beruntungnya keadaan sekitar sudah sepi karena memang hari sudah sangat larut.
“I Love You,” ucap Didit.
“Love You too, sayang.” keduanya sambil melempar senyuman.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Maapkan Author yang baru bangkit dari keterpurukan hahahaha...
Author mulai berusaha akan up One day One bab yaa...
Maap... Maap... Maap yaaaaa
aku padamu semuanya yang sudah setia menunggu Author up..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya biar Author tambah semangat dalam menulis.♥️♥️