Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 50


__ADS_3

S2 Bab 50


Akhir pekan ini Riana memaksa anak sulungnya untuk pulang ke rumah. Karena, sudah hampir dua bulan ini Alaric selalu sibuk dan melupakan di mana rumahnya berada. Sebenarnya masih banyak kerjaan yang harus dia lakukan, tapi Alaric tidak bisa menolak keinginan sang bunda.


Cekit .... --Suara decitan rem yang mendadak--


Alaric tiba-tiba saja membanting setir ke arah kirinya dan itu sontak mendapat klakson dari para pengguna kendaraan lain yang merasa terganggu. Hal itu dia lakukan karena dia melihat sosok yang selama ini dicarinya.


Alaric langsung turun dari mobilnya dan mencari gadis yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya. 'Ana apa benar itu kamu? Kenapa kamu tidak mengubungi aku?' gumamnya sambil melihat ke arah sekitar, karena jejaknya yang langsung menghilang. Alaric mencoba terus berlari mencari keberadaan Ana, tapi tidak juga bertemu.


Dengan nafas yang ngos-ngosan Alaric duduk di bangku yang ada dekat dengan trotoar. 'Mungkin ini hanya halusinasi aku saja.' Dia menyerah karena dia sama sekali tidak menemukan wanita yang tadi dilihatnya dari kaca spion tadi. Alaric pun kembali berjalan ke arah mobilnya yang cukup jauh dari tempatnya berada.


Dia kembali menjalankan mobilnya. Tapi pikiran Alaric terus tertuju pada wanita yang dilihatnya tadi. Dia yakin betul kalau wanita itu adalah Ana. Tapi, kenapa secepat itu Ana menghilang? Padahal Alaric sudah sebisa mungkin berlari dan terus mencarinya sampai dia masuk disemua pertokoan yang ada disana. 'Aku akan menemukanmu!' ucapnya.


Bukan hanya Alaric yang disuruh Riana untuk pulang ke rumah. Salsa dan Arez yang kini kuliah di luar kota pun disuruhnya untuk pulang ke rumah. Semenjak anak-anaknya meranjak dewasa dan satu-persatu keluar dari rumah dengan suatu alasan, Riana terasa sangat kesepian. Maka dari itu, weekend ini Riana ingin menghabiskan waktu-waktunya berkumpul dengan kekuarga kecilnya.


“Oma,” panggil Fasya saat mereka sudah sampai di rumah Riana. Dia pun langsung mengambil Fasya dari gendongan ayahnya.


“Bun, apa kabar?” tanya Fauzi sanbil mencium pundak tangannya.


“Baik, Ayah Fauzi,” jawabnya sambil tersenyum menatap cucu pertamanya.


“... ya sudah ayo masuk! Bang Al dan Arez sudah nerada di dalam.” Mereka pun menuruti titah dari sang bunda.


Rumah yang tadinya dingin dan terasa sepi akhirnya menjadi hangat dan damai. Terlebih sekarang ada Fasya sebagai penghibur untuk semuanya. Suasana yang selama ini Riana impikan. Dimana semua orang berkumpul di ruang keluarga dan sambil penuh dengan canda dan tawa.


'Andaikan rumah kembali menjadi ramai seperti ini,' gumamnya sambil tersenyum melihat tawa yang pecah dikala Arez menceritakan pengalamannya kuliah di Yogyakarta.

__ADS_1


“Oia Bang, bagaimana hubungan kamu sama Citra?” tanya Rendra. Karena Citra adalah anak dari teman baiknya di dunia bisnis.


“Kita baik-baik saja, Yah. Masih tetap berteman.”


“Sampai kapan Bang, kamu menutup hati kamu untuk perempuan lain? Kasian tuh bunda selalu saja memikirkan kamu.”


“Belum saatnya, Ayah. Tunggu saja tanggal mainnya” jawabnya sambil bercanda.


“Perasaan Lo dari dulu bilang belum saatnya mulu. Awas loh, yang kemaren kakak bilang. Lama-lama lo jadi bujang lapuk kalau lo selalu bilang belom saatnya,” timpal Salsa mengundang tawa semuanya.


“Ngomong itu yang baik-baik napa, Kak?! Bakal jadi doa tahu” kesal Alaric sambil mengambil cemilan yang baru saja Riana simpan di atas meja.


Semua orang sudah terlelap, karena seharian ini mereka lakukan bermain ludo dan berbincang-bincang. Riana masih belum bisa memejamkan matanya. Sejak tadi dia ingin sekali mengatakan sesuatu untuk anaknya itu. Riana pun memutuskan untuk pergi ke kamar Alaric.


Tok ... tok ... tok --Suara ketukan pintu--


“Bang, kamu sudah tidur?” tanya Riana di balik pintu kamarnya.


“Bang, kok belum tidur? Oia ... bunda punya satu keinginan untukmu.”


“Belum ngantuk, Bun. Bunda mau apa? Abang pasti beliin.”


“Bunda tidak mau kamu membelikan bunda apa-apa. Bunda hanya mau untuk terakhir kalinya kamu kenalan ya sama teman arisan bunda.” sambil menggenggam tangan anaknya, Riana memasang wajah yang memelas.


“Menjodohkan lagi. Abang capek, Bun! Sudah abang bilang, kalau abang tidak mau dijodoh-jodohkan. Karena jawaban abang akan tetap sama.” Alaric menutup bukunya dan membaringkan tubuhnya kemudian menarik selimut. Dia kesal karena bundanya selalu memaksa untuk berkenalan dengan wanita pilihannya.


“Bang, Janji deh! Ini jadi yang terakhir kalinya. Ayo dong! Masa kamu ga mau nurutin keinginan bunda? Kamu tahu, selama ini bun ....”

__ADS_1


“Kalau bunda kesepian dan ingin mempunyai menantu perempuan dari kamu,” lanjutnya. Alaric tahu apa yang akan dibicarakan Riana, karena kata-kata itu yang selalu keluar dari bibir snag bunda.


“Tuh kamu tahu. Jadi gimana? Mau ya?” Riana memasang wajah tersenyum. Melihat bundanya seperti itu, mana bisa Alaric menolak permintaan wanita yang sangat disayanginya. Alaric pun mengangguk membuat Riana sangat senang dan memeluk tubuh kekar anaknya.


“Makasih ya, Sayang. Kamu memang tidak pernah mengecewakan bunda. Bunda jamin, wanita kali ini pasti akan membuatmu menerimanya.” Alaric melepaskan pelukan Riana dan menatap tajam ke arahnya.


“Bun, Bunda tahu abang 'kan? Abang mau menuruti perinta bunda, tapi abang ga bisa janji untuk menerima siapapun itu yang bunda kenalin sama abang. Bukannya abang menolak, tapi bunda tahu 'kan kalau cinta dan kasih sayang abang buat siapa?” Riana tersenyum mengangguk.


“Untuk kali ini, coba buka hatimu ya, Sayang! Bunda tahu bentul hati kamu hanya milik Ana. Tapi setidaknya bukalah sedikit untuk wanita lain. Ya sudah istirahatlah, Bunda juga udah ngantuk.” Alaric tersenyum, Riana pun keluar melangkahkan kakinya.


'Maafkan abang, Bun! Sampai kapanpun hati ini tidak bisa terbuka untuk wanita lain.'


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan mint bantuannya untuk Vote yaaaa! Biar aku tambah semangat untuk melanjutkan ceritanya...


Follow IG @PENULISMICIN

__ADS_1


MAKASIH SEMUAAAAAA


AKU PADAMU 😘😘😘


__ADS_2