Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 2


__ADS_3

“Bang Al, Alaric! bangun dong, katanya sekarang ada kuliah pagi,” ucap Riana sambil membuka jendela kamarnya.


“Iya bunda sayang, abang bangun.” perlahan membuka matanya yang terkena silau matahari pagi.


“Jangan tidur lagi ya! Bunda tunggu di meja makan. Adik sama kakakmu sudah berkumpul di sana,”


“Iya bundaku sayang, abang bangun sekarang.” ucapnya sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi.


Riana tersenyum melihat anaknya sambil berjalan keluar.


Rutinitas pagi penerus keluarga Wicaksono selalu berkumpul sarapan bersama dipagi hari dan lanjut ngobrol-ngobrol sejenak sebelum mereka melakukan aktivitas. Salsa dan Arez sudah duduk manis di meja makan. Semua sudah berkumpul, tinggal menunggu Alaric datang.


“Pagi ....” sapa Alaric dan langsung duduk bergabung di meja makan.


“Bangun aja harus dibangunin kamu Bang, udah gede loh,” sindir Salsa pada adiknya.


“Sirik aja sih, Kak.” ucapnya sambil mencubit hidung kecil Salsa.


“Bang, kamu ya ....”


“Udah-udah, kebiasaan deh pagi-pagi udah usil kamu, Bang. Ayo makan, keburu kalian telat.” titah Riana pada anak-anaknya.


Beginilah suasana kediaman Wicaksono, penuh dengan kehangatan. Alaric sangat beda dengan dirinya setelah keluar dari rumahnya. Dia menjadi pria yang dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Berbeda dengan dirinya yang di rumah, dia usil dan juga sangat penyayang, terutama pada dua orang wanita yang sudah mengisi hatinya.


Selesai sarapan, seperti biasa semua pamit pada Rendra dan Riana. Masing-masing dari mereka membawa kendaraan mereka pribadi. Arez dengan motor ninjanya, Salsa dan Alaric membawa mobil mereka sendiri.


**Kampus**


Setelah memarkirkan mobilnya, Alaric dengan cepat berjalan, karena dirinya yg nyaris kesiangan.


Bruk ....


“Aw ....” teriak Ana sambil memegangi bahunya.


“Maaf, gue ga sengaja. Lo ga apa-apa 'kan?” tanya Alaric. Seketika hatinya berdebar saat melihat Ana mengangkat wajahnya. Entah kenapa melihat wajah Ana, Alaric seakan terhipnotis ingin terus memandangnya.


“Ga apa-apa kok, Kak. Maaf, aku mau lewat,” ucapnyapada Alaric yang menghalangi jalannya. Dia berjalan tertunduk malu dengan tatapan Alaric.


“Oh iya, sekali lagi maaf ya!” Ana hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Alaric.


Mata Alaric terus menatap punggung Ana. Sampai dirinya sadar dan melihat jam yang ada di tangannya. Dia pun berlari ke menuju kelasnya. Itulah pertemuan pertama kali dirinya dengan Ana. Pertemuan yang membuat hati Alaric bergetar seketika. Jangan ditanya, Ana pun merasa hal yang sama. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.


“Ana, sini!” teriak Aulia yang sudah menunggunya di taman. Ana langsung melemparkan senyumannya saat melihat sahabatnya yang duduk manis di sana.

__ADS_1


“Maaf lama! tadi gue dari toilet dulu,”


“Iya ga apa-apa.”


Tring ... Tring (Suara pesan grup di ponsel Aulia)


Gibran : “Guys, kumpul di cafe yok!”


Krisna : “Oke, dengan senang hati, bro”


Alaric : “Satu jam lagi, gue masih kelas,”


Gibran :“Siap Bang, satu jam lagi kita kumpul.”


“Hey, dari siapa?” tanya Ana.


“Ah ... ini abang-abang gue. Oh iya, habis ini ikut yuk!”


“Kemana?”


“Ke cafe bokap. Sekalian gue kenalin sama tiga abang gue yang rese,”


“Ga ah, malu gue,”


“Ayolah! ya ... ya ... ya, please!” melihat wajah memelas sahabatnya Ana tidak bisa menolah. Dia pun mengangguk tersenyum, dan itu membuat Aulia senang dan langsung memeluk tubuh kecilnya.


“Iya ... iya baweeel. Ayo berangkat!” ucap Auliaa menarik tangan sahabatnya.


*Satu jam kemudian, di cafe*


Ketiga lelaki sudah berkumpul di sana, tidak lupa Intan pun ikut bersama mereka. Dia tidak mau melewati kesempatan untuk dekat dengan Alaric. Di mana pun mereka berkumpul, pasti Intan akan ikut bersama mereka. Karena, Intan sudah dianggap sahabat mereka.


“Maaf telat.” ucap Aulia yang baru saja datang bersama dengan Ana.


Alaric tampak kaget melihat gadis yang dia tabrak tadi di kampus, begitupun dengan Ana. Mereka yang ada di sana merasa heran melihat keduanya yang saling beradu pandang.


“Abang kenal sana Ana?” tanya Aulia.


“Ah ... ga kok, abang baru ketemu malah,” ucapnya sedikit terbata. Gibran dan Krisna yang melihat Alaric tersenyum nakal, mereka tau kalau Alaric kagum dengan teman dari Aulia. Tidak dengan Intan, dia langsung menatap sinis ke arah Ana, dan itu berhasil membuat Ana merasa tidak nyaman.


“Oh iya, ini sahabat Aulia namanya Ana,” Dia memperkenalkan pada abang-abang, dan keduanya pun duduk.


Kebetulan Ana duduk berhadapan dengan Alaric, dan itu membuat keduanya menjadi sangat canggung. Entah kenapa Alaric baru kali ini merasa canggung pada wanita. Sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan wanita mana pun selain bunda dan Salsa. Kecanggungan Alaric disadari oleh saudara-saudaranya, dan membuat mereka merasa senang, tapi tidak dengan Intan. Sejak tadi dia melihat ke arah Ana dan membuat Ana menjadi salting --salah tingkah--.

__ADS_1


Apa bagusnya ni cewek, cantikan gue kemana-mana kali, gumam Intan kesal dalam hatinya.


Gibran adiknya Aulia membuka pembicaraan, ditengah keheningan yang membuat mereka menjadi canggung. Akhirnya suasana ramai dengan candaan Krisna dan Aulia. Ana hanya sesekali tertawa melihat keduanya. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 14.00, dan itu artinya Ana harus pamit kepada mereka untuk kerja.


Dia pun menarik lengan Aulia dan berbisik kalau dia akan pamit pergi. Aulia mengangguk, dan langsung memberi kode mata pada dua orang abangnya yang ada di depannya.


“Abang, dan yang lainnya, Ana mau izin pamit ya! soalnya Ana ada shift kerja,”


“Oh gitu, emang kamu kerja dimana?” Tanya Krisna.


“Di toko Bakery deket kampus, Bang.” jawabnya dengan semyuman manis.


“Wah ... kebetulan banget, tadi Bang Al bilang dia mau ke kampus. Gimana kalian bareng aja?” Alaric yang mendengar perkataan dari sepupunya, Gibran langsung melihat pada dia dan memainkan matanya.


“Emang kapan Bang Al ngomong gitu?” tanya Intan sedikit kesal.


“Tadi waktu lo ke toilet,” jawab Krisna.


“Eh ... ga usah Bang, Ana ga mau ngerepotin orang. Ana bisa sendiri kok,”


“Ana sayang, dari sini ke kampus lumayan jauh. Nanti lo kesiangan lagi. Bang Al, buruan nanti sahabat Aulia kesiangan nih kerjanya,” entah kenapa keempat adiknya menyuruh dirinya untuk mengantarkan Ana. Karena tidak enak pada Ana, Alaric pun terpaksa mengikuti rencana mereka.


“Ga apa-apa kok Ana, sekalian gue mau ke kampus. Ayo!” Alaric berdiri sambil menatap sinis ke arah Gibran dan Krisna, dan membuat kedua lelaki itu tersenyum nakal sekaligus merinding dengan tatapannya.


Keduanya pun berdiri, “Bentar, Intan juga ada sedikit urusan ke kampus. Intan ikut!” dengan cepat Gibran menarik tangan teman dekatnya itu.


“Tan, kita kan udah ga ada kelas, lagi pula lo udah janji mau antar gue.” Gibran menarik tangannya kembali duduk. Intan tidak mengerti apa maksud darinya.


“Tapi Gib ....” dengan cepat Aulia memotong pembicaraan Intan.


“Udah kalian berdua pergi, Ana keburu telat kerjanya.” ucapnya sambil mendorong tubuh keduanya. Keduanya pun akhirnya berjalan menuju parkiran meninggalkan semuanya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


Gimana-gimana, menurut kalian Alaric langsung menyukai Ana atau tidak? Tulis jawaban kalian di komentar ya ....


Jangan Lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ♥️


__ADS_2