
Semua orang sibuk mengatur kendaraan yang akan mereka bawa. Agar tidak membawa banyak kendaraan. Rendra dan istrinya satu mobil dengan Arez anak bungsunya. Eki dan Sonia satu mobil dengan Didit juga Desi. Salsa dan Fauzi satu mobil dengan Krisna juga Aulia. Terakhir Alaric dan Ana satu mobil dengan Gibran juga Intan. Semua orang sudah siap di mobil masing-masing. Empat mobil itu pun melaju beriringan memasuki tol kota terlebih dahulu.
Melihat kemesraan Gibran dan Intan membuat Alaric sedikit ada rasa iri. Bagaimana tidak, Intan yang terus menyuapi makanan pada kekasihnya yang sedang konsentrasi mengemudi, membuat keduanya sebagai penonton drama percintaan.
“Nyesel gue semobil sama orang yang lagi kasmaran,” kesal Alaric dan membuat mereka tertawa dengan ucapannya.
“Sirik aja lo, Bang. Makanya cepetan napa resmiin tuh status, masa kalah ma gue,” ujar Gibran membuat kedua pipi Ana memerah mendengarnya.
“Dih ... sombong banget sih lo.” Alaric melirik ke arah Ana yang tertunduk malu.
Perlahan Alaric menggeser duduknya mendekati Ana.
“Kamu ngantuk?” bisiknya. Ana hanya menggelengkan kepalanya.
“Kalau ngantuk, nih senderan disini,” ucapnya sambil menunjukan bahunya. Ana tersenyum mengangguk, dan perlahan mendekatkan kepalanya menyender pada bahu Alaric. Walaupun dia tidak merasakan kantuk tapi dia tidak akan menyia-nyiakan tawaran Alaric padanya. Gibran yang melihat pada kaca spion tersenyum.
Akhirnya lo bisa terbuka juga ma cewek, Bang. Gue kira lo kelainan, gumamnya sambil tersenyum.
Melihat kekasihnya yang tersenyum, Intan menanyakan dengan pelan. Gibran hanya menjawabnya dengan isyarat jarinya yang menunjuk ke arah belakang. Intan yang penasaran melirik sedikit ke arah belakangnya dan melihat itu Intan pun ikut tersenyum.
**♥️♥️**
Salsa yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya membuat Fauzi sedikit kesal. Dia mengambil ponsel kekasihnya itu dan menyimpannya ke dalam saku jaketnya.
“Zi, aku masih banyak kerjaan!” ucapnya kesal.
“Kita mau liburan loh, yank. Masa masih disibukkan dengan kerjaan mulu. Udah dong, bisa 'kan tiga hari ini ga mikirin kerjaan? Ayah juga nyantei-nyantei aja. Udah percayai semua sama anak buah kamu, kali-kali mereka kerjain semuanya sendiri,” jelas Fauzi membuat Salsa tidak bisa berkutik.
Krisna dan Aulia hanya terdiam melihat pasangan yang selalu saja berdebat. Dan itu sudah biasa mereka lihat, jadi mereka hanya diam dan menonton keduanya.
“De, kalau mau tidur, sini!” ucap pelan Krisna menunjukan pahanya. Aulia tersenyum dan langsung merebahkan tubuhnya. Krisna dengan lembut mengusap rambutnya, kedua mata mereka saling memandang dan hanya melemparkan senyuman.
Tidak ada hubungan apa-apa antara keduanya. Tapi, keduanya tahu kalau mereka saling menyukai satu sama lainnya. Mereka memang saudara tapi kalau dilihat dari silsilah keluarga mereka tidak sama sekali terikat darah. Mereka hanya saudara sepupu yang tersambung dengan pernikahan Riana dan Rendra. Tapi, itu yang membuat Krisna ragu untuk mengungkapkan perasaannya. Dia takut orang tuanya tidak setuju kelak dengan hubungan dirinya bersama Aulia.
__ADS_1
Setelah hampir empat jam perjalanan, karena diselingi sedikit kemacetan lalu lintas, akhirnya mereka pun sampai di villa yang berada di Lembang daerah Bandung. Suasana yang dingin seperti di Puncak membuat udara sejuk tidak seperti penatnya kota Jakarta. Masing-masing dari mereka membawa barang bawaan mereka dan masuk ke dalam villa.
Villa yang di lengkapi dengan lima buah kamar tidur, tiga kamar utama dengan satu kasur besar di dalamnya dan dua kamar yang lain di dalamnya mempunyai masing-masing dua buah kasur yang lumayan besar. Dilengkapi juga dengan satu buah kolam renang air hangat. Semua tampak puas dan senang berada di villa itu.
“Wah ... bisa juga kamu pilih tempat liburan,” ucap Eki sambil merangkul bahu sahabat sekaligus kakak iparnya.
“Jelaslah,” ucap Rendra membanggakan diri.
Masing-masing dari mereka pun membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam kamar. Untuk para orang tua mereka menempati tiga kamar utama. Para gadis dan juga para lelaki menempati kamar mereka masing-masing. Khusus buat para lelaki, Rendra memesan satu tambahan kasur lagi karena jumlah mereka yang ganjil ditambah dengan Arez.
“Hai Ana, kita belum kenalan langsung nih. Kenalin gue kakaknya Alaric, Salsa,” ucap Salsa memperkenalkan dirinya pada calon adik iparnya.
“Kak Salsa, aku Ana.” Dia melempar senyuman.
“Btw, bisa juga lo buat hati es meleleh,” canda Salsa membuat Ana tidak mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya. Intan dan Aulia yang mendengarnya tertawa, karena memang mereka tahu betul bagaimana Alaric yang sebelumnya sangat cuek dengan para wanita yang mendekati dirinya.
Melihat Ana yang kebingungan, Aulia menghampiri dirinya dan merangkulnya, “Lo jangan ambil pusing sama perkataan kak Salsa. Dia cuma becanda kok,” ucapnya membuat Ana tersenyum.
“Lo santai aja Ana. Keluarga gue ga pernah memilih-milih pasangan untuk kita. Selama kita enjoy mereka pasti setuju,” ucapan Salsa kembali membuat Ana kebingungan, karena memang dia belum ada hubungan apa-apa dengan Alaric.
“Adek gue belom nyatain perasaannya?” pertanyaan Salsa membuat Ana tersenyum malu. Dia menundukkan wajahnya yang sudah mulai memerah. Intan dan Aulia lagi-lagi menertawakan keduanya.
Disisi lain, Alaric yang sedang meminta petuah-petuah dari sesama lelaki, bagaimana cara menyatakan perasaan pada wanita. Ketiga lelaki dewasa itu memberikan pendapat yang berbeda dan membuat Alaric semakin binggung apa yang harus dia lalukan.
Arez yang yang sejak tadi asik memainkan ponselnya pun angkat bicara mendengar perbincangan keempat lelaki dewasa yang ada dikamar itu.
“Ya kalau suka bilang suka, Bang. Ribet amat sih. Kalau kalian sama-sama suka juga pasti si cewek bakalan terima.” dengan lempengnya Arez mengatakan itu membuat keempatnya dia tidak berkutik.
“Yaelah bang Al, lo kalah sama adek loh tuh,” sindir Krisna membuat mereka tertawa.
“So dewasa lo dek,” ucap Alaric sambil melangkah kakinya keluar. Sebenarnya dia merasa sangat malu, karena memang kalau dipikir-pikir pemikiran Arez terkadang lebih dewasa dari pada dirinya. Melihat Alaric yang langsung keluar dari kamar membuat mereka yang masih berada di dalam kamar menertawakan dirinya.
Saat keluar dari kamar, Alaric berpapasan dengan Ana yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Keduanya saling memandang dan melemparkan senyuman.
__ADS_1
“Bang Al, Ana sini!” panggil Riana yang sedang berada di dapur Villa, merapihkan aneka makanan yang dibawanya dari Jakarta. Keduanya pun menghampiri Riana.
“Iya, Bu,” ucap Ana.
“Jangan panggil ibu, panggil bunda aja.” Ana langsung melirik ke arah Alaric, dan Alaric mengangguk tersenyum agar Ana menyetujui titah ibundanya.
“Iya, bunda.”
“kebetulan bunda tadi lupa ketinggalan minyak, bisakah kalian berdua membeli minyak sekalian beli buah-buahan ke minimarket yang ada di kota?” Riana sengaja menyuruh anaknya membelikan minyak untuk dirinya agar memberikan waktu untuk Alaric menyatakan perasaannya. Dia tahu jarak villa ke kota lumayan sangat jauh dan itu menjadi alasan Riana menyuruh mereka.
“... kamu ga capek 'kan, Bang?”
“Ga kok, Bun. Lagipula 'kan tadi bukan abang yang nyetir. Ya udah, Ana yuk!” Ana tersenyum mengangguk. Keduanya pun pergi pamit.
“Bunda-bunda bisa aja kamu nyari celah. Bukannya bunda udah siapin semuanya semalem?” ucap Rendra menghampiri istrinya.
“Biasa Mas, strategi mba Riana demi mendukung sang anak mendapatkan hati gadis yang disukainya,” canda Sonia membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Seperti janji Author, semakin naik peringkat novel ini Author akan tiap hari up. So, terus dukung dengan cara Vote sebanyak-banyaknya ya guys...
Buat kalian yang baca dimohon juga untuk Like tiap babnya dan kalau kalian tidak keberatan juga untuk komen, biar popularitas novel ini semakin meningkat. Karena entah kenapa akhir-akhir ini novel ini terus saja turun. Dimohon dukungannya semuanya 🙏🙏
__ADS_1
Aku padamu ♥️♥️