
S2 Bab 66
Kini Alaric dan Ana hanya bisa menahan rindu, pasalnya ponsel keduanya disita masing-masing ibu mereka. Tinggal dua hari lagi pernikahan akan dilangsungkan, tapi dua hari bagi Alaric serasa satu tahun. Ana sendiri disibukkan dengan berbagai perawatan, sehingga tidak terlalu diterpa malarindu seperti halnya Alaric.
Semua keluarga ikut andil dalam pernikahan anak pertama dari kedua keluarga ini. Persiapan yang serba mendadak akhirnya bisa sempurna dalam waktu satu bulan berkat bantuan semuanya. Balai Kartini Jakarta menjadi pilihan tempat sakral untuk keduanya. Salah satu gedung besar di Jakarta itu disulap menjadi sangat mewah.
Kini berganti hari, dan itu artinya pernikahan akan dilaksanakan besok. Bukan hanya kedua calon mempelai aja yang merasa gugup, tapi juga keluarga mereka. Tamu-tamu undangan nanti banyak dari kalangan kolega-kolega bisnis dan juga ada dari pejabat-pejabat pemerintahan.
Malam itu Alaric tidak bisa memejamkan matanya, karena dia tidak sabar untuk pernikahan besok. Impian dia selama ini sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Ingin rasanya dia mendengarkan suara manis Ana, rindu ini membuatnya sangat tersiksa.
“Bang, kamu belum tidur?” tanya Riana masuk ke dalam kamarnya yang masih terbuka.
“Belum, Bun.”
“Tidurlah, Bang! Biar besok kamu fresh,” titah Riana.
“Bun, boleh enggak Abang minta satu permintaan.” Riana mengerutkan keningnya, saat dia melihat wajah memelas anaknya. Dan dia tahu apa yang akan dipinta oleh Alaric.
“No ... no ... no. Enggak sabaran banget sih kamu. Tahan dulu rindunya. Perasaan dari kemaren minta satu permintaan mulu. Selain itu bunda kasih, tapi kalau masih tetap sama, maaf bunda ga bisa. Ya udah ... kamu tidur! Bunda juga sudah capek mau tidur.” Riana pun kembali melangkah keluar kamarnya.
“Bun ... Bunda! Sebentar saja, Bun.” Riana tersenyum dan mengabaikan permintaan anaknya.
Ya ... sejak kemarin Alaric terus saja memohon untuk meminjam ponselnya dan menghubungi Ana walau hanya sebentar saja. Tapi pendirian Ana tetep kokoh, dan menolak semua permintaan anaknya.
'Cih ... kalau gue jadi presiden, gue hapus itu adat istiadat!” kesal Alaric dan merebahkan badannya mencoba untuk tidur.
Dini hari semua orang tampak sibuk dengan berbagai macam keperluan yang akan dibawa ke gedung pernikahan. Kesibukan itu tidak hanya nampak pada keluarga wanita saja, tapi dari pihak keluarga pria juga. Terutama Riana yang harus menggurus ketiga jagoannya dan juga berbagai macam hantaran. Beruntungnya ada Aulia dan Sonia yang menginap di sana, dan membantu segala persiapannya.
“Bun, abang belum bangun?” tanya Aulia yang tidak melihat sepupunya itu.
“Oiya ... bunda sampai kelupaan. De, bangunin abang dong, dia itu benar-benar ya! Semalam disuruh tidur susah, dan sekarang masih harus dibangunin. Semoga saja Ana sabar menghadapinya.” semua orang tertawa saat Riana mengeluhkan anaknya.
__ADS_1
“Oke, Bun.” Aulia pun bergegas ke kamar Alaric. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung masuk ke dalam kamar.
“Astaga, Abang!” teriak Aulia kaget saat melihat Alaric yang duduk melotot dengan mata pandanya.
“... Abang kenapa? Ehm ... aku tahu, kayanya Abang kena sindrom orang bego sebelum pernikahan,” ucapnya sambil tertawa puas.”
“Enak aja! Gue semalaman ga bisa tidur, dan sekarang gue ngantuk banget,” ucapnya sambil membuang napas kasar.
“Bang, lo gugup ya?” Alaric hanya bengong mengangguk. Aulia menarik tangan abangnya masuk ke dalam kamar mandi, agar bergegas membersihkan dirinya.
“Awas jangan bengong terus, kalau enggak ....”
“Apa? Kalau enggak apa?” tanya Alaric menantang.
“Ya ... kalau enggak aku panggil bunda biar mandiin Abang.” Aulia menjulurkan lidahnya dan berlari keluar kamar.
“Punya adek kok rese banget ya,” teriak Alaric yang sudah berada di dalam kamar mandi.
Sebenarnya semua sudah menggunakan wedding organizer, tapi tetap pihak keluarga turun tangan untuk persiapan-persiapan kecil seperti saweran—memberikan doa kepada mempelai pengantin. Dalam arti doa, sawer merupakan kata-kata yang berupa puisi isinya doa yang dibacakan pada saat dilakukan acara nyawer pada acara pernikahan, yaitu pada saat menabur beras, kunyit, permen dan sebagainya itu pada para undangan yang hadir.
Waktu sudah menunjukan pukul 07.00, pihak dari wanita bersiap-siap untuk menyambut pihak laki-laki yang sebentar lagi akan datang. Selama perjalanan, Alaric terus memainkan jari jemarinya karena gugup.
“Biasa saja, Bro. Bawa santai,” ucap Gibran yang menjadi supir dari mobil pengantin yang dihias dengan aneka bunga.
“Kaya lo enggak aja waktu married sama Intan.”
“Hahaha ... iya juga sih. Gue juga gugup waktu itu. Tapi gue sih bawa santai saja. Pura-pura tenang, padahal jantung gue hampir copot,” canda Gibran mengundang tawa.
Semua pihak dari keluarga wanita sudah berdiri berjajar di depan dekat pintu masuk gedung, untuk menyambut keluarga pengantin pihak pria yang baru saja datang. Berbagai macam adat untuk menyambut pengantin pria sudah dilakukan. Di sisi lain, Ana yang sudah cantik bak putri kerajaan gugup menanti gilirannya dipanggil keluar. Beruntungnya ada Ibu Sarah yang menemaninya saat itu.
“Bu, terima kasih ya!” tiba-tiba Ana mengucapkan itu pada ibu asuhnya, dan membuat Ibu Sarah merasa heran.
__ADS_1
“Kenapa berterima kasih, Nak. Ibu tidak melakukan apapun sampai kamu harus berterima kasih sama Ibu,” ucap Sarah kebinggungan.
“Terima kasih sudah merawat aku dulu. Mungkin kalau bukan karena Ibu, Ana tidak tahu nasib Ana sekarang. Semua yang Ana alami, kebahagiaan yang Ana dapat itu berkat dari kasih sayang, Ibu. Sebenarnya sampai sekarang Ana masih penasaran siapa orang tua Ana sebenarnya, tapi rasa penasaran Ana terhapus dengan kasih sayang tulus yang Ibu berikan pada Ana. Bu ... Ibu akan tetap menjadi Ibu pertama dalam hidup Ana. Ana merasa kalau Ibulah yang melahirkan Ana sehingga Ana bisa sebesar ini. Sekali lagi terima kasih, Bu.” mata Ana mulai berkaca-kaca.
“Sayang, jangan menangis. Tahan air mata kamu saat nanti ijab kabul selesai. Ibu juga mau berterima kasih padamu, Nak. Terima kasih karena sudah hidup dengan bahagia. Kebahagiaan kamu adalah bahagia ibu juga. Ya ... lupakan yang pahit dalam kehidupan kamu. Ibu adalah orang yang melahirkan kamu ke dunia. Jangan mengingat asalmu dari mana, yang harus kamu ingat kalau kami semua menyayangi kamu sepenuh hati.” Ana mengangguk tersenyum, dan dia pun memeluk tubuh Sarah.
“... berbahagialah, Nak.”
“Iya, Bu. Pasti!” keduanya melepaskan pelukan dan saling melempar senyuman.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Don't Forget
👍Like
💬 Komen
🌺 vote sebanyak-banyaknya...
Terima kasih All
__ADS_1
Aku padamu ❤️❤️❤️