
Sudah hampir empat bulan ini Rendra terus begadang menemani istrinya. Demi menemani sang istri, Rendra rela tidur di sela-sela jam istirahatnya. Selama itu dia benar-benar kurang istirahat untuk mendampingi istrinya. Tapi, beruntungnya sudah satu minggu ini Riana tertidur pulas saat malam hari dan itu membuat Rendra biasa istirahat lebih lama.
Hari ini Rendra sengaja ambil cuti untuk melihat anak yang masih ada dalam perut istrinya. Ya, hari ini waktunya mereka kontrol si buah hati. Karena Sonia dan Eki sibuk menyiapkan pernikahan mereka, maka Desi lah yang menjaga Salsa di rumah.
Sedikit cerita tentang Desi, Dia kini bekerja di perusahaan milik Rendra. Karena tempat kerjanya yang jauh dari rumah, Riana memohon pada suaminya untuk mempekerjakan kakaknya di perusahannya. Riana tidak menyangka, ide yang hanya sembarangan terlintas di pikirannya langsung di setujui oleh Rendra. Sebenarnya selain karena permintaan istrinya, itu juga permintaan dari sahabatnya agar menerima Desi di kantornya..
Sampai di Rumah Sakit, keduanya langsung menunggu di ruang tunggu, karena sebelumnya Rendra sudah menghubungi pihak Rumah Sakit untuk mendapatkan nomer antrian. Tidak lama mereka datang, nama Riana pun dipanggil dan mereka masuk ke dalam ruangan.
Seperti biasa Rendra lah yang konsultasi dengan dokter, sedangkan istrinya hanya diam melihat suaminya menerangkan semua yang di rasakan istrinya.
Ini kok malah Mas Rendra mengerti banget apa yang aku rasakan? Aku saja sampai lupa apa yang aku rasakan selama ini.
Setelah mengobrol lama dengan Dokter kini giliran Riana untuk di periksa. Seperti biasa Dokter menempelkan jel biru di atas perutnya. Perut yang sudah sedikit mengembung, karena sang bayi yang sudah berusia 4 bulan.
“Wah, jenis kelaminnya udah keliatan ni, mau tau ga?” ucap Dokter. Keduanya saling menatap dan tersenyum bahagia.
“Kami ingin menjadi kejutan Dok,” ucap Rendra. Walaupun sebenarnya Riana sangat ingin mengetahuinya tapi Rendra lebih memilih untuk merahasiakannya.
“Oke kalau begitu. Anak sehat, detak jantung bagus dan semua normal. Saran saya banyak makan aja ya Bu, karena BB Ibu sangat kurang untuk usia kandungan empat bulan,”
“Iya Dok, dia sangat susah sekali makan. Sekalian bikin resep vitamin penambah nafsu makan, Dok.” Dokter tertawa mendengar permintaan dari Rendra, sedangkan Riana hanya tertunduk malu.
Mas Rendra apa-apa sih?! Aku bukan anak kecil tau, ingin rasanya Riana mengeluarkan kata-kata ini di depan suaminya. Tapi apa daya dia hanya berani menyimpannya dalam hati.
Kali ini banyak sekali obat yang harus di minum oleh Riana. Rendra benar-benar meminta Dokter meresepkan banyak vitamin untuk istrinya. Dia sangat bawel dan posesif semenjak istrinya mengandung. Sampai-sampai Riana kadang lelah dengan Rendra yang memperlakukan dia seperti anak bayi.
**♥️♥️**
Saat istirahat Didit sengaja menggunakannya untuk bertemu dengan Desi rumah sahabatnya.Satu hari tidak bertemu di kantor membuat dirinya sangat merindukan Desi. Desi yang sedang asik bermain dengan anaknya kaget saat kedatangan Didit.
__ADS_1
Ngapain coba dia kesini?? Kesal Desi walaupun dalam hatinya dia merasa cukup bahagia.
“Om Didit ....” Salsa yang melihatnya sangat senang seklai. Dia langsung berlari dan memeluk tubuhnya.
“Mau apa ke sini?” tanya Desi dengan wajah yang sedikit jutek.
Sebenarnya sikap dia selama ini ke Didit hanya untuk kebaikan mantan kekasihnya. Dia tidak ingin Didit terus mengejar dirinya yang sudah tidak pantas dicintai. Didit masih bisa mencari wanita yang lebih segalanya di banding dengan dirinya.
“Aku, kangen sama Salsa, juga sama wanita yang mengandung Salsa.” ucapnya membuat wajah Desi memerah. Untungnya Salsa belum mengerti apa maksud omongan dari Didit tadi.
“Udah makan?” Didit tersenyum menggelengkan kepalanya.
Desi berjalan ke arah dapur dan membantu assisten rumah yang memang lagi menyiapkan makanan untuk makan siang.
Chi, aku ingin seperti ini bersamamu. Berkumpul di rumah dan kamu melayani aku seperti ini, batinnya sambil menatap Desi yang berada di dapur.
Selesai memasak, Desi menyiapkan makanan untuk Didit. Didit yang sejak tadi duduk di meja makan, terua menatap Desi sambil tersenyum. Dan itu membuat dirinya sadar, apa yang aku lakukan? Kenapa aku seolah-olah istrinya karena mengalaskan makanan untuknya? Piring yang sudah dia pegang diberikan ke Salsa dan itu membuat Didit merasa heran.
“Ambil aja sendiri,” Ketus Desi. Didit Tersenyum, ingin rasanya di memeluk dan mencubit pipinya.
“Jutek banget sih! Kirain tadi buat aku. Hati aku sudah berdebar lo Chi,”
“Dih GR banget jadi orang. Udah makan dulu, keburu jam istirahatnya habis,”
“Ga apa-apa, paling kalau aku telat ke kantor dimarahin calon kakak ipar aku,”
“Maksudnya?” Didit hanya tersenyum dan menyantap makanannya.
Desi menahan senyumnya, berulang kali Didit membuat dirinya ingin tersenyum. Hampir saja dinding hati Desi rubuh karena, ucapan darinya. Sebenarnya semua ini Desi lakukan karena rasa cinta dia yang begitu besar untuk Didit. Dia ingin kalau Didit bisa berbahagia bersama wanita yang sempurna, bukan wanita seperti dirinya yang tidak punya hati meninggalkan kekasihnya, keluarga bahkan anaknya sendiri.
__ADS_1
Selama ini Desi selalu mengutuk dirinya sendiri. Dia mengakui kalau dirinya adalah wanita terkejam yang ada dimuka bumi ini. Dan sekarang dia ingin sekali memperbaiki kesalahannya dahulu, terutama pada adik dan anaknya. Dan juga dia ingin menebus kesalahannya pada Didit dengan mencoba memperkenalkan dirinya dengan teman-teman Desi yang memang sedang mencari pasangan. Rencananya Desi akan memperkenalkan mereka akhir minggu ini. Dan semoga rencana yang dia buat bisa berhasil. Dengan begitu rasa bersalahnya sedikit mengurangi.
Selesai makan, Didit terus menatap wajah manis Desi yang sedang menyuapi anaknya. Desi yang terus-menerus dilihat olehnya menatap Didit dengan tatapan sinis dan itu membuat Didit tertawa.
“Jangan jutek-jutek napa? Serem amat ngeliatnya,”
“Lagian ngapain ngeliatin Gue kaya gitu sih. Udah siang, balik kantor sana!”
“Kamu ngusir calon suamimu sendiri?”
“Cih ... Siapa juga yang mau jadi istri kamu. Udah sana keburu telat. Banyak kerjaan yang harus kamu kerjakan 'kan?”
“Cie ... tau banget kerjaan lakinya. Iya-iya aku mau berangkat. Nanti aku jemput ya ....” Desi hanya mendelik tajam ke arah Didit. Sedangkan Didit melempar senyuman manisnya pada Desi.
Dit, jangan seperti ini, please! Kalau kamu seperti ini, aku akan terus merasa bersalah. Aku berharap yang terbaik untukmu. Aku bukan wanita yang sempurna untukmu, Dit. Maafkan aku!! gumam Desi sambil menatap punggung Didit. Didit membalikkan badannya dan melambaikan tangan pada Salsa dan Desi. Dengan cepat Desi mengalihkan pandangannya dan itu membuat Didit tersenyum bahagia.
Keras kepala kamu ga berubah sayang. Tunggu aku yang bisa meluluhkan hatimu. Didit berjalan ke arah mobilnya sambil tersenyum.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya...
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian selama ini....
Aku Padamu semuanyaaaa 🥰🥰😘😘😘😘😘😘