
“Dek, kamu tau kan Abang sayang banget sama kamu?” ucap Eki pada Sonia.
“Iya, Terus?” tanyanya sambil memainkan ponselnya. Eki mengambil ponselnya agar Sonia hanya memperhatikan dirinya seorang.
“ ... Kenapa sih Bang? Kok tumben banget nanya seperti itu. emang aku kurang meyakinkan yah?”
Eki menggenggam tangan Sonia dan mengubah posisi duduk berhadapan dengannya.
“De, Abang serius ngelamar kamu. Abang mengerti umur kamu masih muda dan masih ingin menikmati masa mudamu.Tapi, Abang berharap kamu mau menikah dengan Abang. Abang benar-benar mencintaimu dan takut kehilanganmu.” Eki mencium tangan Sonia.
Sonia tidak menyangka kalau Eki seserius ini dengannya. Selama ini dia mencoba menjalani hubungan dengan sahabat dari kakaknya, berjalan seperti layaknya pasangan pada umumnya, tanpa memikirkan akan dibawa kemana hubungan mereka. Ya, umur Sonia dan Eki terpaut cukup jauh yaitu enam setengah tahun. Eki pun selama ini mencoba memahami Sonia dengan sikap manjanya.
“Bang, Sonia masih mau kuliah sampai lulus. Apa boleh?”
“Tentu saja sayang. Abang tidak akan melarang dan membatasi pergaulanmu selama itu masih wajar. Percaya sama Abang, kalau Abang akan membahagiakan kamu.” kembali dia mencium tangan kekasihnya.
Sonia tersenyum, di bahagia mempunyai kekasih sekaligus kakak yang mengerti akan dirinya. Sonia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi kiri Eki. Ini menjadi pertama kalinya Sonia menciumnya selama mereka dua tahun pacaran. Karena, selama ini Eki selalu menjaganya dan mereka hanya sebatas pegangan tangan saja.
Eki jelas merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya. Dia memegangi pipinya dengan wajah yang kaget dan itu membuat Sonia tertawa melihatnya.
“Abang kenapa?” tanyanya masih tertawa.
“Ade kok ga bilang sih, jantung Abang hampir copot loh,”
“Gitu aja, lebaaaay banget siih calon suami Sonia.” Sonia mencubit kedua pipinya. Eki memegang tangan Sonia, keduanya terdiam saling menatap. Perlahan Eki mendekatkan wajahnya dan itu membuat Sonia refleks menutup wajahnya. Melihat itu membuat Eki tertawa. Dia pun mencium kedua pipi Sonia dan terakhir mencium keningnya.
__ADS_1
“Yang tengahnya spesial buat nanti.” bisiknya. Sonia membuka matanya merasa malu. Eki tersenyum melihat wajah masam Sonia, dia menempelkan jarinya ke bibirnya dan menempelkannya ke bibir Sonia.
“Untuk sekarang ini dulu.” keduanya saling melempar senyuman.
***♥️♥️***
Riana tidak bisa tidur, karena sejak tadi dia merasa pusing dan mual. Anehnya hal ini dia rasakan pada malam hari saat menjelang tidur. Rendra sangat cemas dengan sang istri, dia memijat kepalanya dan diapun ikut bergadang menemani istrinya.
“Sayang, apa perlu kita ke Dokter?” cemas Rendra.
“Ga perlu Mas, ini hanya bawaan oroknya. Ooeeek ....” Riana langsung berlari ke kamar mandi, Rendra dengan sigap langsung menyusulnya dan memijat punggung lehernya.
Hueek ... hueeek ... hueeek
Rendra menuntun tubuh istrinya berjalan menuju kasur. Riana duduk di kasur dan Rendra berlutut di hadapannya.
“Iya Ayah, baby mau jadi anak baik. Kita tidur yu Yah! Baby ngantuk.” Rendra tertawa dan merasa gemas dengan istrinya. Dia duduk di sebelah Riana dan mencium lembut bibir kecilnya. Ingin rasanya Rendra meminta jatahnya, tapi dia langsung mengingat apa yang dikatakan dokter, kalau Riana harus banyak istirahat dan tidak boleh kecapean.
06.00
Riana sudah beres menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Rendra yang baru saja bangun langsung membersihkan diri dan menghampiri istrinya. Dia marah saat melihat istrinya memasak. Rendra menyuruh para assisten rumahnya untuk berkumpul.
“Mulai hari ini, kalian harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Jangan biarkan Nyonya mengerjakan pekerjaan rumah, apapun itu!”
“Mas, aku ga apa-apa kok. ga perlu seperti ini,”
__ADS_1
“Aku ga mau terjadi sesuatu pada anakku sayang, mohon mengertilah!” Riana langsung terdiam melihat wajah serius suaminya.
Riana memutuskan untuk menyuapi anaknya, sementara Rendra masih memberikan arahan kepada 3 orang assisten rumah tangganya. Semenjak mengetahui istrinya hamil, Rendra sengaja menambah asisten untuk membantu pekerjaan rumah istrinya. Sebenarnya Riana tidak membutuhkannya, karena sudah ada 2 assisten rumah tangga yang ada di rumah. Tapi, keputusan suaminya tidak bisa diganggu gugat.
Setelah menyantap makanan, Rendra pamit pada istrinya untuk berangkat kerja. Dia mencium keningnya dan juga bibir manisnya. Salsa yang melihatnya pun ingin dicium oleh ayahnya. Rendra tersenyum dan mengendong anaknya.
“Jagain Bunda sama dedek yang ada di perut Bunda ya,”
“Iya Ayah.” Rendra tersenyum dan mencium anaknya.
“Hati-Hati ya Mas, jangan lupa makan!”
“Iya sayang, ingat pesan aku, jangan pernah melakukan sesuatu apapun itu,”
“Iya sayang, ya udah sana kamu pergi keburu kesiangan.” Rendra tersenyum. sekali lagi dia mencium kening istrinya. Kedua wanita yang sangat berarti untuknya pun melambaikan tangan padanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung~
Jangan lupa komen,like dan vote sebanyak-banyaknya...