
S2 Bab 73
Selama perjalanan menuju panti asuhan, Ana merasa sangat penasaran. Tidak biasanya Ibu Sarah menyuruhnya ke panti dengan nada seserius tadi. Melihat mimik wajah Ana yang merasa khawatir, Alaric menggenggam tangannya berusaha menenangkan dia.
Tidak membutuhkan waktu lama, Ana pun sampai di panti asuhan. Adik-adik kecil yang sedang bermain di halaman panti menyambut dirinya dengan penuh kegembiraan. Ana memang kerap kali datang ke panti saat ada waktu lowong dan bermain bersama mereka. Mendengar suara Anak-anak yang berisik, Ibu sarah keluar dan bersiri di depan pintu panti sambil melambaikan tangan menyuruh Ana untuk segera menghampiri dirinya.
Sebelum masuk, Ana memberikan aneka snack dan cokelat pada adik-adiknya yang dia beli saat perjalanan menuju ke panti. Setelah itu Ana dan Alaric pun menghampiri Ibu Sarah yang sejak tadi sudah melemparkan senyumannya pada mereka. Keduanya mencium punggung tangan Sarah sebelum masuk ke dalam ruangan panti.
Terlihat di sana seorang wanita yang tampak belum tua tapi juga sudah tak muda lagi. Wanita itu tersenyum pada Ana dan dia membalas senyuman itu.
“Ana, kenalin ini Ibu Risma kepala Yayasan Peduli Kasih.” Ana dan Alaric pun membalas uluran tangan wanita itu.
Mereka pun duduk di sofa. kedua mata Sarah dan Risma saling berpandangan seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu tapi masih ragu. Sarah mengangguk dan membuat Risma mulai membuka suaranya. Risma menjelaskan kalau Yayasan Peduli Kasih yang didirikannya adalah yayasan yang mengurus orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental. Mendengar itu membuat Ana dan Alaric semakin tidak mengerti.
'Ada apa Ibu Risma ingin bertemu denganku?' gumam Ana.
Risma mengambil sesuatu di dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Ana. Sebuah foto yang di dalamnya ada seorang wanita yang cantik sambil menggendong bayi mungil. Ana semakin tidak mengerti dan menanyakan apa maksud Risma menyerahkan foto itu.
“Bayi yang ada di foto itu kamu, Nak,” ucap Bu Sarah.
“Dan wanita itu bernama Bu Gina, dia adalah ibu kandung kamu,” Lanjut Risma. Mendengar itu, tidak sadar Ana meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka kalau selama ini dia benar-benar mempunyai orang tua dan akhirnya dia bisa melihat wajah cantik dari ibunya. Melihat istrinya yang menangis, Alaric langsung merangkulnya dan menepuk bahunya agar tenang.
“Sekarang di mana dia?” tanya Ana dalam isak tangisnya. Lagi-lagi Risma dan Sarah saling menatap. Ana kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada keduanya. Sambil menarik nafas panjang, akhirnya Risma kembali membuka suaranya. Dia pun menceritakan semuanya pada Ana.
Di tengah hujan yang sangat lebat, Risma melihat seorang ibu muda yang menggendong anaknya dan duduk di halte bis. Terlihat dia sedang kebinggungan sambil menangis. Saat Risma ingin menghampirinya, wanita itu keburu naik ke dalam bis. Karena kemacetan lalu lintas Risma kehilangan jejak dari wanita itu. Sampai dua minggu kemudian, saat Risma hendak pergi ke yayasan dia melihat seorang wanita sedang duduk di trotoar dibawah rindangnya pohon. Dia menyadari kalau wanita itu adalah wanita yang beberapa minggu kemarin dilihatnya yang sedang menggendong seorang bayi mungil, tapi kali ini yang dia gendong hanyalah gumpalan kain.
__ADS_1
'Kemana bayi yang kemarin digendongnya?' gumannya.
Risma pun menghentikan kendaraannya dan dia menghampiri wanta itu.
“Bu, Ibu sedang apa?” tanya Risma dengan pelan. Wajah wanita itu tampak kotor dengan pakaiannya yang lusuh. Wanita itu hanya menangis sambil melihat gumpalan kain yang ada di tangannya.
Melihat itu, membuat Risma berpikir kalau wanita tu mengalami gangguan mental. Dia pun perlahan merangkul wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Risma memang peduli dengan orang gangguan jiwa, maka dari itu dia mendirikan Yayasan Peduli Kasih, karena menurutnya orang yang mempunyai gangguan mental juga seorang manusia yang patut kita selamatkan.
Selama perjalanan menuju yayasan, wanita itu terus menangis memanggil-manggil nama Angel, dan Risma sangat yakin kalau nama Angel itu adalah nama bayi yang dulu digendongnya. Tidak ada pemberontakan saat Risma mencoba mengajaknya naik ke dalam mobil, karena Risma memberikannya sebuah roti dan wanita itu langsung memakannya dengan lahap.
'Dia mungkin sudah beberapa hari tidak makan,' gumam Risma kala itu.
Setelah sampai di yayasan, Risma menyuruh pengurus yayasan untuk segera membersihkan wanita itu dan menganti pakaiannya. Dia masih bertanya-tanya kemana bayi mungil yang digendongnya saat itu. Apakah diambil orang? Pikir Risma.
Wanita itu sudah bersih dan dia terlihat sangat cantik. Risma pun menawarkan dia makan dan dia langsung mengangguk kegirangan. Saat makan, dia tidak seperti orang-orang gangguan mental yang lainnya. Dia terlihat sangat kalem dengan tata krama yang bagus, membuat Risma berpikir kalau wanita ini hanya stress belum sampai jiwanya yang terganggu.
Mulai dari situ, Risma menjalin kedekatan dengan wanita itu. Awalnya dia menanyakan siapa namanya dan wanita itu menjawab kalau namanya adalah Gina.
'Sangat mudah untuk mendekatinya,' gumam Risma sambil terus menjalin kedekatan dengannya.
Risma menanyakan awalnya dimana tempat tinggalnya dan Gina menyebutkan jalan di mana di sana adalah tempat tinggal orang-orang kalangan elit. Semakin penasaran, Risma pelan-pelan menanyakan semua tentang kehidupannya. Mendengar dari kisah yang di ceritakan Gina, tidak salah lagi kalau dia memang dari keluarga yang berada.
Semua berjalan dengan baik, sampai saat Risma menanyakan tentang anak dan keluarganya. Gina mulai tidak terkendali, dia menangis dan berteriak hingga tidak ada yang bisa menghentikannya. Terpaksa Risma memanggil tim medis yang bertugas di yayasannya untuk menyuntikkan obat penenang untuk dia.
Gina tertidur setelah satu suntikan ditancapkan di tubuhnya. Dari sana Risma mengambil kesimpulan, kalau Gina menjadi seperti ini akibat Keluarganya. Dia masih belum bisa mencari apa yang terjadi pada keluarganya, tapi di sini dia berusaha untuk memulihkan kembali kesadaran Gina dan akan berusaha mencari anak dan keluarganya.
__ADS_1
Baru sebagian yang diceritakan Risma pada Ana dan membuat Ana tidak bisa menghentikan tangisnya. Risma tidak melanjutkan ceritanya, karena dia tidak tega melihat Ana yang terus menangis dalam pelukan suaminya.
“Bu, sekarang ibu saya di mana? Saya ingin sekali bertemu dengannya. Aku mohon, bawa aku ke sana!” ucap Ana yang masih menangis tersedu-sedu. Alaric terus berusaha menenangkan Ana, merangkulnya dengan erat.
“Saya mencari kamu, karena memang ada yang ingin saya sampaikan sama kamu.” mendengar itu membuat tagis Ana semakin kencang. Dia berdiri dan berlutut di depan Risma sambil menggengam tangannya.
“Bu, ibu saya masih hidup 'kan? Dia sehat-sehat saja 'kan, Bu. Bu ... please katakan iya, Bu.” Risma hanya terdiam dan menangis.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬 Komen
__ADS_1
🌺 dan Vote sebanyak-banyaknya, biar Autjor semangaaat lanjutin ceritanya.
Terima Kasih❤️❤️❤️❤️