
S2 Bab 75
Sampai di rumah Ana tidak bisa memejamkan matanya. Pikiran dia terus memikirkan ibu kandungannya. Alaric yang baru saja membersihkan diri mengampiri Ana yang sedang duduk di atas kasur sambil melihat foto yang tadi diberikan oleh Ibu Risma.
“Kenapa belum tidur, Sayang?” Ana hanya menggelengkan kepalanya.
“... udah, Sayang, jangan terus dipikirkan! Aku enggak mau kamu jatuh sakit. Sekarang kamu istirahat ya! Besok pagi aku janji bakal temenin kamu lagi ke rumah sakit.”
“Kerjaan kamu bagaimana?” tanya Ana.
“Besok aku tidak masuk dulu. Aku mau temenin kamu.” Ana tersenyum dan langsung memeluk tubuh suaminya.
Dini hari Ana sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Riana dan Rendra yang baru saja pulang pagi itu ikut merasa senang, karena Ana telah menemukan ibu kandungnya juga turut prihatin dengan keadaannya. Mereka berencana akan menyusul Ana dan Alaric nanti siang.
Pagi itu, di rumah sakit masih tampak sepi. Ibu Risma juga belum nampak berada di ruangan. Di sana hanya seorang perawat dari yayasan yang mendapat giliran jaga tadi malam.
“Bu, apa ibuku semalam sadar?” tanya Ana padanya. Perawat itu hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tampak sedih.
Ana mendekat dan menggenggam tangan ibunya, “Bu, aku datang. Aku mohon untuk membuka matamu untukku. Apa kamu tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu, Bu. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu. Apa Ibu tidak penasaran bagaimana kehidupanku? Aku bahagia, Bu. Dan aku dikelilingi orang-orang yang baik dan sangat menyayangi aku. Ibu jangan khawatir ya!” Ana terus menceritakan kisah hidupnya sambil meneteskan air matanya.
Tidak lama Ibu Risma datang. Dia mengajak Ana untuk duduk di sofa, sambil menunjukan album kenangan itu ibunya selama tinggal di yayasan. Melihat itu Ana tampak senang, dia penasaran wajah ibunya dalam keadaan sehat. Alaric dan Ana pun mengikuti Bu Riama berjalan ke arah sofa.
Sambil membuka-buka album foto, Risma kembali menceritakan cerita yang selama ini dia dengar dari ibunya. Setelah berada selama empat tahun di yayasan, kesadaran Gina kembali pulih, tapi belum sepenuhnya. Dibandingkan dengan yang lainnya, Gina tampak seperti orang yang sudah normal. Walaupun begitu, dia masih belum mau menceritakan bagaimana kisah hidup dia sebenarnya.
Waktu terus berjalan dan Risma pantang menyerah untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi di kehidupan Gina. Akhirnya pada saat Gina melamun sendiri di taman belakang, Risma menghampirinya dan mengajak dia untuk bicara. Awalnya Risma hanya menanyakan bagaimana perasaan dia waktu itu dan setelah asik mengobrol, pelan-pelan Risma menanyakan tentang kehidupannya.
Awalnya Gina hanya diam dan hanya menatap kosong ke depan. Tapi setelah beberapa menit, akhirnya dia membuka suaranya. Risma sendiri tidak menyangka hampir lima tahun bersama dengan Gina akhirnya dia membuka suaranya.
Gina adalah gadis yatim piatu dari kalangan biasa sebelum dia bertemu dengan Deni Basakara, ayah dari Ana. Kehidupan dia sangat bahagia, karena apapun yang Gina inginkan semua terpenuhi oleh Deni. Karena memang Deni adalah anak dari pengusaha yang cukup sukses di Jakarta. Tapi sayangnya hubungan mereka tidak mendapat restu dari pihak keluarga pria. Maka dari itu, Gina sama sekali tidak pernah dianggap keberadaannya.
Deni sendiri adalah anak kedua dari dua bersaudara. Dia mempunyai seorang kakak laki-laki yang sangat picik, karena kakanya ingin menguasai semua harta kekayaan dari orang tua mereka. Berbeda dengan Deni, dia tidak pernah mempermasalahkan harta, karena menurutnya harta bisa dicari bukan hanya mengandalkan pemberian orang tua.
Kehidupan mereka sangat bahagia apalagi saat Ana atau Angel Baskara lahir ke dunia. Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Saat Ana berusia tiga bulan, Gina harus menelan pahitnya kehidupan saat suaminya meninggal dunia, karena penyakit jantung yang sudah di deritanya sejak kecil.
__ADS_1
Penderitaan Gina tidak sampai di sana. Satu bulan setelah meninggalnya suaminya, dia diusir oleh keluarga Deni, terutama oleh kakaknya. Mereka hanya memberi Gina sejumlah uang untuk kehidupan mereka. Semua yang terjadi membuat Gina syok. Dia akhirnya keluar dari rumah yang menyimpan sejuta kenangan bersama suaminya.
Gina tidak tahu arah kemana arah tujuannya. Sambil membawa bayi mungil, dia terus berjalan sampai akhirnya dia bertemu dengan sepasang pemulung dan empat orang anaknya. Entah apa yang dia pikirnya sampai-sampai dia meninggalkan anaknya dan semua uang yang diberikan oleh mantan kakak iparnya.
Setelah meninggalkan rumah pemulung itu, Gina menjadi tidak tahu arah tujuannya. Dia semakin terpuruk dan akhirnya jiwanya sedikit terganggu. Beruntungnya Risma menemukannya kembali dan merawatnya hingga saat ini.
Risma mencoba membuat iklan, berharap keluarga dari pihak almarhum suaminya mencari keberadaan dia. Tapi, sama sekali tidak ada yang datang untuk sekedar menengok keberadaannya. Cerita kisah hidupnya hanya berakhir sampai di sana. Risma kembali mengorek-ngorek informasi tentang rumah sepasang pemulung itu, tapi Gina sama sekali tidak mengingatnya, sampai akhirnya Gina menceritakannya setelah puluhan tahun berlalu.
Ana yang mendengar semua cerita tentang kehidupan ibunya tidak bisa menahan tangis. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ibunya mengalami hal-hal yang buruk dalam hidupnya.
'Tuhan, ijinkan aku membahagiakan ibu disisa hidupnya. Ijinkan aku memberikan kebahagiaan untuknya yang selama ini tidak pernah dia dapatkan,' gumam Ana sambil menatap arah tempat tidur anaknya.
“Bu, tangannya gerak,” teriak perawat yayasan. Mereka yang mendengarnya langsung menghampiri Gina. Risma langsung memanggil tim medis untuk melakukan pemeriksaan.
“Bu ... Ibu ini Angel, Bu,” ucap Ana sambil menangis. Gina perlahan membuka matanya, dan melirik ke arah Ana. Tatapannya terus menatap ke arah Ana dan seketika dia tersenyum.
Gina perlahan mengangkat tangannya, dan memegang wajah Ana. Buliran air mata kini sudah mengalir dari setiap sudut matanya. Ana dengan cepat memegang tangan ibunya yang ada di pipi kiri dan melemparkan senyuman untuknya.
Setelah melakukan proses pemeriksaan, dokter ingin bicara serius pada pihak darinkelaurga pasien. Ana menyuruh Ibu Risma dan suaminya untuk mengikuti dokter ke ruangannya, sedangkan dia memilih untuk berada di sisi ibunya selagi masih dalam keadaan sadar.
“Bu, aku Angel, anak ibu.” sambil memegang tangan ibunya yang dia tempelkan di pipi sebelah kiri.
Gina mengangguk tersenyum, dia seperti ingin berusaha mengeluarkan suaranya tapi sangat sulit. Ana pun mendekatkan wajahnya untuk mendengar apa yang akan dikatakan ibunya.
“Ma-maafkan i-ibu, Nak,” ucapnya sambil terbata. Ana menggelengkan kepalanya sambil menangis.
“Ibu enggak perlu minta maaf. Ibu enggak salah kok. Angel yang harusnya minta maaf sama Ibu, karena baru sekarang bisa bertemu dengan Ibu,” ucap Ana langsung mencium dan memeluk tubuh kurus ibunya.
.
.
.
__ADS_1
.
.
~Bersambung~
👍Like
💬Komen
🌺Vote sebanyak-banyaknya yaaa
Terima Kasih 🥰🥰🥰
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author mau promo boleh yaaa..
ini karya ke-5 Author yang berjudul YOU ARE MINE ..
“Kamu?!” Rayhan kaget ketika melihat wanita yang dibencinya memasuki ruangan kerjanya.
Gadis cantik dan masih muda bernama Elina itu adalah mantan istrinya. Elina sendiri tidak menyangka pria yang selama tiga tahun hilang bak ditelan bumi sekarang ada dihadapannya.
Tiga tahun yang damai untuk Elina seketika berubah menjadi kacau setelah bertemu kembali dengan Rayhan.
Bagaimanakah kisah mereka? Penasaran 'kan? Ikuti terus kisahnya yaaa.
Mau tahu 'kan Author UP dimana?
ikuti IG Author @PenuliMicin untuk tahu informasi selanjutnya 😊😊😊
__ADS_1