
S2 Bab 82
Sesuai keinginan Alaric, Ana sudah berhenti dari pekerjaannya. Kali ini dia menyibukkan diri melakukan kegiatan dengan sang mertua. Mulai dari belajar memasak, belajar bikin kue dan juga belanja bersama dengan mertuanya.
Dulu dia mendengar dari perkataan orang, kalau setelah menikah lebih baik kita langsung tinggal sendiri, karena tinggal bersama dengan mertua akan banyak masalah. Sempat ada ketakutan dipikiran Ana tentang hal itu, tapi ternyata setelah dia menjalaninya, pikiran orang semua itu salah.
Ya ... mungkin setiap orang bisa berbeda pendapat, tapi untuk masalah ini dia menolak perkataan orang-orang tentang tinggal bersama mertua. Riana sosok yang sangat baik. Ana lebih dekat seperti seorang teman, sahabat dan anak yang sesungguhnya dibanding seorang menantu untuk Riana.
Kebersamaan mereka membuat kesepian Riana atas kepergian anak bungsunya yang sekolah di luar negeri terobati. Tapi itu tidak membuat rasa rindu Riana dengan anaknya menghilang begitu saja. Dia tetap menghubungi Arez setiap hari, walau hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum.
Arez tumbuh menjadi anak yang dewasa dan dia mengakui pada ibunya kalau dia sudah memiliki seorang kekasih. Kali ini Riana tidak menentukan jodoh untuk anak keduanya, karena Arez sudah mengetahui bagaimana tipe dari bunda kesayangannya itu.
Arez memperkenalkan gadis cantik yang seumuran dengannya pada Riana. Ya ... dia adalah teman seperjuangan Arez yang berasal dari Indonesia. Pertama kali Riana melihat gadis cantik itu, dia langsung menyukainya.
'Kamu tahu betul selera bunda, Nak,' gumam Riana ketika Arez memperkenalkan Farah kekasihnya pada Riana.
Enam bulan lagi Arez akan pulang ke Indonesia dan dia berjanji pada Riana akan memperkenalkan langsung pujaan hatinya. Mendengar itu dia merasa senang sekaligus sedih. Senang karena anaknya bisa mendapatkan jodohnya dengan cepat dan sedih karena sebentar lagi dia harus melepaskan anak bungsu kesayangannya melepas masa lajangnya.
Kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anak-anak bahagia. Dan tugas seorang anak adalah membahagialan kedua orangtuanya. Walaupun Riana tidak mempunyai seorang anak wanita, tapi dia mendapatkan kasih sayang full dari menantu dan calon menantunya.
Riana dan Farah belum pernah bertemu sama sekali, tapi keduanya sering berhubungan lewat telepon atau vidio call. Hubungan mereka sangat dekat, bahkan Ana juga sudah mengenal Farah. Kadang mereka saling berhubungan dikala Ana dan mertuanya sedang memasak bersama. Dan itu membuat Farah tidak sabar pulang ke Indonesia untuk melakukan hal itu bersama-sama.
Melihat Farah gadis yang baik dan sangat sopan, Riana yakin kalau dia memang jodoh yang terbaik untuk anaknya. Bahkan Riana berniat akan melamar Farah ketika mereka sudah pulang ke Indonesia. Mendengar ide dari sang istri membuat Rendra menentang rencana istrinya. Pasalnya saat ini Arez baru berusia jalan 23 tahun dan itu artinya masih sangat muda untuk laki-laki seumuran itu menikah, pikir Rendra.
Berbeda dengan Riana, usia 23 tahun sudah sangat layak untuk berumah tangga. Walaupun Riana terus memohon pada Rendra, tetap suaminya itu tidak menyetujui ide dari sang istri. Karena menurut Rendra laki-laki lebih baik menikah diusia seperti dirinya juga Alaric yaitu sekitar 26 tahun ke atas.
__ADS_1
Mendapat penolakan berkali-kali dari suaminya membuat Riana merasa kesal pada Rendra. Riana pun menceritakan semua itu pada Ana dan berharap Ana mendukung apa yang dia pikirkan. Tapi, kali ini pemikiran Ana tidak sama seperti mertuanya.
“Bun, betul kata Ayah. Usia Arez itu masih mementingkan emosi dan rasa egonya. Tidak baik kalau dia harus menikah di usia seperti itu,” ucap Ana.
“Bunda juga dulu menikah muda kok, Ana. Dan bunda yakin kalau Arez pasti tidak akan seperti yang kamu katakan,” keluh Riana.
“Emm ... berbeda sih Bun, antara wanita dan pria. Karena untuk masalah emosional wanita lebih bisa mengaturnya walaupun diusia muda. Walaupun tidak semua seperti itu, tapi kebanyakan seperti itu kok, Bun. Bang Al aja udah tua gitu masih aja suka egois apalagi Arez. Mending kata aku mereka tunangan saja dulu. Lagi pula Arez 'kan belum benar-benar belajar tentang perusahan dan pastinya dia belum bisa langsung terjun begitu saja ke dalam perusahaan.” mendengar apa yang dikatakan Ana ada benarnya juga. Akhirnya Riana mengambil usul menantunya yaitu bertunangan terlebih dahulu.
Rencana ini tidak bisa ditolak lagi oleh Rendra. Toh ini cuma tunangan, ucap Riana kala itu dan membuat suaminya mati kutu. Saat Riana membicarakan ini pada Alaric, awalnya Alaric juga sependapat dengan ayahnya. Tapi, keputusan Riana tidak ada yang berani ganggu gugat dan itu membuat Alaric akhirnya menyetujuinya.
Semua rencana yang sudah di susun Riana untuk delapan bulan ke depan sudah ditulisnya secara matang. Arez yang mendengar rencana ini dari abangnya merasa sangat kaget. Pasalnya Riana tidak pernah membicarakan hal itu padanya. Dan Arez yang mendengarnya hanya membuang napas kasar dan menggelengkan kepalanya.
“Bunda ... Bunda ... susah banget sih dibilangin, kalau udah ada keinginan harus segera dilaksanakan,” keluh Arez dan membuat kekasihnya merasa heran.
“Bunda, Sayang ....” ucapnya dengan memasang wajah yang memelas. Jelas Farah kaget melihat mimik wajah kekasihnya, dia takut kalau terjadi sesuatu pada calon mertuanya itu.
“Loh ... bunda kenapa, Yank? Dia baik-baik saja 'kan? Kemaren terakhir aku vidio call dia terlihat baik-baik saja. Ada apa, Yank?” cemas Farah.
Ketika Arez menceritakan semuanya membuat Farah sedikit merasa syok. Dia tidak menyangka kalau dirinya sangat disukai oleh ibu dari kekasihnya. Ada rasa senang yang luar biasa, karena dia memang benar-benar menyukai Arez. Tapi, melihat wajah Arez sepertinya dia tidak menyukai rencana ibunya. Dan itu berhasil membuat Farah merasa sedih.
“Loh ... kamu kenapa mukanya jadi seperti itu sih?” tanya Arez saat melihat Farah tertunduk dengan wajah yang muram.
“Kamu tidak suka ya kalau hubungan kita lebih serius lagi? Apa kamu memang tidak pernah perpikir kalau kita akan terus bersama?” Arez merasa kaget mendengar apa yang dikatakan kekasihnya. Dia menarik bahu Farah hingga berhadapan padanya dan mengangkat wajah Farah agar melihat wajahnya.
“Sayang, kok kamu berpikiran seperti ini sih? Aku sangat menyayangimu, jelas aku ingin kita terus bersama. Jangan pikir macem-macem deh ah, aku lagi enggak mau berdebat sama kamu.”
__ADS_1
“Terus kenapa kamu memasang wajah seperti itu? Padahal aku merasa sangat senang loh.” Arez kaget mendengar itu. Yang dia khawatirkan sejak tadi adalah dia takut kalau Farah akan merasa sangat terbebani dengan keinginan bundanya, tapi ternyata yang dia pikirkan itu salah besar. Arez tersenyum bahagia dan langsung mengusap kepala kekasih.
“Aku sangat senang, Sayang. Aku berpikir kalau semua ini akan membebani kamu, tapi ternyata tidak,” ucap Arez sambil tersenyum bahagia. Keduanya pun saling melempar senyuman.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan Lupa
👍 Like
💬 Komen
🌺 Vote sebanyak-banyaknya..
Terima kasih All ❤️❤️
__ADS_1