Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 56


__ADS_3

S2 Bab 56


Selama perjalanan Alaric terus bercerita. Apapun dia ceritakan sampai dia menceritakan perubahan-perubahan kecil kota Jakarta saat Ana berada di luar negeri. Ana hanya tersenyum dan sesekali mengeluarkan suaranya menanggapi apa yang dikatakan Alaric. Ana sangat rindu bahkan rindunya benar-benar menusuk hatinya.


Akhirnya mereka pun sampai di depan perusahaan percetakan cukup besar di Jakarta.


“Makasih ya, Bang! Kalau gitu aku masuk ya!” ucap Ana. Saat hendak akan membuka pintu mobil, Alaric tiba-tiba menggenggam tangan Ana dan itu berhasil membuat Ana kaget dan jantungnya berdebar.


“Nanti pulang jam berapa? Aku jemput ya!”


“Emmm ... aku dijemput Satria. Terima kasih untuk tawarannya, Bang. Aku masuk ya!” Ana pun turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Teriris hati Alaric saat mendengar apa yang dikatakan Ana. Kenyataannya wanita yang dicintainya bukan milik dia lagi.


Entah kenapa Alaric ingin terus di sana. Dan dia pun memutuskan untuk tetap di sana sampai menunggu Ana keluar dari gedung kantornya. Dia memakirkan mobilnya tepat menghadap pintu keluar. Matanya terus menatap ke arah pintu berharap Ana keluar dari sana.


Sudah lima jam berlalu, Alaric masih belum menyerah untuk menunggu Ana pulang. Dan akhirnya sesuatu yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Alaric melihat sekitar untuk memastikan yang dikatakan Ana itu apa benar adanya. Tapi bukannya menunggu tapi Ana langsung berjalan ke arah halte bus yang ada tidak jauh dari kantor papanya.


'Mau kemana dia? Bukannya dia akan dijemput?' gumam Alaric.


Melihat itu Alaric langsung menjalankan mobilnya menghampiri Ana. Gadis cantik itu duduk manis di halte bus sambil memainkan ponselnya. Alaric pun menepi dan menghampiri Ana yang sedang asik melihat ponselnya.


“Kayanya ini tempat nunggu bus deh.” mendengar suara Alaric membuat Ana kaget dan sontak melihat ke arah sampingnya.


“Abang!” Alaric melemparkan senyuman manisnya. Tanpa bicara, Alaric menarik tangan Ana masuk ke dalam mobil. Ana yang tidak bisa memberi perlawanan akhirnya pasrah mengikuti langkah Alaric.


“Bang, aku ....” belum selesai Ana bicara, Alaric langsung memotongnya, “Tahu enggak Aku lapar menunggumu sejak tadi. Sebagai gantinya kamu harus temenin aku makan.” Ana melirik dengan wajah yang cukup kaget mendengar yang dikatakan Alaric. Dia tidak menyangka kalau Alaric sejak tadi menunggu dirinya.


Sampai disalah satu resto yang ternama di Jakarta, resto tempat yang sering dikunjungi oleh keduanya. Alaric turun dan membukakan pintu untuk wanita terkasihnya. Tidak memikirkan status Ana, Alaric menggenggam tangannya masuk ke dalam. Dia tidak peduli apapun itu mengenai tunangan atau semacamnya. Yang dia pikirkan sekarang, ingin mengambil hati Ana dengan memperlakukan dia seperti dulu, saat Ana masih menjadi kekasihnya.

__ADS_1


Ana berusaha keras menarik tangannya, tapi Alaric terlalu erat menggenggam tangan Ana sehingga wanita itu pun pasrah. Sengaja Alaric mengambil kursi yang dekat dengan kaca agar suasana terasa lebih romantis lagi.


Tanpa mendengar apapun dari Ana, Alaric memesan makanan yang biasa dipesan oleh Ana dulu. Ana terus menatap Alaric sambil menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Alaric hari ini. Ingin rasanya marah, tapi kemarahan itu terkikis oleh senyuman Alaric yang terus menerus diperlihatkan Alaric padanya.


Tidak lama pesanan makanan pun datang.


“Bang, aku ....” lagi-lagi Alaric memotong pembicaraan Ana dan itu dia lakukan karena dia tidak mau mendengar alasan apapun untuk menolak.


“Makanlah! Aku tahu kamu pasti merindukan makanan ini 'kan? Ayolah makan, temani aku. Aku sangat lapar lima jam menunggumu.” dengan wajah yang terlihat tidak pernah terjadi apa-apa, Alaric melanjutkan makannya dengan sangat lahap.


“Aku kenyang, Bang. Tadi sudah makan di kantor.” Alaric hanya melempar senyuman dan terus menikmati santapannya. Ana membuang nafas dengan kasar dan terpaksa memakan makanan itu walau hanya sedikit. Betapa senangnya Alaric melihat Ana memakan makanan itu.


“Bagaimana? Apa menurutmu rasanya ada yang berubah?” tanya Alaric. Ana hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


“... syukurlah kalau begitu. Habiskan ya!”


Selesai menyantap makanan, Alaric kemudian memesan dessert kesukaan Ana.


Alaric menggenggam tangan Ana dan menciumnya. Ana yang mendapat perlakuan seperti itu, langsung menarik tangannya dan dikepalkannya di dada.


“Kamu tahu status aku 'kan, Bang. Jadi aku mohon jaga sikap kamu!” masa bodo Alaric dengan perkataan Ana. Dia hanya tersenyum dan itu lagi-lagi berhasil membuat hati Ana luluh. Rasa ingin marahnya pudar perlahan. Ana pun hanya diam dan melirik ke arah luar jendela.


“Sayang, aku rindu. Tidakah kamu merindukanku?” mendengar itu sontak membuat Ana melihat Alaric dengan wajah yang kaget.


“Bang ....”


“Aku merindukan kamu, sampai raga ini menjadi rapuh dan lemah. Aku masih sangat mencintaimu. Kamu tahu, setiap saat hanya kamu yang ada di otakku. Tidak ada yang bisa mengantikan dirimu di hatiku. Tidak kah kamu merasakannya? Sayang, Aku rindu sangat rindu. Menunggumu adalah hal yang sangat menyiksaku, tapi aku rela dan sampai kapanpun aku tetap akan rela juga sabar menunggumu untuk balik ke dalam pelukanku. Bisakah aku mendapatkan kesempatan itu? Bisakah aku menjadi kekasihmu lagi?”

__ADS_1


Tidak terasa air mata Ana menetes. Hatinya sakit mendengar semua yang dikatakan Alaric. Ingin rasanya dia berteriak dan mengatakan ya aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, Ana ragu. Melihat Ana yang menangis, Alaric berdiri dan duduk di sampingnya. Dia menarik tubuh Ana hingga berhadapan dengannya.


“Hei Sayang, kamu kenapa? Apakah ada yang salah dengan ucapan aku?” Ana masih tertunduk dan menangis. Air matanya tak bisa berhenti keluar. Alaric pun menarik tubuh Ana masuk ke dalam pelukannya.


“Maafkan aku! Maafkan kalau apa yang aku katakan membuat kamu merasa tidak nyaman. Maafkan aku!” Ana menggelengkan kepalanya. Alaric pun melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Ana agar menatap dirinya. , kemudian dengan lembut dia mengusap air mata yang ada di pipi Ana.


“Lantas kenapa kamu menangis?” Tatapan tajam Ana membuat Alaric mengerutkan keningnya tidak mengerti.


“Ada apa? Ada yang aneh?” kembali Ana menggelengkan kepalanya. Ana melemparkan senyumannya dan kembali masuk ke dalam pelukan Alaric. Alaric kaget dengan sikap Ana yang mendadak berubah padanya.


“Aku juga sangat merindukan kamu, Bang. Sangat rindu,” lirih Ana.


Mendengar itu Alaric langsung menyambut pelukan Ana dengan sangat erat. Dia tersenyum sangat bahagia, akhirnya dia bisa juga mendengar kata-kata itu dari mulut Ana. Menahan kerinduan membuat hati Ana tersiksa. Dia sudah tidak tahan dan memilih untuk mengungkapkan juga apa yang dia rasakan.


Dunia serasa milik berdua. Tidak peduli semua orang yang melihat ke arah mereka sambil tersenyum. Kebahagiaan yang dirasakan keduanya seolah-olah menyebar ke seluruh ruangan dan membuat orang-orang merasakan hal yang sama.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung~


don't forget to like, comment and vote as much much much much! wkwkwkwk


__ADS_2