
Rendra bergegas pergi ke kamarnya setelah menidurkan Salsa di kamarnya. Dia tersenyum saat melihat istrinya yang sedang menyiapkan baju untuk dirinya. Rendra masuk kedalam dan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Dia mencium wangi tubuh istrinya di tengkuk lehernya, “Mas, ngapain sih?” keluh Riana. Rendra tidak sama sekali menjawabnya. Dia mendorong tubuh Riana, sampai tubuhnya jatuh di atas kasur. Rendra hanya melempar senyuman, yang membuat Riana tidak mengerti dengan arti senyuman itu.
Jujur, Riana sangat takut dengan Tingkah Rendra saat ini. Tubuhnya merasa merinding di setiap hembusan nafas Rendra di tengkuknya.
“Mas, a-aku su-dah si-apkan ba-ju u-ntukmu,” ucapnya terbata.
Rendra menatap tajam wajah Riana. Perlahan dia mencium lembut bibir merah mudanya. Riana yang mendapat serangan itu pun menyambutnya. Nafas keduanya saat itu sudah tidak beraturan. Jantung Riana berdebar dengan sangat kencang. Sebenarnya mau sampai kapanpun hati Riana belum siap, karena traumanya pada kakak perempuannya.
“Mas, tidak akan pernah ninggalin aku dan Salsa kan?” keraguannya selama ini pun dia ungkapkan.
“Mas janji, kalian berdua akan selalu menjadi alasan untuk aku hidup. Itu artinya, aku tidak bisa hidup tanpa kalian berdua,” Riana tersenyum dan Rendra pun kembali mencium bibirnya dengan lembut.
Dalam semestanya. Dua insan manusia dengan hasrat alaminya. Meleburkan benih-benih surgawi. Mereka beradu nafas. Keringat Rendra jatuh di kening Riana. Pemandangan yang sangat naturalis.
Semuanya bebas tanpa sehelai benang. Mereka merasakan aroma tubuh yang menguar dalam mereka.
Riana meneriaki nama Rendra. Denyit dipan mereka terdengar dan bergerak mengikuti irama. Malam itu hujan turun menambah syahdu peleburan ini. Napas Riana menderu tak beraturan. Rendra tersenyum, begitupun dengan Riana.
Rendra memeluk tubuh istrinya yang polos di bawah selimut tebal berwarna putih. Ada rasa bersalah dalam hatinya, karena melihat istrinya yang kesakitan.
“Sayang, makasih ya,” Riana hanya mengangguk.
“Maafin, aku!” ucapnya dengan nada yang terdengar sangat menyesal.
__ADS_1
Riana menggelengkan kepalanya, “Ga ada yang perlu di maafkan Mas, semua perempuan pasti merasakannya,”
“Apakah sangat menyakitkan?” Riana tersenyum menggelengkan kepalanya. Dia menyentuh wajah suaminya yang terlihat penuh dengan kecemasan.
“Aku beruntung Tuhan memberikan bidadari cantik padaku. Terimakasih sayang, kamu selalu sabar menghadapi sikap egois aku,” kembali Rendra mencium kening istrinya.
Aku yang harus berterimakasih padamu Mas, karena kamu sudah menerimaku dan Salsa dalam kehidupanmu. Sekarang aku sudah menjadi milikmu seutuhnya. Tuhan, jangan biarkan kebahagiaan ini pergi begitu saja. Terimakasih Tuhan, Kau melengkapi kebahagiaan hidupku dengan menjadikan Rendra suamiku.
***♥️♥️***
08.00
Gadis kecil Riana sudah duduk manis di depan TV menonton acara kesukaannya. Saat gadis kecil itu bangun, Bi sari langsung mengurusnya, memandikannya dan menyiapkan sarapan untuknya. Bi Sari tidak berani membangunkan majikannya. Dan anehnya Salsa sejak bangun tidur tidak menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Mungkin itu pengaruh dari bisikan Rendra semalam 😅😅.
Rendra terus menatap wajah istrinya yang masih terlelap tidur. Dia tidak berani membangunkan istrinya, karena terlihat begitu pulas tidurnya. Perlahan Riana membuka matanya, dia kaget melihat Rendra yang hanya beberapa senti di depannya.
“Tidak perlu kamu tutupi, aku sudah melihat dan menikmati semuanya,” ucapnya dan memberikan kecupan selamat pagi untuk istrinya. Wajah Riana memerah, dia malu dan menyembunyikan wajahnya.
“Mas, aku malu,” ucap Riana. Rendra yang mendengarnya semakin gemas. Dia menarik bahu istrinya dan mengecup kembali bibirnya. Hal indah yang terjadi semalam pun terulang kembali.
Akhirnya Ratih bersama suami dan anaknya menginjakkan kaki lagi di Indonesia. Setelah mengambil barang, Eki mengambil mobil yang terparkir di parkiran bandara. Setelah 1½ jam akhirnya mereka sampai ke rumah yang sudah mereka rindukan.
Ratih segera masuk ke dalam, karena dia sudah tidak tahan ingin bertemu dengan cucu kesayangannya. Melihat kedatangan Oma dan Opanya, Salsa langsung berlari dan memeluk keduanya. Gadis kecil itu juga sangat merindukan Oma dan Opanya.
“Bi, Rendra dan Riana mana?” tanya Ratih pada assisten rumah tangganya.
__ADS_1
“Masih di dalam kamar Nyonya, mau saya panggilkan?” Ratih tersenyum mendengarnya, dia yakin liburannya kali ini tidak akan sia-sia.
“Jangan Bi, biarkan mereka berdua. Tolong siapkan makanan untuk kita! Tadi kita, belum sempat sarapan,”
“Baik, Nyonya.”
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaa...
yuks temenan sama Author dengan
Follow ig : @PENULISMICIN
yang masih binggung gabung di grup chat
gampang kok kalian tinggal klik Grup Septriani wulandari yang warna oren di bawah tombol vote...
__ADS_1
yuu kita ketemu disana... cu..