
S2 Bab 93
Setelah membersihkan diri, Krisna langsung bergegas membantu istrinya. Kali ini dia tidak menggunakan wewangian apapun termasuk sabun dan sampo. Lucu memang, tapi itu semua dia lakukan demi bisa dekat dengan istrinya.
Tidak lupa berita bahagia ini diberitahukan oleh Krisna pada keluarga besarnya. Sonia dan juga Desi merasa sangat bahagia mendengar mereka akan mendapatkan cucu kedua untuk anak kedua mereka, setelah anak dari Gibran dan juga anak dari Salsa.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Krisna terus menggenggam tangan Aulia dan sesekali menciumnya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menggambarkan rasa bahagianya dia akan menjadi seorang papa.
“Sayang, terima kasih ya!” kembali Krisna mencium punggung tangan istrinya. Aulia hanya tersenyum. Sebenarnya dia tidak menyangka kalau reaksi suaminya akan seperti ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa, pagi hari Ana menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Walaupun kini dia sudah mempunyai asisten rumah tangga, tapi untuk masalah memasak semua tanggung jawab Ana. Dia tidak mau suaminya merasakan masakan orang lain.
“Pagi Bidadariku, Sayang.” Alaric yang baru keluar dari kamarnya langsung memeluk tubuh Ana dari belakang.
“Pagi, Sayang. Sayang lepasin dong! Aku mau menyiapkan makanan untukmu. Lagi pula enggak enak dilihat sama bibi,” ucap Ana melepaskan pelukan suaminya.
“Ya ... biarin dong, Sayang. Dunia ini 'kan milik kita berdua, yang lain ngontrak.” Ana hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya mendengar lelucuan dari suaminya.
“Sayang, hari ini aku ke kantor papa ya! Aku bosan di rumah dan ingin membantu sedikit-sedikit pekerjaan papa.”
“Kamu mau kerja lagi, Yank? Enggak! Aku enggak akan ijinin!”
“Enggak kok, Sayang. Aku hanya membantu sebentar saja. Ya ... ya ... ya, please!” Alaric pasrah saat melihat wajah memelas istrinya. Dia pun tersenyum mengangguk dan Ana langsung mencium kedua pipinya lalu bibirnya.
“Makasih, Sayang.”
Selesai menyantap makanan, Ana menaiki mobil Alaric, karena suaminya tidak mengijinkan dirinya untuk membawa kendaraan dia sendiri.
“Sayang, nanti sore aku langsung jemput ya!”
“Iya Sayang, kamu jemputnya di rumah ya, Aku kangen mau ketemu mama dan ade.” Alaric mengangguk tersenyum.
Saat sampai di perusahaan papanya, Ana turun dan melambaikan tangannya dan Alaric pun membalasnya. Ana segera masuk ke dalam. Semua orang menunduk menyambut Ana, karena mereka tahu kalau Ana adalah anak dari pemilik perusahaan. Dengan cantiknya Ana tersenyum pada semunya sambil mengucapkan selamat pagi.
“Pagi, Papa,” Sapa Ana.
__ADS_1
“Pagi, Sayang,” jawab Bimo sambil mencium kedua pipi anaknya.
Memang hari ini sengaja Ana datang ke kantor, karena sebenarnya Bimo yang menyuruhnya. Tapi, Ana tidak memberitahukan pada Alaric. Ada berkas yang harus ditandatangani oleh Ana sebelum dia keluar.
Banyak sekali berkas yang harus dia tandatangani. Karena ini adalah tanggung jawabnya, Ana mengerjakan semuanya dengan cepat agar bisa mengunjungi mamanya. Begitu banyak kerjaan berkas yang dia harus tandatangani, sehingga membuat dirinya sangat lelah. Ana pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan pergi ke tempat istirahat untuk membuat kopi.
“Kenapa tubuhku akhir-akhir ini sangat lelah,” bisiknya sambil berjalan.
Saat membuka bungkus kopi instan itu, tiba-tiba keinginan Ana berubah, dia tidak ingin menyeduhnya. Dia malah ingin memakan langsung serbuk kopinya.
'Loh ... kok kaya gini juga enak ya?' gumamnya sambil terus memakan serbuk kopi instan itu.
Ana berjalan kembali ke ruangan papanya dan masih memegang bungkus kopi instan itu.
“Loh ... Ana, kok kamu ngemilin kopi gitu sih? Apa enggak pahit ya?” tanya Bimo aneh. Ana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Memang kalau dipikir-pikir memang aneh kenapa dia sangat menyukai serbuk kopi dibanding harus menyeduhnya. Tapi, pemikiran Aneh itu ditepisnya dan dia pun melanjutkan kerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
Jam makan siang Ana dan Bimo berencana untuk makan siang di rumah. Kebetulan kerjaan Ana sudah beres dan tidak ada lagi yang harus dia kerjakan di kantor. Keduanya pun bergegas pulang ke rumah, karena Tina sudah menyiapkan banyak makanan pesanan Ana. Memang sebelumnya Ana memesan banyak makanan yang sangat ingin sekali dia makan. Dia merindukan semua masakan mamanya hingga membuat dia menelan beberapa kali air liurnya saat membayangkan aneka masakan yang diinginkannya.
Sampai di rumah, Ana bergegas masuk ke rumah dan langsung menuju ke ruang makan.
Bimo dan Tina juga adiknya merasa heran melihat selera makan Ana yang begitu meningkat berbeda dari biasanya. Pasalnya mereka tahu kalau porsi makan Ana sangat sedikit.
“Kak, pelan-pelan napa makannya,” tegur Ira sambil memberikan segelas air putih saat kakak kesayangannya itu tersedak makanan. Ana mengacungkan jempolnya sambil meminum air yang diberikan Ira.
“Alaric enggak pernah kasih kamu makan, Kak?” canda Bimo membuat istri dan anaknya tertawa, sedangkan Ana masih menikmati makanannya sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku laper banget, Pa. Dan yang paling penting, aku sangat rindu masakan Mama,” ucap Ana yang belum berhenti menggiling makanan dalam mulutnya.
“Ya sudah, habiskan semuanya, Sayang,” lanjut Tina sambil tersenyum.
Setelah Menyantap beraneka jenis makanan, mereka pun berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang-bincang. Tidak lama Bimo pun pamit untuk kembali lagi ke kantor, sedangkan Ana tetap menetap sampai suaminya jemput ke rumah.
Setelah Bimo pergi, mereka lanjut membicarakan salah satu acara reality show yang sedang tayang di TV. Tiba-tiba Ana merasa perutnya kembali lapar, tapi kali ini yang dia butuhkan hanya kopi bubuk instan. Entah kenapa dia selalu saja ingin memakan kopi tanpa menyeduhnya, padahal dia bukan seorang pecinta kopi.
“Ma, ada kopi instan enggak?” tanya Ana pada mamanya yang pandangannya serius ke arah TV. Tina menunjukan telunjuknya ke arah lemari dan Ana pun segera berdiri dan mengambilnya.
__ADS_1
Saat membuka bungkus kopi itu, pertama-tama Ana mencium aromanya dan itu terasa sangat nikmat. Dia pun kembali bergabung dengan mama dan adiknya.
“Loh Kak, kopinya enggak diseduh?” tanya Tina heran.
“Enggak Ma. Aku pengen cemilin gini aja.” melihat itu Tina curiga kalau anaknya sedang mengandung.
“Kak, terakhir kamu datang bulan kapan?” Ana yang asik memakan kopi langsung melirik ke arah mamanya.
“Emmm ... kapan ya? Bulan kemaren aku masih datang bulan kok, Ma. Ada apa?”
“Bulan ini?” lanjut Tina.
“Belum sih. Soalnya aku biasa dapet itu akhir bulan. Ada apa sih, Ma? Pasti Mama mikir aku hamil 'kan? Enggak mungkin, Ma. Soalnya aku belum telat,” ucap Ana santai dan kembali menikmati kopinya. Ana sekarang sudah masa bodo dengan kehamilannya, tapi Tina merasa ada yang beda dengan anaknya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan Lupa
👍Like
💬Komen
🌺Vote yaa...
Terima kasih ❤️❤️❤️
buay temen-temen semua mohon like yaa, yang sudah membaca mohon berikan like kalian untuk aku 🙏, karena beberapa hari ini view aku turun. Aku bakal UP tiap hari lagi insyaAllah...
__ADS_1
Happy reading semua ❤️❤️