Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 31


__ADS_3

Ana sudah siap menggunakan dress putih selutut, menunggu Alaric yang sejak tadi belum saja nampang. Dia terus melihat jam yang ada dilengannya. Sudah mapir satu jam Alaric tak kunjung datang menjemputnya. Berulang kali juga Ana menghubungi Alaric tapi tidak ada tanggapan.


Hati Ana merasa sangat cemas, dia menghubungi Aulia untuk menanyakan kekasihnya. Tapi, jawaban tetap sama nihil. Aulia sama sekali tidak tahu, dia juga sudah menanyakan pada bunda Riana, dan jawabannya Alaric sudah pergi sejak tadi.


Ana sengaja tidak mengubungi calon mertuanya itu, karena takut Riana merasa khawatir dengan anaknya. Dia pun berusaha untuk tidak berpikiran macam-macam. Dia percaya kalau Alaric baik-baik saja dan mungkin terjebak macet.


Dret ... dret ...


Dengan cepat Ana mengangkat telepon yang sejak tadi dia tunggu.


Ana : “Abang, kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan nada yang sangat khawatir.


Alaric : “Maaf Sayang membuat kamu khawatir. Tadi saat jalan menuju rumah kamu, ada kecelakaan. Dan abang dimintai tolong oleh salah satu korban untuk membawa istrinya ke rumah sakit, karena kondisi istrinya yg sedang hamil.” Alaric menjelaskam secara detail kejadiannya sampai menolong sang ibu masuk rumah sakit. Saking paniknya dia, dia lupa membawa ponsel dan memberi kabar pada kekasihnya. Memdengar penjelasan Alaric, Ana merasa bersyukur.


Ana :“Syukurlah Abang ga kenapa-kenapa.”


Alaric :“Sayang, sepertinya abang tidak bisa menemanimu. Abang harus jadi saksi atas kecelakaan tadi.” Ana menarik nafas dalam. Dia mengerti dan akhirnya Ana pun pergi ke rumah kedua orangtua angkatnya sendiri.


Ana :“Oke, Sayang. Kamu hati-hati ya! Kabari aku nanti.”


Alaric :“Iya, Sayang. Maaf ya! Kamu juga hati-hati.”


Sampai di rumah, Ana disambut oleh adik dan kedua orangtua angkatnya. Cukup mengejutkan, karena mama dan adiknya tidak pernah menyambut kedatangan dirinya sebelumnya.


“Selamat datang, Sayang,” sapa Tina ibu angkatnya.


“Ba-baik, Ma.” dengan terbata Ana menjawabnya. Sungguh ini hal yang sangat langka baginya. Mama yang dulu lembut terhadapnya kembali lagi. Ya ... memang semenjak kelahiran Ira, Ana tidak pernah diakui lagi olehnya. Tapi, berbeda dengan hari ini, dia sangat disamput oleh wanita setengah baya itu.


“Loh, Nak! Kenapa kamu datang sendiri?” tanya Bimo yang heran melihat Ana cuma datang seorang diri. Ana pun menjelaskan apa yang terjadi pada Alaric, dan mereka pun mengerti.


“Sayang sekali ya, mama sebenarnya sanget ingin bertemu dengan calon mantu mama,” kata Tina sambil merangkul anaknya berjalan menuju sofa.


Ira, adik Ana yang kini berusia sembilan tahun keluar dari kamarnya, sambil berlari kecil menghampiri Ana dan memeluk tubuhnya. Ira memang cukup lumayan dekat dengan kakak angkatnya itu. Mungkin, hanya Ana lah satu-satunya saudara yang dimilki olehnya.


“Kak Ana! Aku sangat merindukan dirimu” sapa Ira.


Ana tersenyum dan membalas pelukan adiknya, “Aku juga, Ra,” ucapnya.


Keluarga kecil itu berkumpul di ruang TV untuk sekedar melepas rindu. Banyak hal yang di tanyakan oleh Tina, walaupun awalnya dia sangat tidak menyukai Ana, tapi Tina menyadari kalau Ana pernah mengisi hari-hari sepinya disaat dirinya belum memiliki buah hati.

__ADS_1


Tawa pecah saat mereka saling melepas rindu. Betapa bahagianya hati Ana, karena hal yang sangat dia inginkan akhirnya terjadi juga.


'Kejutan apalagi ini Tuhan? Aku sangat bahagia. Terimakasih untuk hari ini, aku sangat bahagia,' gumannya tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan.


Tina mengambil beberapa cemilan untuk mereka santap sambil bercengkrama.


“Bagaimana kuliah kamu, Ana?” tanya Tina.


“Emmm ... Lancar, Ma. Beasiswaku juga masih jalan,” jawabnya. Ana merasa aneg dengan kedua mata orangtuanya yang saling melempar pandangan. Seperti ada yang ingin mereka sampaikan, tapi mereka ragu untuk mengutarakan.


“ ... Ma, Pa, ada apa?” tanyanya.


“Sayang, bagaimana dengan tawaran papa? Apa kamu sudah memikirkannya?” tanya Bimo yang membuat Ana tertunduk.


Tina mendekat dan menggenggam tangan anaknya seraya berkata, “Sayang, kami akan pindah saat kamu mengatakan 'ya' untuk ikut bersama dan sekolah di sana. Sekolah di sana ga kalah bagus kok, mama dan papa ingin kita berkumpul seperti dulu lagi. Ayolah, Nak! Kita akan tetap menunggu jawaban darimu.” mendengar itu membuat Ana semakin bimbang.


“Ma, Pa, maafkan Ana! Ana tidak bisa mengabulkan permintaan Mama dan Papa.” Ana tertunduk dengan nada yang terdengar sangat menyesal dia mengatakan pada kedua orangtuanya.


“Kami akan tetap menunggu keputusan kamu, Nak,” ucap Tina. Ana mengangkat wajahnya memandang Tina dan seketika memeluk tubuhnya.


“Makasih ya, Ma. Ana sangat menyayangi kalian.” melihat keduanya saling berpelukan, Ira dan Bimo menghampiri keduanya dan ikut memeluk mereka.


Ini semua semakin membuat Ana menjadi sangat bimbang. Dia ingin sekali berkumpul kembali dengan keluarga yang sangat dia sayangi, tapi di sisi lain dia tidak ingin berada jauh dari kekasihnya. Keputusan yang snagat berat untuk Ana. Dan setelah di pikir, Ana tetap ingin sekolah di Indonesia. Mendengar jawaban dari sang anak, tidak membuat Bimo dan istrinya pantang menyerah. Mereka tetap ingin merayu anak agar ikur bersama dengan mereka.


Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Waktu melepas rindu serasa cept berjalan. Tina menyuruh anak angkatnya itu untuk menginap di sana, tapi Ana menolak halus, karena besok dirinya harus berangkat pagi untuk bekerja.


“Sayang, kembalilah ke rumah. Kami sangat ingin kamu tinggal bersama kami,” ucap Tina saat mengantarkan anaknya ke mobil. Ana tersenyum dan memeluk sang mama.


“Ana bakal sering-sering menginap di sini, Ma. Ana pulang dulu ya.” dengan hati yang berat Tina mengangguk dan melambaikan tangannya saat melangkah ke dalam mobil.


“Nak, mulai besok berhentilah bekerja. Papa mohon padamu!” ucap Bimo saat hendak mengantarkan anaknya.


“Iya, Pa,” jawabnya singkat.


.


.


.

__ADS_1


.


.


~Bersambung~


Hai-hai ... Maaf nih aku jarang-jarang Update. Ini juga aku usahakan Up di sela-sela kerjaan yang menumpuk. Jangan lupa like, komen dan vote yaaaa ...


Love u all ♥️♥️♥️


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puisi by Ari


...Hari Hari Ku Teringat Padamu,...


...Ku Ingin Menuliskan Puisi Rindu Padamu,...


...Sejuta puisi takkan mampu Menggambarkan Rasa Ku Padamu,...


...Jemari Ku Seakan Tertahan...


...Saat Ku Katakan CINTA...


...Dan Ku Bisikan Di Telingamu,...


...Tentang Rasa Yang Ku Punya,...


...“AKU MENYAYANGIMU”...


...Dengan Nada Perlahan,...


...Namun Aku Tidak Bisa Menahan Rasa ini,...


...Saat Kau Balas Dengan Nada Mesra...


...“AKU JUGA MENYAYANGIMU”...


...Aku Pun Tertunduk Diam, dan Berusaha Memberi Waktu Pada Hati Untuk Banyak Mengerti Bahasa Hatimu....

__ADS_1


__ADS_2