
S2 Bab 95
Dengan lahapnya Ana menyantap dua mangkok mie ayam kesukaannya itu. Hal ini membuat Ana baru menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Karena biasanya dia tidak pernah menghabiskan satu mangkok mie ayam dengan porsi yang sebanyak itu, walaupun dia sangat menyukainya.
Tidak lupa Ana membungkus mie ayam itu untuk mertuanya, karena memang Ana berencana untuk pergi ke sana. Sebelum menjalankan mobilnya, Ana terlebih dahulu mengirim pesan singkat pada Alaric kalau hari ini dia pergi ke rumah bunda. Ana sengaja tidak memberitahu Alaric kalau dirinya pergi ke kampus hanya untuk membeli mie ayam, karena pasti Alaric idak akan mengijinkannya pergi sendiri.
Selama perjalanan, seperti biasa Ana menikmati kopi yang selalu dibawanya di dalam tas. Entah kenapa seperti ada yang kurang kalau isi tasnya tidak ada kopi di dalamnya. Ana kembali berpikir tentang dirinya yang akhir-akhir ini sangat menyukai kopi dan juga keanehan-keanehan yang lain. Tapi, semua pikirannya dia hempaskan, karena dia memang sudah tidak mau mengharap lebih yang pasti berujung menyakitkan.
Sampai di rumah mertuanya, Ana bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
“Sayang, bunda sudah menunggu kamu sejak tadi,” sapa Riana saat melihat menantunya datang.
“Maaf ya, Bun! Tadi aku beli mie ayam dulu dan ini buat bunda.” Ana menyerahkan makanan yang ada di tangannya.
“Tumben, Sayang kamu makan mie ayam sendirian,” ucap Riana sambil mengambil mie ayam yang ada di tangan Ana.
“Kebayang aja Bun, bangun tidur langsung makan mie ayam kayanya enak hihi.”
“Loh ... kamu belum sarapan nasi dong, Sayang? Awas nanti perutmu sakit.”
“Oia Bun, akhir-akhir ini ada yang aneh dengan aku.” Ana pun mulai menceritakan semua perubahan yang di alaminya. Riana yang sedang menikmati mie ayam yang tadi dibawa oleh Ana langsung menyimpan sendok dan garpunya dan pergi berjalan menuju kamar.
Ana mengerutkan dahinya melihat kelakuan mertuanya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan mertunga. Riana berjalan dengan cepat masuk ke kamarnya di tengah-tengah Ana sedang menceritakan keanehan yang terjadi padanya.
“Nih ... cepet kamu tes dulu! Bunda kemarin beli dua, karena bunda kemarin sempet telat, tapi syukurnya bunda negatif.” Riana menyerahkan alat tes kehamilan pada Ana.
__ADS_1
“Ma-maksud Bunda, Ana ha ....”
“Udah jangan kebanyakan mikir. Cepet ke kamar mandi, bunda enggak sabar lihat hasilnya.” Riana menarik tubuh Ana dan mendorongnya untuk segera masuk ke kamar mandi.
Ana menatap terus alat pipih itu. Dia ragu kalau dirinya benaran hamil sekarang. Entah sudah berapa puluh alat tes kehamilan yang dia gunakan dan hasilnya semua mengecewakan.
‘Semoga ini yang terakhir aku gunakan bulan ini,’ gumamnya dan mulai menggunakan alat itu.
Sambil menutup matanya sedikit, Ana melihat mengintip pergerakan warna merah yang terus naik membentuk satu garis dan terus naik membentuk garis satunya. Masih tampak samar, tapi kini ada dua garis di alat itu. Ana keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah Riana dengan wajah yang tampak pucat.
“Bagaimana, Sayang?” Ana menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apa dia positif atau tidak, karena yang dia lihat garis satunya belum merah, tapi masih terlihat buram. Ana pun memberikan Alat itu pada Riana.
Saat melihatnya, Riana dengan refleks langsung menarik lengan Ana dan memeluk erat tubuhnya.
“Maksud Bunda, selamat? Apa aku benar-benar hamil, Bun?” Riana melepaskan pelukannya, tersenyum sambil mengangguk. Ana menutup mulutnya dan meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka dirinya juga sekarang mengandung. Impian dia selama ini akhirnya tercapai juga.
“Bun, ini beneran 'kan, Bun?” Ana masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya.
“Iya Sayang, bener.” Saking bahagianya Riana, dia langsung mengabari seluruh keluarganya kalau akhirnya dia akan mendapatkan seorang cucu.
Bukan hanya Riana, Ana pun langsung menghubungi suaminya dan memberitahukan berita bahagia ini. Alaric yang mendengarnya langsung membatalkan semua meeting hari ini dan segera pulang ke rumah bundanya. Bukan hanya Ana yang meneteskan air matanya, Alaric pun juga sama.
Ana masih belum percaya dan terus menatap benda pipih itu. Dia tidak menyangka akhirnya penantian dia selama ini berbuah hasil. Walaupun baru enam bulan lamanya, tapi menurut Ana waktu itu sangatlah lama, karena dia sangat benar-benar menginginkan hadirnya buah hati dalam keluarganya.
Sampai di rumah, Alaric langsung masuk ke dalam dan memeluk tubuh istrinya yang berada di ruang keluarga.
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang. Terima kasih,” ucap Alaric. Keduanya menangis bahagia. Riana dan para asisten keluarga pun merasakan haru dan juga bahagia melihat keduanya.
“Sekarang kita langsung ke dokter ya.” Ana mengangguk tersenyum.
“Bang, makan dulu! Setelah makan kalian baru boleh ke dokter.” tidak sabar rasanya Alaric ingin segera ke dokter, tapi dia lebih mendengarkan perintah bunda kesayangannya. Alaric dan Ana pun menyantap makanan sebelum pergi.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
🌺Vote
Happy reading guys.
__ADS_1