Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 42


__ADS_3

S2 Bab 42


Selama diperjalanan Ana tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Berat? Ya ... sungguh berat keputusan yang dia ambil. Tapi menurutnya ini pilihan yang baik untuk semuanya. Ana memang tidak memutuskan untuk datang lagi ke kampus, dia langsung ke rumah orang tua angkatnya sesuai perintah Bimo tadi malam.


Sampai di rumah masa kecilnya, Ana langsung mengusap air matanya. Dia tidak ingin keluarganya semakin cemas. Kedatangan Ana disambut oleh mama dan adiknya.


“Mama.” entah kenapa Ana kembali meneteskan air matanya saat melihat Tina yang tersenyum dan membukakan pintunya. Tina yang melihatnya langsung memeluk Ana. Pelukan yang selama ini Ana rindukan dari seorang mama. Ya ... Tina benar-benar sudah berubah, dia kembali seperti dulu, dan itu membuat Ana semakin bersyukur.


Tina sendiri sudah mengetahui semuanya. Walaupun bukan masalah inti, tapi setidaknya dia tahu kalau anaknya sedang ada masalah.


“Masuklah, Nak!” ucap Tina sambil merangkul Ana. Ira pun dengan sigap mengambuk segelas air untuk kakaknya. Ana melemparkan senyuman pada keduanya. Dia tidak menyangka keluarganya kembali seperti dulu.


“Makasih ya, De,” ucap Ana saat mengambil segelas air yang disodorkan Ira.


“Kak, apa barang-barang kamu sudah disiapkan?”


“Ana cuma bawa baju aja, Ma. Selebihnya Ana tinggalkan di kost-an.”


“Ya udah nanti mang Soleh sama bi Asih yang mengambil barang-barang kamu. Apa kamu benar-benar siap dengan keputusan kamu?” Ana merunduk mengangguk. Air matanya kembali mengalir.


“Keputusam itu sudah bulat, Ma. Ana ingin menenagkan hati dan pikiran Ana. Dan mungkin butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka dan rasa kecewa Ana,” ucapnya dalam tangis.


“Ceritakan pada mama, Nak, apa yang terjadi sebenarnya? Biar kamu merasa lebih tenang.” Tina menarik tangan Ana dan menggenggamnya. Ana pun menceritakan semua yang terjadi padanya, dan itu berhasil membuat Tina merasa emosi.


Disisi lain Alaric sudah pasrah, dia tidak menemukan keberadaan Ana, dan begitu juga dengan Aulia. Mereka mencoba menghubungi Ana tapi tidak tersambung. Aulia yang kini mulai menangisi rasa bersalahnya. Dia mengutuk dirinya sendiri apabila tidak bertemu dengan sahabatnya. Krisna hanya bisa memeluk kekasihnya dan menenangkannya.


Mereka pun memutuskan untuk ke kost-an Ana, pikir mereka pasti Ana berada di sana. Intan dan Gibran pun ikut mencari Ana di tempat kerjanya, mereka tidak tahu kalau Ana sudah keluar. Yang mengetahuinya hanya Alaric dan itu pun dia lupa memberitahukan pada sepupunya karena otaknya hanya tertuju pada Ana seorang.


“Bang, gue sebaiknya anter Aulia pulang dulu ya!” ucap Krisna.

__ADS_1


“Ga mau, Bang. Aku mau ikut cari Ana ke kost-an dia. Please, Bang!”


“Ya udah, kalau begitu biar satu mobil aja. Bang, biar gue yang bawa mobilnya,” ucap Krisna. Mereka pun memutuskan untuk menggunakan mobil Krisna. Aulia yang berada di belakang twrus menangis dan sambil nerusaha menghubungi Ana. Banyak pesan yang dia kirimkan kepada Ana, tapi semuanya sama sekali tidak ada yang terkirim.


Sampai di kost-an Ana, semua tampak sepi. Alaric pun menanyakan Ana pada pemilik kost-an yang kebetulan sedang berada di sana.


“Maaf, Bu! Yang kost di sini kemana ya?” tanya Alaric sambil menunjukan kamar Ana.


“Baru saja ada dua orang yang mengambil barang-barangnya, Mas. Katanya sih mau pindah.” Deg! Jantung Alaric seakan berhenti. 'Sayang, segitu bencikah kamu padaku? Kenapa kamu menghilang seperti ini?' gumam Alaric yang langsung terdiam seribu bahasa.


“Maaf, Bu! Kalau boleh tahu, pindahnya kemana ya?” lanjut Krisna, karena melihat Alaric yang tiba-tiba terdiam.


“Kurang tau, Mas. Soalnya tadi yang ambil barangnya bukan Ana. Tapi dua orang, yang ngakunya saudara dia. Saya percaya karena mereka memegang kuncinya, dan menyerahkannya pada saya.”


“Oh seperti itu. Makasih ya, Bu, atas waktunya.” mereka pun memutuskan untuk kembali ke mobil. Gibran dan Intan yang baru saja tiba menanyakan keberadaan Ana, Krisna pun menggelengkan kepala.


“Arrgh ....” teriak Alaric sambil menarik rambutnya. Gibran yang melihatnya langsung merangkul sepupunya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang dari kantor, dan mengurus semuanya, Bimo langsung pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar untuk memberikan kabar baik pada keluarganya. Sampai di rumah, dia pun bergegas masuk ke dalam. Impian dia untuk berkumpul kembali akhirnya terwujud sudah.


“Ma, kakak mana?” tanya Bimo karena tidak melihat keberadaan anak sulungnya.


“Dia sedang di kamar, Pa. Tadi kaka sudah mencertiakan semua masalahnya. Pa, apa kita tidak terlalu egois apabila harus pindah? Semua ini hanya kesalahpahaman dan bisa saja diluruskan,” jelas Tina pada suaminya, sambil mengambil tas dan jasnya.


“Sikap egois demi kebaikan ga apa-apa, Ma. Kalau bukan ada masalah ini, dia tidak akan pernah ikut kita pindah. Entah kenapa papa sangat bersyukur dengan adanya kejadian ini. Setidaknya kejadian ini membuat kita kembali berkumpul. Akan ada saatnya nanti semuanya kembali, tapi untuk saat ini, papa ingin kita seperi dulu. Menjadi keluarga yang seutuhnya.” Tina pun tersenyum, dia sadar sikap egois dia dulu membuat kekeluargaan pecah. Dan itu membuat dia menyesal, Tina pun ikut bersyukur Ana mau kembali lagi berkumpul dengan mereka.


Dengan sangat cepat Bimo mempersiapkan semua keperluan mereka untuk pindah kekuar negeri. Tinggal kurang lebih dua hari mereka tinggal di Indonesia. Berulang kali Bimo menanyakan pada Ana tentang keputusannya, dan Ana pun masih menjawabnya dengan jawaban yang sama.

__ADS_1


Satu-satunya orang yang mengetahui rencana keluarga Sutomo ini hanyalah Satria. Dia menyayangkan tentang keputusan Ana yang ikut pindah ke luar negeri.


“Jangan lupa selalu kirim kabar kamu ke aku,” ucap Satria yang langsung datang ke rumah Ana saat mendengar kabar itu. Ana hanya tersenyum mengangguk.


“... jangan lama-lama disana dan kembalilah ke Indonesia, aku pasti sangat merindukanmu.” Satria tertunduk menahan tangisnya. Berat untuk dia saat mengetahui gadis yang disukainya akan pergi jauh.


“Tenang aja Kak, aku akan mengobati rasa rindumu. Aku usahakan setiap hari selalu kirim kabar padamu.” Satria mangangkat wajahnya dan memandang Ana sambil tersenyum. Dia terus memandang wajah cantik Ana yang sebentar lagi akan pergi jauh darinya.


“Kenapa lihatnya gitu sih?” tanya Ana malu-malu.


“Mau puas-puasin memandang wajah cantik kamu, karena mungkin ini menjadi terakhir kalinya,” canda Satria yang berhasil membuat Ana tersenyum malu.


“Cih ... aku pasti kembali kok, walaupun entah kapan itu.”


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Terimakasih semuaaaaa .... ❤️❤️


Jangan lupa like dan komennya. Oia bantu VOTE juga dong novel ini dalam event LOMBA UPDATE TIM, yang ada di layar depan novel ini biar author tambah semangat lanjutin ceritanya 😊😊😊😊...

__ADS_1


Follow IG Author dong @Septeiani_wulan15 biar kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author san juga Follow akun Mangatoon/Noveltoon Aku ya 😘


AKU PADAMU SEMUANYA ❤️❤️❤️


__ADS_2