
Tiga bulan sudah berlalu. Perut Riana sudah semakin membesar, Karena usia kandungan dia yang sudah menginjak tujuh bulan. Rendra semakin menjadi suami siaga untuk istrinya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah menemani sang istri.
Keduanya mulai mengumpulkan perlengkapan untuk sang buah hati. Tinggal dua bulan lagi keluarga mereka akan penuh dengan suara tangis seorang bayi. Kedua orang tua Rendra pun sudah tidak sabar untuk menimang cucu pertama mereka.
Hari ini rencananya Riana dan Rendra akan pergi untuk membeli perlengkapan untuk anak mereka. Dari pagi Riana sudah mengurus Salsa, karena hari ini Didit dan Desi akan membawanya untuk jalan-jalan, selagi Riana dan Rendra belanja kebutuhan mereka.
“Mama ....” teriak Salsa pada Desi yang baru saja tiba di rumah. Desi memang menyuruh Salsa untuk memanggil dirinya Mama, walaupun sebenarnya Salsa belum mengetahui status sebenarnya. Desi pun langsung mengendong anaknya.
“Hai kak,” sapa Riana sambil mencium kedua pipi Desi.
“Kalian mau berangkat sekarang?” tanya Didit.
“Iya Kak,” jawab Riana.
“Ya udah, kita sebaiknya berangkat juga, keburu siang.” Ajak Didit dan mereka pun berangkat masing-masing. Salsa memeluk dan mencium kedua orang yang merawatnya sebelum dia pergi rekreasi bersama Desi dan Didit.
Setelah melambaikan tangan pada sang anak, keduanya pun berangkat ke pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota. Rendra merangkul istrinya saat berjalan menyusuri mall. Satu-persatu toko perlengkapan bayi sudah didatangi oleh Riana. Memang dasar perempuan Riana memilih harga yang diskon tp kualitas yang bagus.
“Sayang, kamu ga usah lihat harganya, ambilah yang benar-benar dibutuhkan anak kita,” kesal Rendra, karena sejak tadi istrinya berkeliling mencari barang-barang yang diskon.
“Sabar donk Mas, 'kan sayang kalau beli yang mahal-mahal kepakenya cuma sebentar.” Rendra menarik nafas dalam dan dengan terpaksa mengikuti apa yang di bicarakan istrinya.
Sudah banyak barang belanjaan yang dibeli oleh Riana. Hampir semua toko perlengkapan bayi dia datangi dan itu membuat dirinya merasa lelah. Melihat istrinya yang kelelahan, Rendra membawanya ke salah satu tempat duduk yang ada di mall.
“Tunggu sini ya, aku beli minum dulu.” Riana mengangguk.
Dia merasakan pegal di kakinya yang sudah terlihat sangat bengkak. Riana mengipas dirinya dengan kertas promo yang tadi di bagikan oleh sales elektronik padanya saat dirinya jalan. Perut hang besar membuat dia sedikit kegerahan walaupun suasana adem di mall itu.
“Mbak mau minum?” seorang laki-laki yang baru saja duduk di samping dia menawarkan satu botol air mineral padanya.
“Ga mas, makasih.” jawab Riana sambil tersenyum.
Rendra merasa panas saat melihat istrinya yang sedang tersenyum dengan laki-laki lain. Seketika dia merasa sangat cemburu dengan istrinya. Rendra mempercepat langkahnya menghampiri istrinya. Dia tidak ingin ada lelaki manapun yang berdekatan dengan istrinya.
“Yank, ayo pergi!” Rendra langsung menarik tangan istrinya.
“Mas, saya duluan.” pamit Riana pada lelaki yang menawarkan dirinya minum. Lelaki itu hanya tersenyum menjawabnya.
“Mas, pelan-pelan donk, kaki aku sakit,” Rendra melepas tangannya. Dia merasa bersalah pada istrinya.
__ADS_1
Rendra kembali mencari tempat duduk untuk istrinya. Saat menemukannya dia menyuruh istrinya untuk duduk. Kemudian dia berlutut di hadapan istrinya. Perlahan dia membuka sendal Riana dan memijat kakinya. Banyak mata yang melihat keduanya sambil tersenyum. Riana yang menjadi pusat perhatian meras malu, dia mencoba menarik kakinya tapi di tahan oleh Rendra.
“Mas, apa-apa sih. Malu diliatin banyak orang,” bisik Riana pelan.
“Sebentar saja, kaki kamu bengkak biar aku pijat sedikit supaya tidak pegal.” Riana tersenyum dengan apa yang dilakukan Rendra padanya. Cowok yang katanya sangat tegas, ternyata mempunyai sisi kelembutan seperti ini dan Riana tidak pernah menyangkanya.
Selesai memijat kaki istrinya, Rendra duduk di sebelahnya. Dia mengambil air minum yang sudah dibelinya dan memberikannya pada istrinya.
“Makasih ya Mas. Oia ... kenapa tadi tiba-tiba Mas narik tangan aku sih?”
“Aku ga suka ada pria yang dekat-dekat dengan kamu,” Riana tertawa saat mendengar jawaban dari suaminya.
“Kok ketawa sih? aku serius sayang!”
“Mas, pria tadi itu baik nawarin aku minum. Dan ga lebih, dia cuma menawarkan itu saja. Kamu kenapa jadi cemburuan seperti ini sih,” Riana gemas dan mencubit pipi suaminya.
“Siapapun itu aku ga suka, sayang. Aku ga rela kamu memberikan senyuman kamu untuk pria lain.”
“Iya sayangku, aku hanya milik kamu.” Rendra tersenyum. Dia merangkul istrinya dan mencium keningnya.
“Mas, malu!” Rendra tidak peduli dan kembali mencium keningnya.
Desi membawa anaknya bermain di Dunia Fantasi. Salsa sangat senang bisa bermain sepuasnya di sana. Banyak wahana yang sudah mereka coba. Karena hari sudah siang, Didit membawa kedua orang yang disayanginya untuk mencari makanan.
Mereka masuk di salah saru restoran yang ada di sana. Didit memanggil waiters untuk memesan makanan. Desi merasa sangat bahagia saat melihat Didit memperlakukan anaknya dengan sangat baik.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Adit membuat Desi salah tingkah. Melihat kekasihnya seperti itu Didit malah menertawakannya.
“Ish ... apaain sih? siapa coba yang senyum-senyum, udah ih jangan ngeliatin aku mulu,”
“Kamu cantik kalau seperti ini. Aku makin cinta sama kamu deh,”
“Cih ... gombal, mulai deh ....” Didit tersenyum dan mencubit kecil pipinya.
Makanan yang dipesan keduanya pun datang. Salsa dengan lahapnya memakan makanan yang ada dihadapannya. Sesekali Didit membantu gadis kecil itu mengambil makanannya.
“Yank, habis ini mau main lagi atau langsung pulang?” Tatapan Desi memandang ke depan.
“Dit, kita pergi sekarang!!” tanpa menjawab pertanyaan dari Didit, Desi mengajak kekasihnya untuk pergi.
__ADS_1
Dengan sigap Didit mengendong Salsa dan mengikuti langkah kekasihnya. Dia tidak mengerti apa yang dilihat Desi tadi, sampai dia buru-buru untuk keluar sari restoran itu. Sampai di parkiran mobil Desi tetap diam. Didit mendudukkan Salsa di belakang mobilnya dan dia pun masuk ke dalam mobil.
“Yank, ada sih sebenarnya?” Desi memilih untuk diam. Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Didit memilih untuk diam. Dia tahu ada alasan Desi menjadi seperti ini. Dia mencoba memahami kekasihnya, karena dia tahu kalau Desi sangat keras kepala. Mau dipaksa bagaimana juga Desi akan tetap menutup mulutnya.
Sesampai dirumah Rendra, Didit mengendong Salsa yang sudah tertidur dan langsung menyimpannya di kamarnya. Keduanya langsung pamit pada Rendra dan Riana. Saat di perjalanan Didit kaget melihat Desi meneteskan air matanya. Dia pun memarkirkan mobilnya di depan taman.
“Sayang, kamu kenapa? apa ada yang salah hari ini?” cemas Didit. Tidak ada jawaban dari Desi, dia langsung memeluk tubuh Didit. Tangisnya semakin menjadi, Didit tidak akan menanyakan lebih jauh lagi. Dia menyambut pelukan Desi dan mencoba menenangkan kekasihnya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaa....
Guys mampir ke novel favorit aku yuu, ceritanya keren dijamin kalian syukak....
**Judul : Pujaku Mayang
Pena : Azis Beck
Judul : My Heart is Only for You
Pena : Erggina Putri
Judul : Boss Come Here Please!
Pena : Novi Wu**
__ADS_1
Ditunggu kedatangan kalian ....