Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 53


__ADS_3

Sudah dua jam berlalu, dan akhirnya pertemuan Alaric dan Erna selesai. Alaric mengantar Erna ke mobilnya terlebih dahulu. Dan keduanya pun saling berpamitan. Hari ini menjadi hari yang sangat bahagia, menegangkan, sekaligus sakit hati.


Selama perjalanan otak Alaric penuh dengan bayang-bayang Ana yang semakin cantik menurutnya. Tapi seketika juga hatinya merasa sakit dengan rasa kekecewaannya terhadap Satria dan juga Ana. Rasa sakit hati yang dirasakan Alaric tidak membuat dia menyerah terhadap Ana. Dia tetap ingin memiliki kembali Ana sepenuhnya.


Disisi lain, Ana terus saja menangis. Satria dan Erna yang ada di dekatnya mencoba untuk menenangkan dirinya. Ketiganya kini sudah berada di kediaman keluarga angkat Ana.


“Jadi gimana nih, masih mau terusin?” tanya Erna.


“Aku enggak sanggup, melihat dia sudah menderita selama tiga tahun ini. Aku merasa tidak pantas untuknya,” jawab Ana dalam tangisnya.


“Terus apa kabar dengan kamu? Kalian sama-sama menderita. Disini tidak ada yang pantas atau tidak pantas. Ana, kalian berdua saling mencintai, aku melihat dari tatapan kalian. Benar enggak, yank?” tanya Erna pada Satria, kekasihnya.


Satria adalah kekasih Erna selama satu tahun belakang ini. Keduanya berpacaran setelah Satria beberapa kali berlibur ke Singapura. Awalnya Satria ke sana untuk menyatakan perasaannya pada Ana, tapi Ana selalu saja menolak dan sampai akhirnya Satria merasa nyaman dengan sahabat Ana yang bernama Erna.


Kedua gadis itu langsung merasa nyaman pas pertama kali bertemu. Awalnya karena mereka sama-sama dari kota Jakarta, tapi semakin lama mereka semakin dekat dan akhirnya menjadi sahabat. Kepulangan Ana dan semua yang terjadi hari ini adalah rencana dari bundanya Alaric yaitu Riana.


Bermula dari silahturahmi ke rumah bu Anto. Bu Anto yang bernama asli Sari adalah istri rekan bisnis suaminya dulu. Ketika itu Rendra dan Anto rekan bisnisnya bertemu di Bali bersama istri mereka. Semenjak pertemuan di Bali keduanya semakin akrab sampai sekarang. Pada saat Riana berkunjung ke rumahnya, disitulah Riana mengetahui keberadaan dan kepulangan Ana ke Indonesia.


Satu minggu sebelum kepulangan Erna.


“Jeng, ini siapa? Kok aku tidak tahu kamu mempunyai gadis secantik ini?” tanya Riana sambil memegang bingkai foto kecil yang berada di atas lemari hias ruang tamu.


“Oh iya ... aku belum cerita ya. Dia anak bungsuku namanya Erna. Sudah dia sekolah di Singapura, tapi pada saat libur kuliah dia pasti pulang ke Indonesia. Minggu depan rencananya Erna bakal pulang ke Indonesia, karena study-nya sudah selesai. Oia jeng, dia baru kirim foto terbaru sama aku, kamu mau lihat wajahnya?”


“Tentu saja.” Sari langsung mengambil ponselnya, dan membuka galeri yang ada di dalam sana. Ketika Sari memperlihatkan foto anaknya, jantung Riana serasa berhenti. Antara bahagia dan kaget. Pasalnya foto Erna sedang bersama Ana duduk di taman.


“Jeng, apa saya boleh tahu siapa wanita yang asa di samping anakmu?” tanya Riana, matanya tidak lepas menatap wajah Ana dalam foto itu.

__ADS_1


“Oh namanya Ana. Dia sahabat baik anakku. Sejak Erna kuliah di Singapura, mereka langsung akrab dan bersahabat sampai saat ini. Oia, kalau ga salah dia juga sama-sama berasal dari Jakarta. Anakku sering sekali bercerita tentang Ana dan keluarganya. Mereka sangat baik dan memperlakukan Erna dengan cukup baik dan menganggap Erna sebagai anak mereka sendiri,” jelas Sari.


'Ya Tuhan, apa ini jawaban dari setiap doaku? Engkau mempertemukan aku dengan Ana, walaupun melalui perantara. Terimakasih, Tuhan.' gumam Riana.


Tidak terasa air mata Riana menetes, dan itu sontak membuat Sari merasa kaget.


“Jeng, kamu kenapa?” tanya Sari sambil memberikan kotak tisu pada Riana. Disana pun bermula dari kejadian yang dialamin Alaric hari ini. Riana menceritakan semua yang terjadi pada anakny, sampai anaknya yang sangat menderita dan menutup hati untuk wanita mana pun.


Akhirnya Sari memutuskan menelepon anaknya di Singapura. Hari itu juga Riana langsung bicara dengan Erna. Kebetulan saat vidio call Erna sedang berada bersama dengan Ana di kost-annya. Saat mendengar suara Riana, Ana merasa sangat kaget. Seketika dia langsung melihat ponsel sahabatnya, dan dugaan dia benar kalau itu adalah suara bunda.


Awalnya Ana terus menolak untuk bicara dengannya. Tapi lama-kelamaan Ana pun luluh setelah setiap hari Riana menelepon dirinya. Ya ... hubungan keduanya bagai anak dan seorang ibu yang terhalang jarak. Riana terus menelepon Ana untuk sekedar menanyakan 'Lagi apa?' atau 'Sudah makan apa belum?'


Riana merasa senang akhirnya mengetahui keberadaan Ana. Tapi, atas permintaan dari Ana, Riana tidak memberitahukan pada anak sulungnya. Hubungan mereka pun berjalan dengan baik. Komunikasi mereka tidak pernah putus, bahkan Riana sudah dikenalkan pada kedua orang tua angkat Ana melalu vidio call.


Tidak ada yang mengetahui hubungan Riana dengan Ana, bahkan suaminya sendiri. Oleh karena itu tdak ada yang tahu rencana yang audah disusun Riana dan juga Sari.


Riana merasa senang, saat mengetahui recana yang disusunnya berhasil dari Sari. Setelah mereka bertemu, Sari langsung memberitahukan ceritanya setelah sang anak menceritakan semuanya. Riana sudah tidak sabar menunggu kepulangan anaknya dan menanyakan apa yang terjadi hari ini.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Alaric memasuki rumah dengan wajah yang kusam. Riana tersenyum dan langsung menghampiri anaknya.


“Bagaimana, Bang? Kamu menyukai Erna?” bukan jawaban yang didengar, Riana langsung mendapat pelukan dari anaknya.


Sudah lama sekali Alaric tidak memeluk dirinya seperti ini. Riana merasa bahagia dan menyambut pelukan anaknya. Dia bersyukur kejadian hari ini membuat anaknya kembali mau menumpahkan segala resah dalam dirinya.


“Bun, aku bertemu Ana.” Riana yang mendengarnya pura-pura kaget dan langsung melepaskan pelukan anaknya.


“Apa? Dimana, Sayang?” Riana menarik tangan Alaric untuk duduk terlebih dahulu di kursi ruang tamu.

__ADS_1


“... ceritakan sama bunda, apa yang sebenarnya terjadi? Dan bagaimana bisa kamu bertemu dengan Ana.”


Alaric pun menceritakan semuanya secara detail tanpa mengurangi dan menambahkan cerita. Riana merasa sedih melihat anaknya yang berkaca-kaca menahan tangis saat menceritakan tentang Ana. Riana pun menarik tubuh anaknya dan menepuk pundaknya agar Alaric merasa tenang.


'Maafkan bunda, Sayang. Sekarang bunda sangat tahu bagaimana perasaan kamu selama ini. Kamu yang selalu menyimpan semuanya sendiri akhirnya bunda merasakannya. Kamu tenang saja, Nak. Kesedihan kamu selama ini akan bunda rubah menjadi kebahagiaan yang luar biasa.' gumam Riana sambil terus menenangkan anaknya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Hai readers gimana keselnya udahan ya! hihihi


kali-kali aku bikin cerita yang berbelit-belit 😂😂😂


Oke jangan lupa untuk Like, Komen dan ayo dong VOTE 🥺🥺🥺


Makasih atas semua dukungan kalian yaaa


AKU PADAMU ALL ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2