
Hari ini adalah hari dimana ujian semester berakhir. Keluarga Wicaksono sudah tidak sabar untuk berlibur bersama. Semua persiapan untuk liburan sudah tersusun rapih. Riana memang sangat telaten menyiapkan segala kebutuhan suami dan anaknya.
“Sayang, kita berangkat tiga hari lagi loh, kok semua udah siap begini?” tanya Rendra pada istrinya.
“Ayah kaya ga tahu bunda aja. Ibu kan memang selalu seperti ini kalau kita mau pergi keluar kota,” jawab Alaric yang baru bergabung sambil mengambil air putih yang berada di dapur. Riana yang sedang menyiapkan sarapan hanya tersenyum mendengar jawaban anaknya.
“Oh iya ayah lupa, saking lamanya kita ga pernah liburan lagi. Kalau di ingat-ingat terakhir liburan itu pas kamu awal masuk kuliah ya, Bang?”
“emm ... iya bener, Yah. Wah lama juga ya? Kalau dihitung-hitung susah jalan tiga tahun setengah.”
“Baru tiga tahun ayah udah melupakan kebiasaan bunda,” ucap Riana sambil membawa aneka masakan ke atas meja makan.
“Cie ... ada yang ngambek nih,” goda Rendra sambil menarik tubuh istrinya hingga jatuh ke dalam pangkuannya. Alaric hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Ih ... Bunda sama Ayah pagi-pagi udah mesra-mesraan, ga baik tau di depan anak-anak,” ucap Arez yang baru bergabung di meja makan. Riana mencubit perut Rendra dan kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang lainnya.
“Kamu bukan anak-anak lagi tahu,” ucap Alaric sambil mengacak-acak rambut adiknya.
“Abang, ah ... rese banget. Arez butuh waktu lama buat rapihin rambut Arez.” Alaric tersenyum dan semakin mengacak-acak rambutnya.
“Abang!! Stop!!”
“Udah-udah. Abang, tahu adiknya marah bukannya berhenti malah disengaja,” kata Riana.
“Tahu nih Bun, nyebelin emang punya abang.”
“Arez, ga boleh gitu. Kamu tetap harus menghormati abang kamu.”
“Tuh denger.” kembali Alaric mengacak rambutnya.
“Abang, rese sumpah.” Ares pun ikut mengacak-acak rambut Alaric. Keduanya pun saling mengacak-acak rambut satu sama lain, membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepalanya.
“Bun, kayanya kita harus bikin anak satu lagi deh,” ucap Rendra, dan dengan seketika keduanya menjawab, “Tidak!!”
Riana dan Rendra langsung tertawa melihat kelakuan kedua anak mereka. Rendra tahu betul kalau keduanya tidak mau mempunyai adik lagi, karena menurut mereka kalau ada adik lagi maka kasih sayang ayah dan bundanya akan penuh buat adik mereka kelak. Kekanak-kanakan memang, tapi walaupun mereka sudah dewasa keduanya tetap tidak mau kehilangan kasih sayang Riana dan Rendra.
“Udah ayo sarapan, nanti kalian terlambat,” titah Riana.
Selesai sarapan, keduanya pun pamit, dan masing-masing dari mereka membawa kendaraan sendiri. Sambil memanaskan mobilnya, Alaric menelepon Aulia untuk memastikan agar dia mengajak Ana hari ini.
Alaric : “Pagi adikku sayang,”
Aulia : “Pagi, ade tahu abang pasti ada maunya. Karena ga ada angin dan hujan Abang nelepon ade sepagi ini,”
Alaric : “Hahahaha, kamu makin gede makin pinter ya. Abang bangga punya adik kaya kamu,”
Aulia : “Cepat katakan! Ade ga punya banyak waktu,”
Alaric : “Cih ... gayamu dek, udah kaya presiden aja tahu. Jangan lupa ya hari ini untuk ajak Ana,”
Aulia : “Ehem ... bayarannya apa nih? Ade jadi makcomblang abang,”
__ADS_1
Alaric : “Kamu maunya apa?”
Aulia : “Aku maunya, setelah liburan nanti abang sama Ana harus sudah punya status,” Alaric tersenyum mendengar perkataan Aulia.
Alaric : “Aw ... permintaan yang sulit, tapi abang akan berusaha kabulkan,”
Aulia : “Cih ... laganya, ya udah ah ade bosen ngomong sama abang, bye.” Aulia pun menutup ponselnya. Alaric masih tersenyum menatap ponselnya.
Dia pun segera siap-siap untuk menjemput Ana di kostannya. Sebelum melajukan mobilnya, Alaric memasang headset dan menelepon Ana.
Alaric : “Pagi, udah siap?”
Ana : “Pagi Abang, udah kok. Ini aku lagi duduk di depan kostan,”
Alaric : “Tunggu pangeran datang ya,”
Ana : “Hahaha, iya deh pangeran, hati-hati dijalan ya, udah matiin teleponnya! Ga baik berkendara sambil telepon,”
Alaric : “Cie ... perhatian, ya udah tunggu abang ya!” Alaric pun mematikan teleponnya.
Jantung Ana berdebar tiap kali mendengar suara manis Alaric. Dia terus tersenyum sambil memeluk ponselnya, tanpa disadari ponselnya yang sejak tadi berbunyi.
“Ayah!” Ana dengan cepat mengangkat telepon dari ayahnya.
Ana : “Halo Ayah, apa kabar?”
Bimo : “Baik Nak, kamu sendiri bagaimana?”
Bimo : “Ayah sangat merindukan dirimu, Nak. Liburan semester ini bisakah kamu pulang ke rumah? Ibu sama adikmu juga sangat merindukanmu,”
Pasti ayah sedang berbohong, batin Ana.
Mobil Alaric pun datang. Alaric membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan padanya.
Ana : “Ana juga sangat merindukan ayah. Emm ... nanti Ana akan main ke sana kok, Yah. Ayah, Ana berangkat kampus dulu ya,”
Bimo : “Iya sayang, hati-hati dijalan. Ayah, ibu dan adikmu menunggumu di rumah,”
Ana : “Iya ayah. Bye Ayah.”
Ana bergegas berlari menghampiri Alaric yang sudah berdiri di depan mobilnya. Alaric pun membuka pintu mobilnya untuk Ana.
“Tadi teleponan sama siapa?” tanya Alaric penasaran.
“Oh tadi sama bu Sarah.” Ana terpaksa berbohong, karena memang dia tidak mau Alaric tau tentang keluarga angkatnya. Alaric hanya menganggukkan kepalanya dan melajukan mobilnya.
Sesampai di Kampus, Ana langsung pamit pada Alaric karena ujian yang akan segera dimulai. Dia berlari menuju kelasnya. Aulia yang sejak tadi menunggu Ana di depan kelas langsung
menggenggam tangannya dan masuk ke kelas.
**Satu Jam Kemudian**
__ADS_1
“Akhirnya!!” teriak Aulia sambil mengangkat kedua tangannya di ikuti sorakan dr para mahasiswa yang senang ujian semester ini telah usai.
“Tinggal menunggu hasil gaes,” teriak salah satu mahasiswa yang ada di sana. Seketika kelas yang tadinya ramai mendadak tegang menunggu hasil ujian.
“An, liburan nanti ikut keluarga gue liburan yuk!” ajak Aulia sambil keduanya membereskan laptop dan alat tulis mereka.
“Ga enak ah, masa liburan keluarga gue ikut, ga bisa lagipula gue liburan ke panti,”
“Ayolaaah, ya ... ya, please!” Aulia memeluk lengan Ana dengan wajah yang memelas.
“Aul sayang, aku ....”
“Please! Cuma tiga hari kok An, sisanya 'kan lo bisa liburan ke panti. Ya ... ya ... ya, please!! Btw ... ada Bang Al juga loh,”
“Dih ... emang kenapa kalau ada Bang Al?” Ana tersenyum berjalan sambil mengambil tasnya yang ada di meja.
“Ana! Tungguin!” dengan cepat Aulia menyusul sahabatnya dan mengandeng tangannya.
“Ana, Ana! Ya ... ya ....”
“Apasih Aul?”
“Ikut dong, please! Bunda sama mami membolehkan gue bawa teman sebanyak yang gue mau kok. Ya ... ya,”
“Iya bawel,”
“Serius iya?”
“Iyaa ... cerewet banget sih. Eh ... tapi gue ikut bukan karena bang Al ya!” Aulia tersenyum nakal mendengar perkataan sahabatnya.
Biasanya orang kalau mengelak, itu adalah kenyatannya, batin Aulia.
“Oke, aku percaya kok.” keduanya sambil melempar senyuman.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Guys Vote sebanyak-banyaknya yaaa biar aku bisa semangat UP tiap hari. Jangan lupa like dan komennya....
Semakin banyak kalian Vote, semakin naik peringkatnya dan aku akan semakin rajin UPnya..
Aku padamu semuanya ♥️♥️♥️♥️
__ADS_1