
S2 Bab 47
Sebenarnya saat menghilangnya Ana, Alaric terus mencarinya melalui teman-teman yang dekat dengannya. Bahkan Alaric mencari Ana ke panti asuhan tempat dia tinggal dulu. Dia juga meminta pada pihak panti asuhan tentang keberadaan Satria, tapi karena itu bersifat privasi, pihak dari panti asuhan tidak berani memberitahukannya.
Mengandalkan media sosial Alaric mencari tahu tentang orang terdekat dari Ana itu. Dia tahu pasti Satria mengetahui keberadaan dari Ana. Salahnya dia dulu tidak meminta kontak Satria pada Ana. Rasa cemburu Alaric pada lelaki itu membuat dia tidak peduli dengan orang-orang yang dekat dengan kekasih. Setelah kejadian ini Alaric baru sadar betapa pentingnya kontak orang-orang yang terdekat dengan Ana.
“Bang, ayo masuk! Kata bunda waktunya foto keluarga,” titah Arez. Alaric yang sedang duduk di luar mengangguk dan mengikuti langkah adiknya.
Mata Alaric tiba-tiba tertuju pada pria yang sedang berada di atas pelaminan. Pria yang selama ini dicarinya, akhirnya dapat dia temukan. Dengan cepat Alaric berjalan mendekati pelaminan.
'Tuhan, apakah ini jawaban dari setiap doaku,' gumamnya. Dia tidak menyangka Tuhan mempertemukan dirinya dengan seseorang yang selama ini tidak bisa dia temukan. Sangat sulit untuk mendekatinya, karena dia harus melewati kerumunan orang yang sedang mengantri untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
Satria adalah teman semasa kecil Fauzi. Dulu rumahnya dekat dengan panti asuhan tempat Satria diasuh. Tapi itu pada saat Ana sudah diasuh oleh keluarga Sutomo. Maka dari itu Fauzi tidak mengenal Ana, tapi dia mengenal baik Satria.
Alaric terus berusaha menerobos kerumunan orang dan menghampiri pria yang selama ini di carinya. Saat sampai di tempat Satria berada, Alaric tidak menemukannya. 'Sial!' ucapnya kesal. Tapi dia tidak menyerah dan terus mencari di seisi gedung.
Mata Alaric sekarang tertuju ke pintu keluar. Dia melihat Satria yang sedang berjalan keluar dari gedung. Dengan cepat dia berlari menghampirinya karena takut kehilangan kembali jejaknya.
Puk! Alaric menepuk pundak Satria. Sontak lelaki itupun langsung membalikkan badannya.
“Ada apa ....?” Satria cukup kaget, dengan mata yang melotot dia melihat Alaric di sana.
“Tunggu, ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Alaric dengan nafas yang tersengal-sengal.
Keduanya pun memilih duduk di bangku taman yang berada tepat di depan gedung pernikahan.
“Bagaimana kabar, lo?” tanya Alaric sebagai kata pembuka sebelum dia menanyakan keberadaan Ana pada sahabat kekasihnya itu.
__ADS_1
“Emmm ... seperti yang lo lihat, gue baik-baik saja. Lo sendiri?”
“Lo pasti tahu apa jawaban dari gue. Semenjak kepergian Ana, gue tidak pernah baik-baik saja. Bro, sejak lama gue mencari tahu tentang kamu. Sebelumnya gue minta maaf kalau ada sikap gue yang menyakiti lo. Gue tahu, kalau lo mengetahui keberadaan Ana. Please, gue mohon beritahu gue di mana keberadaan dia.” untuk pertama kalimya Alaric memohon pada lelaki, terlebih itu adalah rivalnya sendiri.
Ada rasa kasian dan juga kesal saat Satri melihat pria yang sudah membuat kepergian Ana. Ingin rasanya dia memaki pria di depannya, tapi melihat Alaric yang sangat tersiksa membuat Satria meredam emosinya.
“Sebenarnya inj di luar dari wewenang gue. Ana berpesan untuk tidak memberitahukan pada siapapun tentang kepergiannya.” mendengar itu Alaric menatap serius ke arah Satria. Dia benar-benar bersyukur, tidak salah dia menanyakan keberadaan Ana pada Satria.
“Bro, gue mohon sama lo, gue mau ketemu sama dia. Walaupun itu menjadi pertemuan yang terakhir kalinya gue ikhlas. Asal gue bisa menjelaskan sesuatu pada Ana, please!” melihat Alaric yang terus memohon, membuat Satria menjadi sangat kasian. Di sini dia sadar kalau cinta Alaric tulus dan begitu dalam pada Ana dibandingkan dengannya.
“Bro, gue cuma tahu kalau Ana ikut pindah ke luar negeri bersama keluarga angkatnya. Tapi jelasnya mereka pindah kemana gue enggak tahu. Jadi maaf, gue tidak bisa membantu lo,” jawab Satria.
Satria memang sengaja tidak menjelaskan secara detail tentang keberadaan Ana yang sebenarnya. Kontak dan alamat tempat tinggal Ana sudah diketahui oleh Satria. Tapi ini semua dia lakukan untuk menepati janji pada Ana, kalau tidak ada yang boleh mengetahui keberadaan dirinya. Dan juga sebagai sedikit hukuman buat Alaric sebenarnya.
“Please! Gue tahu kalau lo mengetahui semuanya, Bro. Gue sayang dan cinta banget sama dia. Tidak bisakah lo memberitahukan yang sebenarnya sama gue?”
“Sorry, Bro! Bukannya tidak ingin memberitahukan sama lo. Tapi, memang gue tidak tahu keberadaan Ana dimana. Yang gue tahu dia pindaj ke luar negeri, tapi entah ke negara apa. Maaf, Bro! Gue enggak bisa bantu lo apa-apa.” Sambil menepuk bahu Alaric, Satria pun pergi meninggalkannya.
'Sayang, apa kamu sedang menghukumku? Oke! Aku terima, tapi aku mohon kembalilah, kembali padaku.'
Sejak tadi Arez mencari keberadaan abang. Karena dia kehilangan jejak Alaric sejak dia memanggilnya. Gibran dan juga Krisna pun ikut mencari Alaric yang tiba-tiba saja menghilang. Foto keluarga pun di tunda sejenak karena Alaric yang tidak juga ditemukan.
“Bang, tuh orangnya!” Krisna menunjukan telunjuknya ke arah Alaric pada Gibran. Mereka berdua pun menggelengkan kepalanya. Sejak tadi mereka mencari-cari keliling gedung, tapi ternyata orang yanh dicari malah duduk di taman.
“Bang, lo ngapain di sini? Semua orang sudah nungguin lo di dalam,” ucap Gibran. Tapi sama sekali tidak ada tanggapan darinya. Alaric tetap menundukan kepalanya. Gibran dan Krisna saling pandang. Keduanya pun duduk masing-masing disebelah Alaric.
Gibran menepuk bahu sepupunya itu, “Ada masalah apa, Bang? Apa itu masih soal Ana?” Alaric hanya mengangguk.
__ADS_1
“Abang sudah tahu Ana dimana?” tanya Krisna. Alaric mengangkat wajahnya dan menatap kosong ke arah depan.
“Gue sudah enggak ada harapan lagi. Tadi gue bertemu dengan Satria, dan dia bilang kalau Ana berangkat ke luar negeri.”
“Ya udah, Bang. Nunggu apa lagi? Lo tinggal susul dia dong,” ucap Gibran semangat.
“Tapi, Satria tidak mengetahui keberadaan Ana di negara apa. Dia cuma tahu kalau Ana pergi ke luar negeri. Gue harus bagaimana sekarang? Apa gue harus pasrah sama keadaan?”
“Bang, sekarang yang kita lakukan hanya bisa pasrah pada Tuhan. Serahkan semua pada-Nya. Kalau kalian jodoh, pasti kalian akan bertemu kembali kok. Kalau bukan, percayalah Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik buat lo, Bang. Jangam pernah berputus asa. Hidup masih panjang ke depan. Lo bukan Bang Al yang gue kenal, Bang Al yang gue kenal tidak pernah sama sekali menyerah dengan keadaan.” Gibran berusaha memberi semangat untuk sepupuny itu. Alaric hanya tersenyum mengangguk. Ada benarnya juga yang dikatakan oleh Gibran. Tapi dalam hatinya dia yakin seyakin-yakinnya kalau Ana adalah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Terimakasih semuaaaaa .... ❤️❤️
Jangan lupa like dan komennya. Tidak bosan-bosannya aku minta bantu VOTE novel ini dalam event LOMBA UPDATE TIM, yang ada di layar depan novel ini biar author tambah semangat lanjutin ceritanya 😊😊😊😊...
__ADS_1
Follow IG Author dong @PENULISMICIN biar kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author dan juga Follow akun Mangatoon/Noveltoon Aku ya dengan cara klik ava/profil aku dan klik ikuti 😘
AKU PADAMU SEMUANYA ❤️❤️❤️