
S2 Bab 80
Wanita tua itu terus menggenggam tangan Ana, sedangkan suaminya memperlihatkan semua barang-barang Ana ketika dia masih bayi. Mereka masih menyimpan semua kenangan Ana, walaupun bukan berupa foto, tapi barang-barang Ana semasa kecil sangat lengkap dan tersusun rapih di dalam lemari kecil.
Kedua pasang suami istri itu sangat menyayangi Ana. Dulu sewaktu Ana kecil dia anak yang jarang sekali menangis membuat mereka sangat mudah untuk mengasuhnya. Wanita itu terus meneteskan air matanya sebagai tanda betapa bahagianya dia melihat Ana yang tumbuh dengan bahagia.
Mendengar berita duka tentang ibunya, mereka turut bersedih. Terlebih saat mereka mengetahui kalau Ana baru tiga kali bertemu dengan ibu kandungnya. Ada rasa bersalah dalam hati ibu yang mengasuh Ana. Andai dia tidak memberikan Ana dulu ke panti asuhan pasti Ana sudah bertemu dengan ibunya sejak dulu. Ana tidak membenarkan apa yang dikatakan olehnya.
“Semua ini sudah takdir Tuhan, Bu. Walaupun saya hidup bersama Ibu, semuanya tidak akan berubah. Karena ibu saya baru memberitahukan alamat ini ketika dia sudah jatuh sakit,” jelas Ana. Keduanya pun merasa tenang setelah mendengar penjelasan darinya.
Obrolan mereka pun berlanjut. Ana menanyakan keempat anak mereka dan mereka menceritakan kalau anak-anak mereka sudah berkeluarga dan jarang sekali menghampiri keduanya. Karena ekonomi mereka juga yang sangat minim membuat anak-anak keduanya tidak bisa membantu perekonomian keluarga.
Rumah yang di tempati keduanya saat ini memang tanah milik mereka. Tapi terpaksa surat tanahnya digadaikan pada renternir untuk biaya anak ketiga mereka keluar negeri. Kini keduanya hanya tinggal dengan kedua cucu mereka yang masih kecil dan juga harus membiayai keduanya. Maka dari itu terpaksa keduanya tetap mencari rongsokan untuk membiayai hidup mereka.
Mendengar itu membuat hati Ana dan Alaric teriris. Mereka yang selalu hidup dengan nyaman tanpa memikirkan makan apa besok, sedangkan banyak orang yang kurang beruntung. Jangankan untuk memikirkan makan apa besok, makan untuk hari itu pun mereka masih harus mencarinya.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dan waktu juga semakin siang, keduanya mengajak mereka untuk mencari makan di luar. Ana membawa mereka untuk membeli beberapa pakaian dan makanan untuk beberapa hari ke depan.
Alaric langsung menghubungi sekertarisnya untuk melunasi semua hutang dan mengambil sertifikat rumah yang telah digadaikan. Dia juga menyuruh sekertarisnya itu mencari arsitek untuk merombak total rumah yang memang sudah tidak layak huni itu.
Mendengar perintah dari Alaric, sekertarisnya langsung melaksanakannya. Tanpa sepengetahuan mereka semua, Alaric dan Ana ingin merombak rumah mereka. Semua barang-barang yang berada di rumah itu dipindahkan sementara ke rumah kontrakan yang memang layak untuk mereka tempati, sambil menunggu rumah mereka dirombak.
Setelah makan dan belanja baju juga keperluan sehari-hari, mereka pun diantar pulang ke rumah, karena memang hari juga sudah sangat larut. Kedua malaikat kecil pun sudah terlelap tidur.
“Non, ini mau kemana?” tanya ibu angkat Ana yang kini memanggil Ana dengan sebutan Nona. Mereka menyadari kalau arah mobil bukan ke tempat tinggal mereka.
__ADS_1
“Ibu sama Bapak tenang saja, kita akan memberikan kehidupan yang layak buat kalian.” Ana membalikkan badannya ke arah belakang mobil sambil tersenyum. Keduanya masih belum mengerti yang dimaksud dengan apa yang dikatakan oleh Ana.
Sampai dirumah yang sederhana, sepasang suami istri itu merasa kaget.
“Non, ini rumah siapa?” tanya suaminya.
“Bapak, Ibu, ini rumah kontrakan sementara untuk Bapak dan Ibu. Mending sekarang kita masuk dulu yuk!”
Entah bagaimana semua barang dipindahkan dan tersusun rapih di rumah kontrakan itu. Yang jelas semua barang-barang yang berada di rumah lama sudah dipindahkan ke sana. Saat memasuki rumah, mereka terkejut melihat barang-barang mereka yang sudah tertata dengan rapih.
Ana dan Alaric menyuruh mereka untuk duduk, setelah menidurkan kedua cucu ke dalam kamar. Ada beberapa yang baru dirumah itu, seperti kasur, tv dan alat-alat elektronik lainnya yang tidak dimiliki oleh keduanya sebelumnya. Alaric menyerahkan map coklat yang disiapkan sekertarisnya di atas meja ruang tamu.
Map itu berisikan surat-surat rumah beserta kwitansi pelunasan semua hutang-hutang yang dimiliki oleh keduanya. Melihat itu, sepasang suami istri itu langsung berpelukan dan menangis. Ana tersenyum dan juga terharu melihat keduanya. Alaric yang melihatnya langsung merangkul ia dan mencium keningnya.
Semua ini Alaric lakukan atas keinginan istrinya. Dan Ana tidak menyangka kalau apa yang dia inginkan terwujud dalam hari itu juga. Untuk Alaric semua itu sangat mudah dan itu membuat Ana bangga. Walaupun Alaric dan keluarganya sangat berkecukupan, tapi mereka tidak pernah merasa sombong dan selaku rendah hati pada siapapun. Inilah yang membuat Ana bangga pada keluarga dari suaminya.
“Semua ini karena kebaikan Ibu dan Bapak. Tanpa kalian saya tidak bisa seperti sekarang. Walaupun saya tidak sama sekali mengingat kalian, tapi kasih sayang kalian begitu terasa. Harusnya, saya yang harus berterima kasih pada Ibu dan Bapak, karena sudah bersedia merawat saya kala itu,” jelas Ana.
“Tidak perlu berterima kasih pada kami, Nak. Kami tidak melakukan apapun untuk kamu. Kami malah mengirimkan kamu ke panti asuhan dan itu mungkin membuat kamu sangat menderita,” jelas ibu. Ana menghampiri ibu itu dan merangkul bahunya.
“Saya sangat bahagia. Kalian tidak harus ada rasa penyesalan tentang aku. Karena kalian berdua, saya bisa bertemu keluarga angkat saya yang sangat menyayangi saya. Dan juga saya bisa bertemu dengan suami saya,” ucap Ana sambil melirik ke arah Alaric dan melempar senyuman.
Hari sudah semakin larut. Dan kini keduanya pamit untuk pulang ke rumah. Tidak henti-hentinya sepasang suami istri itu mengucapkan kata terima kasih pada Ana dan suaminya.
Selama dalam perjalanan pulang, Ana terus menggengam tangan Alaric dan menatapnya sambil tersenyum dan itu berhasil membuat suaminya salah tingah.
__ADS_1
“Sayang, ada apa? Kenapa kamu terus tersenyum itu padaku?” tanya Alaric heran.
“Kamu hari ini sangat keren sekali. Seperti bintang drama korea. Aku sangat bangga padamu, Sayang. Terima kasih ya, Yank, kamu sudah mewujudkan semua keinginan aku,” ucap Ana dan mencium tangan suaminya.
“Eits ... semua ini harus ada bayarannya loh.” Ana mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud suaminya.
“... aku ingin segera mempunyai keturunan dan sudah hampir satu minggu ini aku tidak menanamkan benihku padamu.” entah kenapa mendengar itu membuat tubuh Ana meriding. Dia tidak menyangka bisa-bisanya Alaric bicara seperti itu dan itu sama sekali tidak cocok dengan dirinya yang selama ini terkenal tegas dan galak.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬 Komen
__ADS_1
🌺Like
terima kasih semuanya 🌺❤️❤️🌺