Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 36


__ADS_3

Rendra tidak bisa menolak keinginan dari sahabatnya. Ketiganya pun melanjutkan untuk mencari keberadaan Desi. Kali ini Riana mendapat alamat tempat tinggal Kakaknya dadi tetangganya. Beruntungnya semua gosip tentang Kakaknya tidak benar.


Selama ini Desi tinggal sendiri di tempat Kostan kecil di pinggiran Jakarta. Dan katanya lagi sekarang dia bekerja di salah satu butik yang ada di Jakarta Barat. Mendengar kondisi Mantan Kekasihnya seperti itu membuat hati Didit sedikit teriris. Bagaimana tidak? Dia di sini hidup dengan enak dan berkecukupan sedangkan Desi harus membanting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri.


Akhirnya mereka sampai tempat yang di tuju. Ketiganya jalan menyusuri jalanan kecil untuk mencari tempat tinggal Desi. Cukup kumuh memang dan itu berhasil membuat hati Didit yang melihatnya semakin sakit. Untuk Riana ini biasa, tapi untuk Rendra dan Didit yang memang belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini, menurut mereka kurang layak untuk di tempati.


Riana menanyakan alamat dan menunjukan foto pada setiap orang yang lewat, tapi mereka di tidak tahu dimana letak alamatnya. Mereka memutuskan terus berjalan sesuai dengan petunjuk Google Map. titik alamat sudah ditemukan. Riana mencari warga sekitar yang berada disana untuk menanyakan letak kostan tempat Kakaknya tinggal.


Salah seorang warga berbaik hati mengantarkan mereka di tempat yang mereka tuju. Lumayan jauh dari titik Map sebenarnya, tapi mereka terus mengikuti langkah warga yang mengantarkan mereka. Akhirnya sampai di tempat tujuan. Didit maupun Riana sudah tidak sabar bertemu dengan Desi. Hati keduanya sangat berdebar dengan kencang.


Kebetulan ada salah satu penghuni kostan duduk di depan kamarnya. Mereka pun menghampirinya dan Riana mulai mengeluarkan foto Desi dan memperlihatkan padanya. Benar saja, orang itu mengenali Desi. Senyum Riana terpancar sangat


bahagia dan Rendra yang melihatnya pun sangat senang. Tapi, sayang menurut orang itu, Desi sudah pindah 1 bulan yang lalu. Senyum Riana kembali pudar. Dia tidak tahu harus cari kakaknya kemana lagi.


Mereka tidak menyerah, ketiganya pergi ke tempat kerja Desi sesuai yang dikatakan oleh mantan tetangga kostan-nya. Cukup jauh memang dari kostan dan itu membuat mereka menaiki mobil untuk bisa sampai ke sana. Sesampai di sana, pabrik yang tergolong kecil di pinggiran kota Jakarta. Berbeda dengan apa yang di katakan tetangga dulu.


Riana sangat antusias sekali ingin bertemu dengan Kakaknya. Walaupun mereka tidak cukup dekat, tapi Riana benar-benar sangat menyayangi saudara satu-satunya itu. Dia berharap hari ini adalah hari dimana dia bisa bertemu dengan Kakaknya.


Riana pun menghampiri security yang bertugas di depan pabrik itu. Dia mengeluarkan foto Desi dan menanyakan padanya. Security itu mengkerutkan keningnya, itu membuat jantung Riana berdegup dengan kencang. Dia takut kalau ini pun akan menjadi sia-sia, karena Desi tidak bekerja di sana.


Benar saja apa yang di pikirkan oleh Riana. Security bilang kalau Desi baru 1 minggu yang lalu resign dari pabrik itu. Tubuh Riana lemas mendengarnya, Rendra yang melihat istrinya segera merangkul tubuh istrinya yang hampir saja jatuh. Riana lelah dan dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kakaknya yang sudah tidak bekerja di sana.


Didit berterimakasih pada security atas informasinya, sedangkan Rendra sudah membawa istrinya ke dalam mobil. Riana menyenderkan tubuhnya di jok mobil, dia tiba-tiba merasa pusing yang luar biasa. Mungkin karena stress memikirkan kakaknya.


Melihat sang istri yang terlihat pucat, Rendra memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Terlebih dahulu dia mengantarkan sahabatnya ke apartemennya.

__ADS_1


“Bro, Gue cuti selama 1 minggu untuk mencari Echi. Jadi, Lo sama bini Lo ga usah cari lagi biar sama Gue aja. Kasian bini Lo kecapean,”


“Thanks ya Bro, ingat move on! Gue ga tega juga liat Lo yang seperti kemaren,” Didit tersenyum menaikkan kedua alisnya dan kedua sahabat itu saling tos ala mereka sejak SMA dulu. Rendra pun naik kembali ke mobil dan langsung menuju rumahnya.


Setelah sampai, Riana langsung masuk ke dalam kamarnya. Eki dan Sonia yang melihatnya bertanya pada Rendra, apa yang terjadi? Rendra menjelaskannya dan kemudian menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.


“Kasian Mba Ria, dia pasti sangat berharap bertemu dengan Kakaknya,” ucap Sonia pada kekasihnya.


“Ya ... Semoga aja Didit bisa menemukannya.”


“Oia Bang, beneran Kak Desi itu Kak Echi? Walaupun aku ga inget gimana wajahnya tapi aku tau kalau dia kekasihnya Kak Didit,”


“Iya De, Abang juga ga nyangka bisa kebetulan seperti ini. Abang berharap mereka bisa bertemu lagi soalnya Didit benar-benar belum bisa melupakan dia,”


“Semoga aja ya Bang.” Sonia melanjutkan bermain dengan keponakannya.


Sejak pulang Riana terlihat sangat bersedih. Dia benar-benar sudah merasa putus asa mencari Kakak kandungnya itu. Rendra menghampirinya yang berada di sofa sedang menatap ke luar jendela. Rendra memeluk tubuhnya dari belakang dan mencium aroma tubuhnya.


“Jangan sedih dong, aku jadi ikutan sedih,”


“Mas, apa bisa aku bertemu lagi dengan kak Desi?” Rendra membalikkan badannya, dan mengecup keningnya.


“Pasti donk sayang. Kamu tidak perlu khawatir, Didit akan membantu kamu untuk mencari dimana Desi berada.” Riana tersenyum dan memeluk tubuh suaminya.


Di sisi lain Didit yang berada di apartemennya membuka kembali kenangan-kenangan dirinya bersama Desi yang di simpan di kotak berukuran besar. Dia sengaja tidak membuangnya karena memang sampai sekarang dia tidak bisa melupakannya. Sesekali disaat dirinya benar-benar sangat rindu, Didit selalu membuka kotak itu, seperti yang dia lakukan sekarang.

__ADS_1


Banyak sekali foto-foto kebersamaannya bersama Desi. Tidak terasa air matanya pun menetes. Ya, dia memang bucin sejati. Didit memang sejak dulu terkenal sangat baper di antara sahabatnya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menjalin hubungan. Penyesalan Didit selama ini adalah dia tidak mengenal baik kekasihnya walaupun mereka pacaran sudah cukup lama.


Satu persatu album fotonya dia buka. Wajah wanita yang selama ini di rindukannya ada di hadapannya, walaupun itu hanya sebuah foto. Rasa rindunya sedikit terobati. Dia sangat berharap di masa cutinya 1 Minggu ini bisa bertemu dengan Desi.


Didit mengambil laptopnya yang ada di kamar dan mulai mencari tahu lewat akun sosial media. Ide itu baru saja terlintas di dalam otaknya. Jaman sekarang kan semua orang pasti mempunyai akun sosial media. Dia pun mulai mencarinya dengan mengetik namanya.


Satu-persatu akun dia liat dengan nama yang sama. Ada 1000 lebih yang muncul dengan nama itu. Tanpa pantang menyerah, Didit mencari dan membuka satu-satu akun tersebut.


“YES ....” teriak Didit sambil lompat kegirangan.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya...


Selamat beraktivitas dan jangan lupa pakailah masker saat hendak keluar dari rumah. Cuci tangan dan ganti pakaian setelah keluar dari rumah.

__ADS_1


Semoga kita semua selalu dilindungi Allah SWT...


Aamiin yaa Rabbala'lamin....


__ADS_2