Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 45


__ADS_3

Melihat kakaknya yang baru saja masuk ke dalam gedung, Riana dan suaminya menghampiri Desi dan Didit. Terlebih dahulu Riana mengajak kakaknya untuk makan terlebih dahulu.


“Gimana Bro? udah ada hasil?” tanya Rendra pada sahabatnya, sambil berjalan mengikuti langkah istrinya.


“Susah banget dapetin hatinya Bro. Gue ga habis pikir, kenapa dia selalu menyuruh gue nyari wanita yang sempurna. Dia ga tau apa kalau dia paling sempurna di mata gue.” Rendra tersenyum dan merangkul tubuh sahabatnya.


Nafsu makan Riana akhir-akhir ini meningkat. Banyak makanan yang dia makan pada hari itu. Rendra sampai merasa khawatir melihat istrinya. Dia takut kalau-kalau sang istri bisa kekenyangan dan sakit perut nantinya.


“Yank, udah donk makannya. Kamu ga ngerasa kenyang?” Riana tersenyum menggelengkan kepalanya. Melihat itu Rendra merasa gemas dan mencium keningnya. Tidak peduli apa kata orang, Dia mencium istrinya di depan orang banyak dan itu berhasil membuat Riana tertunduk malu.


Sebagai penutup acara, kedua pengantin melemparkan buket bunga untuk para jomblo-wan jomblo-wati. Acara ini sengaja dilakukan pas akhir dari pernikahan sebagai penutup acara. Didit menarik tangan Desi untuk ikut bergabung di tengah kerumunan orang yang mengharapkan lemparan bunga. Awalnya Desi menolak dengan ajakannya, tapi Rendra dan Riana memaksa dirinya untuk ikut bersama Didit dan akhirnya Desi dengan terpaksa mengikuti Didit untuk ikut mengambil buket bunga.


Suasana sangat ramai dan penuh tawa. Perlahan kedua mempelai mengayunkan tangan mereka untuk melemparkan bunga ke belakang. Didit masih memegang tangan Desi dan juga dia sudah ancang-ancang untuk mendapatkan bunga tersebut. Desi berusaha ingin menarik tangannya, tapi Didit menggengamnya terlalu erat membuat dia menyerah.


Buket bunga pun melayang di atas udara. Semua tangan para jomblo sudah siap di atas untuk mengapai bunga tersebut. Didit dengan sigap meloncat dan akhirnya dia pun mendapatkannya. Beruntung tubuhnya yang tinggi, sehingga dengan melompat sedikit dia mudah mengambil bunganya.


Semua orang yang di dalam gedung bertepuk tangan. Didit pun langsung berlutut dihadapan Desi sambil memberikan bunga itu padanya. Para undangan dan juga sahabat keduanya menertawakannya sambil bertepuk tangan melihat keduanya. Serentak para undangan bersorak 'Terima ... terima' pada Desi. Desi yang merasa tidak enak menjadi pusat perhatian pun dengan terpaksa menerima bunga yang di berikan oleh Didit padanya. Suara tepuk tangan meramaikan gedung kala itu.


Ni orang malu-maluin banget sih, Kesal Desi saat menerima bunganya.


Akhirnya acara pernikahan Sonia dan Eki selesai dan berjalan dengan lancar. Para tamu undangan pun sudah mengosongkan gedung pernikahan. Kini tinggal Rendra dan para sahabatnya saja yang masih berkumpul di dalam gedung, sambil menunggu mobil jemputan pengantin datang.


“Jadi ceritanya kalian berdua balikan nih?” tanya Eki pada keduanya. Didit tersenyum dan saat hendak menjawab pertanyaan, Desi dengan cepat menyela dirinya.

__ADS_1


“Ga! Sebenarnya gue nerima bunga itu biar lo ga merasa malu aja.” ucap Desi membuat senyuman di wajah Didit pudar. Eki yang ada di sebelahnya menepuk bahu Didit agar dia sabar menerima kenyataan.


Semua orang tertawa melihat wajah kusam Didit. Desi yang sedang asik bermain dengan Salsa pun ikut tertawa kecil. Sebenarnya dia merasa bersalah dengan ucapan dirinya tadi, tapi dia melakukan itu agar Didit tidak menaruh harapan yang besar terhadap dirinya.


Mobil jemputan pengantin sudah datang dan mereka pun bubar. Rencananya pengantin baru itu akan langsung pergi ke Bandung untuk bulan madu mereka. Sonia sengaja memilih kota yang paling dekat dengan Jakarta untuk bulan madunya karena sejak dulu itu yang dicita-citakan oleh Sonia.


**♥️♥️**


Seharian dengan kesibukan acara pernikahannya membuat tubuh Sonia merasa sangat lelah. Setelah membersihkan dirinya, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Niat hati ingin menunggu sang suami beres membersihkan diri, tapi apa daya matanya yang sudah tidak bisa kompromi.


Eki yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya. Dia duduk di pinggir kasur dan membelai rambut panjangnya.


“Sayang, kok tidur sih? Kamu lelah ya?” Bisik Eki tapi tidak ada jawaban dari sang istri. Dia tersenyum dan mencium kening istrinya, lalu dia pun tidur di samping Sonia sambil memeluk tubuhnya.


05.00


Jantung Sonia berdetak dengan sangat kencang dan begitupun dengan Eki. Keduanya saling menatap dan Eki mendorong wajahnya perlahan mendekati Sonia. Kedua bibir keduanya saling menempel. Ini adalah ciuman pertama bagi keduanya. Eki perlahan melum4t bibir manis Sonia. Semakin lama Sonia mengerti dan membalas setiap gerakan suaminya.


Perlahan tangan Eki membuka kancing bajunya Sonia. Sonia kaget dan mendorong tubuh Eki lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Eki tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Istrinya. Eki pun pergi menyusul dirinya.


Sonia berada di balik pintu memegangi dadanya. Seketika tubuhnya merasa sangat lemas dengan apa yang akan dilakukan suaminya tadi. Dengan pelan Eki membuka pintunya dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Saat berada di dalam sana, Sonia tertunduk malu pada suaminya, karena dirinya yang melarikan diri saat Eki hendak akan menyentuhnya.


“Dek, maafin Abang, ya! Abang ga tau kalau adek ga siap. Abang akan menunggu sampai adek benar- benar mau melakukannya.” Sonia menyesal membuat suaminya merasa bersalah.

__ADS_1


“Bang, adek siap kok!” kedua sudut bibir Eki melengkung ke atas. Dia dengan cepat mengendongnya tubuh istrinya dan menidurkannya di atas kasur. Hal yang ditunggu-tunggu sepasang pengantin baru itu pun terjadi. Keduanya merasakan indah dan manisnya sebuah pernikahan.


**♥️♥️**


Semalam Rendra tidur di pangkuan Riana dan menghadapkan wajah dia ke perutnya. Perut yang kini sudah mulai membesar. Berkali-kali Rendra mencium dan mengajak ngobrol anaknya sehingga keduanya pun tertidur. Riana sendiri tertidur dalam posisi duduk sehingga membuatnya merasa keram.


“Mas, udah pagi.” ucap Riana sambil menggoyangkan tubuh suaminya. Rendra membuka matanya dan dengan cepat bangun dari tidurnya. Riana langsung memijat kakinya yang terasa kesemutan.


“Sayang, maafin aku! Sakit ya?” Rendra membantu istrinya memijit kakinya. Riana tersenyum menggelengkan kepalanya. Wajah Rendra terlihat sangat bersalah dan itu berhasil membuat Riana tertawa.


Riana merasa gemas lalu mencium kening suaminya, “Terimakasih sayang, kamu selalu membuat hari-hariku penuh dengan warna. Terimakasih kamu selalu berada disisiku,” bisiknya langsung di telinga Rendra.


“Aku yang harusnya terimakasih, karena kamu sudah datang dalam kehidupanku, memberikan aku sesuatu yang sangat berharga yang ada di dalam perutmu.” Rendra kembali mencium perut Riana.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya....


Aku padamu semuanya..... 😘😘😘


__ADS_2