
Setelah keduanya pergi, Intan melipat kedua tangannya di atas dada, dengan wajah yang kesal. Semua yang menyadarinya, langsung sibuk memakan, makanan mereka masing-masing.
“Ini pasti kalian sengaja 'kan? segaja bikin gue kesal!!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Ga kok Baby, Bang Al tadi memang bilangnya mau ke kampus,” ucap Gibran dengan sedikit rayuan agar wanita yang dicintainya tidak marah.
“Lo juga, sejak kapan lo bilang ke gue minta anter?” Gibran langsung tertunduk merasa bersalah.
“Udah kak Intan, jangan marah-marah nanti cepet tua loh,” ucap Aulia.
“Kamu juga Dek, ngapain sih bawa dia kesini? kamu tahu 'kan kalau kakak suka banget sama abang Al. Terus kalian bertiga malah dukung dia sama cewek kampung tadi.”
“Loh ... kok kak Intan bilang sahabat Aulia, cewek kampung sih? Asal kakak tahu aja! mending Ana kemana-mana dibanding kakak. Kakak itu hanya bisa menghamburkan uang orang tua, sedangkan Ana dia mencari uang sendiri dan menolak pemberian orang tua angkatnya,” kini Aulia semakin kesal.
“Loh ... kok jadi kamu nyudutin kakak sih? inget ya, jangan pernah banding-bandingin kakak dengan cewek kampung itu!!” ucap Intan yang emosi, karena rasa cemburu.
Brak!!! 'Aulia memukul meja'
“Maksud kakak apa?” dengan nada yang tinggi dia berdiri. Semua orang melihat ke arah empat orang yang ada di meja itu. Menyadari suasana makin panas, Gibran langsung menarik tangan Intan meninggalkan Krisna dan Aulia.
“Udah Dek, malu diliatin orang, duduk yu!” Ucap Krisna menarik tangan Aulia.
“Males gue lama-lama disini.” Aulia mengambil tasnya dan melangkah pergi meninggalkan Krisna sendiri. Krisna menarik nafas dalam, dan kemudian mengikuti wanita yang sejak dulu sudah merebut cinta dari dalam hatinya.
“Aul, tunggu dong! jangan marah-marah gitu!” ucap Krisna sambil mengikuti langkah cepat Aulia.
“Ga marah, Bang. Cuma adek kesel aja. Kok ada cewek songgong kaya kak Intan. Ga habis pikir kalau ada cowok yang suka sama dia. Buta kali matanya.” mendengar kata itu, Krisna langsung tertawa, karena dia tahu kalau abangnya sangat menyukai wanita yang sejak tadi dibicarakan Aulia. Tawa Krisna membuat Aulia menghentikan langkahnya, sambil menatap sinis ke arah Krisna. Dia menyadari tatapan Aulia yang tidak biasa, langsung menghentikan tawanya.
“Kenapa Abang ketawa? jangan-jangan abang suka ya sama kak Intan?” entah kenapa Aulia sangat kesal dengan apa yang dia pikirkan.
“Dih, kok jadi ke abang sih. Mana ada abang suka sama cewek centil kaya dia. Abang itu sukanya cewek manja tapi dewasa kaya kamu,”
“Mulai deh hoax! males aah,” ucapnya sambil naik ke atas mobil Krisna. Krisna yang melihat Aulia salah tingkah tersenyum dan mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Disisi lain, Gibran berusaha menenangkan Intan dan membawanya ke pusat perbelanjaan. Dia sangat tahu kalau Intan pasti akan menumpahkan kekesalannya dengan berbelanja.
“Kok kesini?” tanyanya kesal.
“Loh, bukannya kamu seneng ya kalau belanja?”
__ADS_1
“Lagi ga mood buat belanja sekarang. Gue mau pulang aja,”
“Yakin? niatnya sih, gue mau traktir lo sepuasnya. Tapi karena lo minta pulang, secara otomatis lo menolak niat baik gue,”
“Kok ga bilang. Kalau gitu ayok!” dengan cepat Intan turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mall. Gibran yang melihatnya tersenyum, dan semakin gemas dengan tingkah wanita yang sangat dicintainya itu.
“Dasar ya wanita, ga bisa denger gratisan mood-nya langsung berubah,” ucap Gibran sambil mencubit kecil hidung Intan.
“Aw ... sakit ih. Bodo ah, gue mau belanja sepuasnya sesuai kata lo tadi. Setuju?” Gibran tersenyum mengangguk.
“Yeay ....” Intan kegirangan dan mulai memasuki satu-persatu toko baju yang ada disana. Gibran semakin menyukai Intan dengan tingkah lakunya yang seperti anak kecil. Entah kenapa, dengan sikapnya yang seperti itu membuat rasa cinta Gibran semakin besar, dan semakin ingin melindungi dirinya.
**♥️♥️**
Selama di perjalanan keduanya hanya diam. Suasana hening membuat keduanya sangat canggung.
“Sudah berapa lama kerja disana?” tanya Alaric membuka suasana agar tidak canggung.
“Emmm ... baru empat bulan ini Bang, sebelumnya Ana kerja di mini market dekat dari tempat kost-an,”
“Kamu nge-kost? emang orang tua kamu tinggal dimana?”
“Ana ga punya orang tua Bang, Sejak kecil Ana tinggal di panti asuhan.” dia tidak mau mengaku telah diadopsi oleh keluarga Sutomo, karena memang Ana tidak mau membawa nama keluarga itu, sesuai perintah ibu angkatnya. Mendengar perkataan Ana, jantung Alaric terasa sakit. Dia benar-benar semakin tidak mengerti kenapa hatinya selalu bereaksi kalau itu menyangkut Ana.
“Ga apa-apa, Bang. Aku ga merasa risih kok.” ucapnya sambil tersenyum.
Pantes dia sederhana dan lemah lembut. Dia wanita yang rendah hati, gumam Alaric sambil sesekali melirik ke arahnya.
Sampai di depan toko roti, Ana membuka safety belt dan hendak akan turun dari mobil.
“Ana ....” dengan nada pelan dan ragu Alaric memanggilnya. Ana yang tadinya ingin membuka mobil dan turun kembali membalikkan badannya menghadap Alaric.
“Ya, ada apa, Bang?” tanya Ana.
“Kerja sampai jam berapa?”
“Hah ....” Ana kaget dengan pertanyaan Alaric.
Bodoh ... kenapa gue nanya itu ke dia? sesal Alaric dengan pertanyaanya.
__ADS_1
“Ga dijawab juga ga apa-apa kok,”
“Pulang jam tujuh malam, Bang. Ada apa?”
“Oh ... ga kok cuma penasaran aja lo kerja sampe jam berapa,”
“Oh, emm ... makasih ya, Bang udah repot-repot anterin aku kesini,”
“Ga kok, lo ga ngerepotin, sekalian gue mau ke kampus.”
“Kalau gitu, Ana masuk ya. Sekali lagi makasih.” Alaric mengangguk tersenyum. Dia terus menatap punggung Ana sampai gadis cantik itu masuk ke dalam bakery.
Gue, ga pernah bertemu dengan cewek seperti lo, Ana. Dan entah kenapa gue makin penasaran sama Lo, gumam Alaric dengan tatapan masih menatap ke arah bakery.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaa....
minta dukungannya semuanya.... 🙏🙏🙏
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
~Perasangka~
Sekali lagi hati merintih menahan perih, terluka karena dera rasa yang didekap harap-harap.
Setelah berkali-kali bangkit hanya untuk dijatuhkan kembali, hati ini kian lemah kian lelah makin redup, serasa tak hidup.
Entah sudah keberapa kali hati merana meraba luka-luka yang perihnya tak kunjung reda. Setelah berulang kali janji dan senyuman manismu menjadi kain kasa, untuk membalut luka, namun perasangka dan duga-duga perihalmu kembali menghunus, menikam tepat di luka yang sama.
__ADS_1
Jika aku yang benar-benar kau pilih diantara dua pilihanmu, berpalinglah darinya, langkahkan kakimu padaku. Agar tak ada lagi luka-luka yang tercipta dari prahara. Agar diri ini bisa melangkah tanpa terjatuh kembali.
~Azis Beck