Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 71


__ADS_3

S2 Bab 71


Melayani suaminya semalaman membuat Ana sangat lelah dan tidak bisa tidur. Pasalnya Alaric akan membangunkan dirinya ketika adik kecilnya kembali bangun, dan itu membuat Ana dengan pasrahnya harus melayani sang suami.


Alaric masih tertidur pulas, sedangkan Ana sejak pagi sudah bangun, karena seperti biasa harus membantu sang mertua di dapur. Saat sampai di dapur, rumah tampak sepi dan dia melihat makanan yang sudah tersusun rapih di atas meja. 'Apa aku kesiangan?' gumam Ana dan langsung melihat jam dinding yang ada di ruang tengah.


Jam masih menunjukkan pukul 06.30, dan itu artinya kalau Ana sama sekali tidak kesiangan. Dia pun menanyakan pada asisten rumah tangga yang sedang membereskan dapur tentang keberadaan mertuanya.


“Bi, bunda mana?”


“Ibu tadi pergi, Non. Nitip pesan kalau mereka kemungkinan akan menginap di rumah sanak saudara,” jawabnya.


“Oh ... terima kasih ya, Bi.” Ana pun kembali ke kamarnya.


Ana mencoba membangunkan Alaric dengan berbagai macam cara, tapi berakhir di dalam pelukan suaminya. Saat Ana mencoba menggelitik Alaric, tubuh Ana ditarik hingga masuk dalam pelukannya. Dengan mata yang masih tertutup, Alaric memeluk erat tubuh mungil istrinya.


“Sayang! Abang ih ... lepasin!” Ana mencoba memberontak, tapi apa daya pelukan suaminya semakin erat. Dia menengelamkan wajahnya di tengkuk lehernya dan membuat Ana pasrah.


Alaric menikmati aroma wangi khas tubuh istrinya. Entah kenapa tubuh istrinya sangat wangi walaupun Ana belum membersihkan tubuhnya. Kini tangannya mulai menjelajahi setiap inci dari bagian tubuh Ana dan saat tangannya mulai masuk ke bagian yang paling tersembunyi, Ana menahan dan menarik tangannya dari sana.


“Sayang, semalam kita udah kerja lembur loh, Yank. Masa sekarang harus kerja lagi,” keluh Ana membuat Alaric membuka matanya dan tertawa.


“'Kan kerja rodi Yank, tanpa jeda,” candanya sambil tertawa keras. Ana langsung bangkit dari tidur saat Alaric melepaskan tubuhnya dan menatap sinis suaminya kesal.


“Yank, bangun!” ucap Ana melemparkan bantal pada Alaric yang masih saja tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aulia dan Krisna memutuskan untuk mengurus semua keperluan pernikahan mereka sendiri, itupun atas permintaan Aulia. Berbeda dengan pernikahan Ana dan Alaric, pernikahan Aulia masih ada jeda waktu yang membuat mereka bisa menyiapkan segala sesuatunya berdua. Sebenarnya semua atas kehendak Aulia, Sedangkan Krisna hanya mengangguk menyetujuinya.


Gedung, catering, dan rias pengantin sudah siap, tinggal mereka mencari sepasang cincin pernikahan. Keduanya berencana hari ini pergi ke mall untuk mencari cincin yang diinginkan oleh Aulia. Empat bulan bukan waktu yang lama untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, itulah yang selalu Aulia katakan pada Krisna, karena Krisna terkesan santai dan terlihat tidak terlalu peduli dengan pernikahan mereka.


Sebenarnya sudah merulang kali Krisna memberi saran agar menggunakan jasa wedding organizer pada calon istrinya itu, tapi sama sekali tidak ada tanggapan, malah berujung dengan perdebatan. Kini Krisna memilih untuk diam dan hanya menuruti semua keinginan calon istrinya.

__ADS_1


Keduanya sudah sampai di depan toko perhiasan yang cukup besar di mall itu. Aulia mencari perhiasan yang dihiasi berlian, dan salah satu dari pewagai yang ada di sana menunjukkan tempat perhiasan yang terdapat berliannya.


Sentara Aulia memilih dengan wajah yang terlihat terpana, Krisna hanya diam mengikuti setiap langkahnya.


“Yank, sini! Lihat deh, ini bagus yaa.” dia menunjukkan sepasang cincin sederhana namun terlihat mewah, dan Krisna hanya tersenyum mengangguk.


Aulia hanya membuang nafas kasar dan melanjutkan melihat-lihat model yang lainnya. Saat dia menemukan cincin yang menurutnya bagus, dia akan kembali memangil Krisna untuk meminta pendapatnya dan lagi-lagi dia hanya tersenyum mengangguk. Awalnya Aulia acuh dengan semua sikap Krisna, tapi entah keberapa kalinya tanggapan Krisna selalu saja seperti itu membuat dia merasa tidak dihargai.


Aulia tampak kesal, dia pun keluar dari toko perhiasan itu dengan cepat. Krisna binggung dan tidak mengerti dengan sikap Aulia yang akhir-akhir ini sering berubah tanpa aba-aba. Dia meminta maaf pada pengawai toko dan lekas menyusul Aulia yang sudah pergi jauh.


“Sayang!” Krisna menarik tangan Aulia sehingga dia menghentikan langkahnya.


“... kamu kenapa sih? Jangan malu-maluin seperti tadi dong!” ucap Krisna dengan nada yang tinggi.


“Apa?! Malu-maluin kata kamu? Bang, di sini aku yang malu karena kamu sama sekali enggak ada tanggapan lain kecuali mengangguk. Kamu tahu enggak sih kalau aku malu? Merasa hanya aku yang menginginkan pernikahan ini terjadi sedangkan kamu enggak,” balas Aulia yang mulai berkaca-kaca.


“Kok jadi ke sana sih mikirnya? Please, jangan membuat masalah yang tidak harusnya terjadi. Kita mau menikah dan tidak seharusnya kita memperdebatkan masalah kecil seperti ini. Bisa 'kan?”


“Oh ... jadi buat Abang ini hanya masalah kecil gitu? Maaf, Bang! Tapi tidak buat aku!!!” Aulia menarik tangannya dengan kasar dan berlari keluar mall, san memanggil taxi yang sedang parkir menunggu penumpang. Krisna berusaha mengejar Aulia, tapi sayangnya dia terlambat, karena Aulia sudah jalan. Krisna pun bergegas ke parkiran untuk mengejar Ana.


Sampai di rumah Alaric, Aulia terus menangis. Saat Ana membukakan pintu rumah, dia langsung memeluk tubuh Ana dan terus menangis membuat Ana panik melihatnya.


“Aul, lo kenapa?” Aulia tetap menangis. Ana pun merangkul tubuhnya dan membawanya duduk. Ana bergegas ke dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk membuat Aulia merasa tenang.


“Minumlah dulu!” Aulia mengangguk dan setelah itu di memeluk tubuh Ana.


“Lo kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Ana sambil menepuk punggungnya agar merasa tenang.


“Gue capek, Ana. Gue benar-benar enggak sanggup dengan sikap Krisna yang cuek.” Aulia terus menangis. Alaric yang baru saja keluar dari kamarnya kaget saat melihat sepupunya yang menangis dalam pelukan istrinya. Dia menanyakan pada Ana yang wajahnya berhadapan dengannya. Ana hanya menggelengkan kepalanya dan terus menepuk Aulia menenangkannya.


Setelah merasa puas menangis, Aulia melepaskan pelukannya. Ana dan Alaric yang duduk di sana menunggu Aulia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Aulia pun mulai menceritakan dari awal mereka melakukan persiapan, hingga tadi mereka berniat untuk membeli cincin pernikahan. Mendengar penjelasan Aulia, Alaric tertawa kecil membuat kedua wanita cantik itu menatap sinis padanya.


“Eh ... sorry-sorry. Gue tahu betul bagaimana sikap Krisna. Aul, lo inget enggak, waktu lo selalu membicarakan lamaran yang romantis tapi lo enggak pernah menuntut dia untuk melakukan itu sama lo. Dia stress dan kepikiran, sampai akhirnya dia meminta bantuan kita-kita untuk membantu dia menyiapkan kejutan kecil untuk lo. Krisna memang tipikal orang yang cuek dan terlihat tidak peduli, tapi sebenarnya dia cowok penyayang dan suka peduli. Dia orang yang jarang memperlihatkan sikap kepedulian dia, karena memang dia tidak bisa mengekspresikan semua itu.” mendengar itu membuat Aulia menjadi merasa bersalah. Dia merasa kalau dia memaksakan kehendaknya agar Krisna harus sesuai dengan yang dia inginkan, sedangkan sifat dasar manusia tidak bisa dirubah kecuali orangnya sendiri yang merubah.

__ADS_1


Aulia menatap layar ponselnya yang dipenuhi dengan foto keduanya.



*Foto diambil dari google.


‘Sayang, maafin aku!’ gumamnya sambil mengusap kayar ponselnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Don't Forget


👍Like


💬 Komen


🌺Vote sebanyak-banyaknya yaa


AKU PADAMU ❤️❤️😘😘😘😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Innalilahi Wainailaihi Rojiun...

__ADS_1


Turut berduka atas jatuhnya pesawat Sriwijaya


semoga keluarga yang ditinggalnya diberi kesabaran dan ketabahan...


__ADS_2