
Sudah berulang kali Riana memohon pada suaminya untuk menghampiri kakaknya. Tapi, Rendra sama sekali tidak mendengarkan keinginan istrinya. Riana menarik nafas dalam, percuma saja dia merengek pada Rendra. Karena, mau sampai kapanpun Rendra tidak akan mendengarkan keinginannya.
Sampai di rumah, Rendra dengan perlahan menuntun istrinya turun dari mobil. Riana yang mendapat perlakuan seperti orang yang sakit pun merasa tidak nyaman. Tapi, Rendra tetap tidak mendengarkan apa yang di katakan istrinya.
Saat sampai ke dalam rumah, wajah Riana seketika tersenyum melihat keluarganya berkumpul. Ayah, ibu, Soni dan juga kedua sahabat suaminya menanti kedatangan keduanya. Yang lebih membuat Riana merasa senang, ketika melihat seseorang yang sejak tadi sangat ingin dia jumpai. Riana tidak peduli lagi dengan jalan perlahan yang di suruh suaminya. Dia langsung berlari dan memeluk tubuh sang kakak.
Keduanya saling berpelukan melepas rindu. Semua orang yang menyaksikan pun larut dalam kesedihan. Suasana hening seketika, tidak ada yang dikatakan oleh kedua adik kakaknya ini, mereka hanya menangis dalam pelukan. Mengingat istrinya sedang mengandung, Rendra pun menyuruh keduanya untuk duduk, karena sejak tadi Rendra merasa khawatir dengan istrinya yang berdiri terlalu lama.
Riana meminta izin pada semuanya untuk berbicara pribadi dengan sang kakak. Keduanya pun masuk ke kamar Salsa yang berada tidak jauh dari ruang keluarga. Riana menceritakan tentang ayah mereka. Tidak akan cukup waktu satu hari untuk menceritakan semua yang terjadi, hampir tiga tahun belakangan ini.
Berulang kali Desi meminta maaf pada adik satu-satunya itu. Dia benar-benar menyesal dengan apa yang dia lakukan selama ini. Desi tertunduk menangis saat mengucapkan penyesalannya. Riana tersenyum dan langsung memeluk tubuh kakaknya. Rasa bahagia yang dia rasakan hari ini melupakan semua kesalahan kakaknya. Riana sama sekali tidak peduli apa yang terjadi dimasa lalu. Yang dia pikirkan sekarang adalah bisa terus bersama kakak dan keluarga kecilnya.
Keduanya lanjut mengobrol tentang bagaimana Riana bisa bertemu dengan teman semasa SMA-nya. Sesekali mereka tertawa dan itu berhasil mengundang rasa bahagia pada semua orang yang berada diluar mendengarkan tawa mereka. Rendra dan keluarganya membiarkan keduanya untuk melepas masa rindu mereka.
Hari sudah mulai siang, Ratih dibantu Sonia dan assisten rumah tangga Riana menyiapkan makanan untuk makan siang. Saking asiknya melepas rindu dengan kakaknya, dia lupa untuk menyiapkan makan siang untuk keluarga besarnya. Riana pun berlari ke dapur, dia kaget saat melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja. Rendra yang melihat istrinya berlari pun memarahi istrinya.
“Sayang, jangan lari donk!! Kamu ga inget di perut kamu ada apa?” ucapnya dengan sedikit nada tinggi. Semua orang yang ada di sana tertawa melihat ekspresi Rendra.
“Maaf, habisnya aku lupa mau masak. Eh ternyata Ibu udah siapin semuanya,” Ratih menghampiri menantunya dan merangkulnya.
“Ga apa-apa sayang, Ibu 'kan di bantu bibi. Ya udah mending kita makan dulu ya.”
Semua orang menyantap makanan dengan penuh hikmat. Desi terharu melihat kebersamaan Riana dengan keluarga barunya. Dia bersyukur akhirnya Riana bisa menemukan kebahagiaan sesungguhnya, yang selama ini dia idam-idamkan. Ratih menawarkan banyak makanan pada Desi dan itu berhasil membuat dirinya salah tingkah.
__ADS_1
Selesai makan mereka pun berkumpul kembali di ruang tengah. Mata Desi terus menatap anaknya. Ingin rasanya dia memeluk Salsa dengan erat, tapi apa daya dia malu untuk melakukannya.
“Kak, mau minum ini,” Raina menyodorkan segelas orange juice padanya. Desi mengangguk tersenyum dan mengambil gelas yang ada di tangan Riana.
“Ria, terimakasih ya ....” Bisiknya membuat Riana tidak mengerti.
“Maksudnya?” Desi hanya tersenyum dan kembali memperhatikan anaknya. Riana mengerutkan keningnya, ingin rasanya dia menanyakan pada kakaknya, tapi kondisi tidak memungkinkan.
Suasana kala itu ramai dengan tingkah laku Salsa yang mengemaskan. Bukan hanya Riana yang bangga pada anaknya yang mulai pintar berbicara, tapi Desi yang melihatnya pun sangat bangga. Dia tidak menyangka anaknya tumbuh dengan sangat baik dan seceria ini, tanpa kasih sayang kedua krang tuanya.
“Ehem ....” seketika semua pasang mata melirik ke arah Eki.
“Bu, Yah, Dra bisa minta waktunya sebentar?”
“Dek, Mba Riana udah hamil nih, jadi gimana?” ucapnya menagih janji Sonia yang dulu. Keluarga hanya melihat keduanya sambil tersenyum, sedangkan Sonia masih belum mengerti dengan pertanyaan kekasihnya.
“Gimana? Maksudnya?” tanyanya heran.
Eki sudah mempersiapkan semuanya. Semenjak mengetahui kabar dari sahabatnya, dia langsung membawa cincin yang selama ini dia sudah siapkan untuk melamar Sonia. Bukannya menjawab pertanyaan dari Sonia, Eki langsung berlutut di depannya dan langsung mengeluarkan cincinnya. Semua orang yang ada di sana menjadi saksi keseriusan Eki pada Sonia.
“Dek, nikah yu!” ajaknya tanpa adanya kata-kata romantis.
“Ki, yang romantis donk lo ngajak anak orang nikah,” canda Didit mengundang tawa. Lain hal dengan Sonia, dia tertunduk malu, wajahnya memerah kerena lamaran yang tiba-tiba, terlebih di depan anggota keluarganya.
__ADS_1
“Dek, terima ga tuh?” tanya Rendra. Sonia mengangguk kecil, wajahnya masih tertunduk. Mendengar jawaban dari sang kekasih, Eki langsung berdiri dan melompat kegirangan dan orang melihatnya tertawa lepas.
“Lo jangan senang dulu! Gue ada syaratnya.” ucap Rendra berhasil membuat suasana hening seketika.
“Kenapa lagi, Mas?” tanya Ratih yang baru mengeluarkan suaranya.
“Kalian boleh menikah, setelah hamil Riana yang sudah tidak rawan lagi.” mendengar itu membuat suasana yang semula tegang menjadi penuh tawa.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Maaf kemaren ga up karena Author sibuk di dunia nyata hehehe...
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaa....
__ADS_1