
Riana dan suaminya sudah menunggu Alaric dan Ana pulang. Keduanya tidak sabar ingin seera mengetahui hasil pemeriksaannya. Tidak dipungkiri kalau Riana dan Rendra juga sangat mengharapkan cucu dari anaknya. Hari sudah larut dan kedua anak mereka belum pulang, membuat Riana merasa khawatir.
“Yah ... telepon lagi anak-anak! Kok jam segini belum pulang juga.” Riana cemas dan menyuruh suami untuk menelepon Alaric. Memang sejak tadi Rendra sudah melakukan panggilan untuk Ana dan Alaric, tapi tak kunjung diangkat dan ini semakin membuat Riana khawatir.
“Tetap enggak diangkat, Bun,” ucap Rendra.
“Ini udah jam sembilan, apa mereka pergi dulu ya?” Rendra merangkul istrinya,“Ya sudahlah, Bun. Mereka udah gede, mungkin mereka masih ingin menghabiskan waktu berdua. Sekarang sudah malam, mwnding kita masuk kamar dulu yuk!” Riana mengangguk pasrah.
Di sisi lain, Ana tidak bisa menolak permintaan suaminya. Dia melayani Alaric dengan sepenuh hati.
“Makasih istriku sayang. Kamu adalah canduku,” ucap Alaric sambil mencium kening Ana. Ana hanya melemparkan senyumanya dan memeluk tubuh Alaric.
“...Yank, apa sebaiknya kita menginap di sini saja? Ini sudah malam dan pastinya bunda juga ayah suda tidur,” lanjut Alaric.
“Emmm ... kalau begitu abang hubungi mereka dulu saja.” Alaric pun mengambil ponselnya dan ponsel Riana yang berada di dalam mobil. Saat dia melihat ponselnya, dia kaget banyak panggilan tidak terjawab dari bunda dan Ayahnya.
'Ya ampun, ayah sejak tadi telepon,' gumamnya. Dengan cepat dia balik menghubungi mereka, karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.
Mendengar ponsel berbunyi, Riana bergegas melihatnya dan seketika tubuhnya merasa tenang saat melihat nama anaknya yang berada dalam layar ponselnya.
Riana :“Halo Nak, kamu di mana?”
Alaric :“Bunda, maafin abang. Sepertinya malam ini abang sama Ana enggak pulang ke rumah. Abang habis melihat-lihat rumah dan berencana akan menginap di sini semalam. Besok juga abang pulang kok. ”
Riana :“Kamu ya, bukannya kabari bunda lebih awal. Bunda sangat khawatir.”
Alaric :“Maafkan abang, Bun!”
Riana:“Ya ... sudah tidak apa-apa. Oia ... bagaimana hasil cek kalian. Baik-baik saja 'kan?”
Alaric:“Baik-baik saja, Bun. Tinggal nunggu hasil abang besok. Ya ... semoga abang juga baik-baik saja. Bunda kenapa belum tidur?”
__ADS_1
Riana:“Syukurlah. Bunda nungguin kabar kamu, Bang. Ya sudah, istirahat! Sudah malam.” ucap Riana dan Alaric pun pamit sebelum menutup teleponnya.
Mendapat telepon dari anaknya membuat wajah Riana tampak muram. Tidak ada mimik kebahagiaan dan membuat Rendra merasa aneh.
“Bun, ada apa? Apa hasilnya?” tanya Rendra cemas.
“Yah ... apa bunda terlalu memaksakan mereka untuk tinggal di sini ya? Malam ini abang sama Ana mau menginap di rumah mereka.”
“Namanya sudah menikah pasti mereka ingin tinggal mandiri, Bun. Kata ayah, mending mereka tinggal di rumah mereka saja. Enggak bagus juga kalau rumah kosong lama-lama.” mendengar itu membuat Riana akhirnya merelakan anak sulungnya untuk pindah ke rumah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya di siang hari, Ana dan Alaric segera pergi ke rumah sakit, saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit kalau hasil tes mereka sudah keluar. Rasa penasaran dan tidak sabar Ana membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Sampai di rumah sakit, mereka tidak perlu mengambil nomor antrian, karena sudah terlebih dahulu membuat janji dengan dokter. Saat ada di ruangan, dokter menjelaskan kalau hasil dari tes Alaric baik-baik saja dan sangat subur. Mendengar itu Ana langsung memeluk tubuh suaminya. Dokter pun memberikan vitamin penyubur untuk Ana agar membantu proses program kehamilan.
“Yank, apa kita ikut bayi tabung saja?” tanya Alaric ketika mereka berada di mobil jalan menuju pulang.
Alaric tertawa puas melihat wajah kesal istrinya. Dia memang sangat suka menggoda istrinya seperti ini. Sampai di rumah, Riana dan Rendra sudah menunggu kedatangan mereka. Tampak wajah serius dari keduanya sehingga membuat Ana dan Alaric saling memandang tatkala keduanya disuruh duduk bergabung bersama mereka.
“Bunda, Ayah, ada apa?” tanya Alaric merasa cemas.
“Ada yang ingin Bunda sampaikan sama berdua,” lirih Rendra dan menyuruh istrinya untuk membicarakan hal yang sudah dibicarakan dengan suaminya semalam.
Berat rasanya untuk merelakan anaknya, tapi Riana juga tidak mau egois. Dia juga dulu merasakan hal yang sama. Walaupun kedua mertuanya sangat baik, tapi Riana ingin segera tinggal sendiri. Dan mungkin itu juga yang dirasakan Ana saat ini.
“Bunda, ada apa? Bunda sehat 'kan?” Alaric semakin cemas, begitu juga dengan Ana.
“Bunda cuma mau bilang sama kalian berdua, kalau bunda mengijinkan kalian untuk segera menempati rumah kalian.” mendengar itu membuat keduanya merasa kaget.
“Loh Bun, ada apa sebenarnya? Apa karena abang ga pulang semalam? Bun ... ma ....”
__ADS_1
“Bukan Bang, bukan karena kalian tidak pulang. Kalian sudah berumahtangga, tidak baik juga lama-lama tinggal sama bunda. Lagi pula rumah terlalu lama kosong juga 'kan jelek. Bunda yakin kalian juga ingin punya privasi berdua. Bunda dan Ayah sudah membicarakan ini sebelumnya. Kalau bunda merasa kesepian 'kan bunda bisa main ke tempat kalian atau Ana yang main ke sini. Lagian rumah kalian juga enggak jauh dari sini.” jelas Riana.
“Tapi Bun, Ana beneran enggak apa-apa kok tinggal di sini sampai Arez pulang. Ya 'kan, Bang?” Alaric mengangguk.
“Sudah-sudah, pokoknya besok kalian sudah pindah ke sana. Bunda enggak mau tahu!” ucap Riana sembari tersenyum. Ana dan Alaric pun ikut tersenyum. Sebenarnya memang keduanya ingin segera pindah, tapi mereka labih menghargai Riana dan menunggu dia menyuruh mereka untuk pindah.
“Sayang, akhirnya nanti kita tinggal berdua dan mungkin akan bertiga,” lirih Alaric sambil memeluk tubuh istrinya yang sedang berdiri di balkon kamar menikmati udara sejuk sore hari. Ana hanya tersenyum mengangguk.
.
.
.
.
.
~bersambung~
Hai para readers tersayang, maafkan Author tidak UP beberapa hari. Semoga kalian bisa mengerti dan tetap setia menunggu novel ini UP yaaa...
Don't forget
💬 Komen
👍Like
🌺 Vote sebanyak-banyaknya biar author semangat UP tiap hari...
makasih All...
__ADS_1