Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 33


__ADS_3

S2 Bab 33


Pernikahan Salsa dan Fauzi yang tinggal menghitung hari. Semua persiapan sudah 99%. Dan semakin berdebar juga hati Salsa saat mengingat hari pernikahannya yang sudah tinggal beberapa hari lagi. Kini Salsa sudah resmi keluar dari kerjaannya, dan siap mengganti statusnya jadi ibu rumah tangga.


Hatinyanya selalu ragu 'Apa aku bisa jadi istri yang baik?' Itulah yang membuat Salsa ragu akhir-akhi ini. Sudah dua minggu semenjak dirinya resmi mengundurkan diri, dirinya lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Sesekali dia membantu Riana memasak, itu pun hanya sekedar ingin merasakan bagaimana rasanya jadi ibu rumah tangga.


“Bun, menjadi ibu rumah tangga apakah sangat sulit?” tanya Salsa sambil memotong aneka sayuran yang tadi disuruh oleh Riana.


“Semua tergantung bagaimana kita menjalaninya, Sayang. Kalau kita menjalaninya dengan suka dan cita semua akan terasa mudah dan bahagia. Kak, kalau kamu belum siap untung menjadi ibu rumah tangga, kamu bisa kok sambil bekerja. Toh, Fauzi juga tidak melarang kamu untuk bekerja,” jelas Riana.


Salsa menggelengkan kepalanya, “Bukannya belum siap, Bun, tapi kakak takut tidak bisa menjadi seorang istri yang baik. Riana tersenyum dan menghampiri naka kesayangannya, “Sayang, segala sesuatu itu butuh proses, seiring dengan berjalannya waktu, kamu juga pasti akan menjadi sorang istri yang luar biasa,” jelas Riana. Keduaya saling tatap dan melempar senyuman.


Selesai menyiapkan makan malam, Riana membantu anak sulung dan suaminya menyiapkan keperluan mereka untuk pergi ke luar kota. Sedangkan Salsa kembali ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponsel. Suatu kebetulan, pada saat itu Fauzi menelepon dirinya. Dengan cepat Salsa pun mengangkat telepon dari calon suaminya.


Fauzi :“Sayang, sedang apa?” tanya lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya.


Salsa :“Lagi rebahan aja, Yank. Baru pulang?”


Fauzi :“Iya, Sayang. Aku kurang semangat nih.”


Salsa :“Loh ... Ada apa? Kamu lagi ga sakit 'kan?”


Fauzi :“Aku sehat-sehat aja, Sayang.”


Salsa :“Lah, terus?”


Fauzi :“Hari-hariku terasa membosankan saat tiba di kantor aku tidak melihat sosok dirimu, dan pulang ke rumah juga sama. Aku mau kamu menjadi penyemangat hari-hariku di mana saat pulang ke rumah aku melihat kamu dan anak-anak kita kelak. Aku selalu membayangkan itu, Sayang. Dan itu membuat aku tidak sabar dengan hari pernikahan kita”


Mendengar itu membuat jantung Salsa berdebar, 'kamu selalu berhasil buat aku semakin cinta padamu, sayang. Aku benar-benar sangat bahagia memiliki dirimu' batin Salsa.


Fauzi :“Sayang! Halo, Sayang! Kok diem sih?”


Salsa :“Eh ... Iya, Yank. Aku juga sama tidak sabar untuk menunggu hari itu. Aku sudah mulai jenuh harus berdiam diri di rumah. Aku pengen ada kamu yang selalu menemani hari-hariku. Tapi Sayang, aku tidak bisa melakukan apapun, bahkan memasak pun selalu saja gosong.” suara Salsa terdengar penuh penyesalan.

__ADS_1


Fauzi :“Kita lakukan semua itu bersama, Sayang. Lama-lama juga pasti kamu bisa. Aku akan selalu mendukungmu.” Keduanya pun lanjut melepas rindu, walaupun hanya melalui suara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari semua tampa sibuk untuk mepersiapkan keperluan Alaric dan ayahnya Rendra yang akan pergi pagi itu keluar kota. Alaric sendiri malah sibuk menghubugi Ana yang sejak semalam susah dihubungi. Dirinya merasa khawatir, karena tidak ada kabar dari kekasihnya.


“Bang, ayo!” panggil Rendra. Karena penerbangan sebentar lagi, Alaric memutuskan untuk menghubungi Ana setelah dirinya sudah sampai di Kalimantan.


Penerbangan yang memakan waktu dua jam membuat Alaric sangat tersiksa. Sejak tadi otaknya hanya memikirkan Ana. Ingin rasanya dia mengaktifkan ponselnya dan langsung menelepon Ana, tapi keinginan itu terpaksa ditahan karena sedang berada dalam penerbangan.


Di sisi lain Ana yang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya tidak menyadari kalau ponselnya sejak tadi malam tdak ada bersamanya. Saat dia sudah siap-siap untuk pergi ke kampus, Ana baru menyadari kalau sejak dari semalam dia tidak memegang ponselnya sama sekali. Ana mencari ditiap sudut kamar kostannya,tapi tidak juga ketemu.


Ana pun sampai meminta tolong teman sebelah kamarnya untuk menelepon ponselnya, tapi ponselnya sedang di luar jangkauan. Dengan hati yang pasrah, Ana pun berangkat pergi ke kampus.


Otaknya masih bertanya-tanya di mana terakhir kali di menyimpan ponselnya. Tapi ingatannya benar-benar blank. Sesampai di kampus, Aulia yang sedang menunggu kedatangan dirinya langsung dengan cepat menghampirinya.


“Lo kemana aja sih? Ponsel lo mana?” tanyanya dengan nada yg sedikit kesal karena teleponnya tidak sama sekali direspon.


“Gue juga ga tau,” jawabnya singkat sambil merangkul lengan Aulia sambil berjalan maju. Kalau ada sosok Ana, Krisna pasrah dan mengalah hanya mengikuti kekasihnya dari belakang.


“Kok bisa?!” teriak Ana sambil menghentikan langkahnya.


“Dih ... ni anak. Biasa aja keles. Gue juga belum pasti sih, mungkin ketinggalan di bakery. Nanti sepulang dari kampus, gue langsung ke tempat kerjaan.”


“Kebiasaan sih, Lo. Makanya kalau barang-barang penting itu di simpen baik-baik. Berarti, lo belum kabar-kabaran sama abang Alaric dong?” tanya Aulia sambil melanjutkan langkah mereka.


Ana menggelengkan kepalanya, “Abang udah pergi?” tanyanya dengan nada yang terdengar menyesal.


“Ga usah gitu juga kali mukanya, cuma tiga hari doang. Dasar lu, bucin parah.” Keduanya tertawa saling meledek. Sampai di depan kelas, keduanya masuk. Aulia tidak sadar sejak tadi Krisna mengikuti mereka tanpa sama sekali dianggap. Krisna hanya mengeluarkan nafas panjang, dia menyenderkan tubuhnya, dan meraih ponsel yang ada di saku.


Krisna : “Sayangku, cintaku, apa sebegitu pentingnya 'kah Ana dibandingkan dengan diriku? Aku dari tadi masih ada di belakang kamu loh. Masa lupa? Kita 'kan berangkat bareng.”


Krisan mengirimkan pesan singkat kepada Aulia. Saat merasa ponselnya bergetar, Aulia dengan cepat mengambilnya ponselnya di dalam tasnya. Pikiran Aulia itu pasti abangnya Alaric yang ingin tahu keberadaan sahabatnya. Tapi, betapa kagetknya dia saat membaca pesan dari kekasihnya.

__ADS_1


“Oh Tuhan!” ucapnya sambil menutup mulutnya, karena kaget.


“Ada apa, Aulia?” tanya Ana yang ikut kaget melihat ekspresi dari sahabatnya.


“Gue lupa. Gara-gara lo sih, jadi gue lupa kalau sayang gue dari tadi ngikutin di belakang gue.” Aulia dengan cepat berlari menuju keluar ruangan kelas, sedangkan Ana yang melihatnya tertawa puas. Walaupun dia bisa tertawa lepas, tapi hatinya masih memikirkan Alaric. Karena sejak semalam mereka sama sekali belum berkomunikasi.


Saat keluar dari kelas, dengan memasang aajah memelas dan senyuman yang bersalah Aulia menghampiri kekasihnya.


“Abang ....” panggilnya dengan nada yang manja sambil menarik jaket kekasihnya. Krisna sedang menyender di dinding dan melihat ke bawah memainkan sepatunya, langsung mengangkat wajahnya dan menatap sinis ke arah Aulia. Mendapat tatapan seperti itu, Aulia langsung tersenyum lebar.


“Mulai ya lupain aku. Kamu itu ya ... bikin aku pengen gigit, tahu ga?” ucap Krisna sambil mengacak-acak rambut kekasihnya.


“Ampun! Janji ga lagi cuekin kamu,” ucap Aulia sambil mengangkat dua jari untuk menggambarkan dia bersungguh-sungguh.


“Janji kamu itu, hoax. Ya udah, sebentar lagi dosen datang. Kamu yang bener kuliahnya, abang juga mau ke kelas.” Aulia mengangguk dan melambaikan tangannya saat Krisna melangkah menjauh darinya.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Maaf lama update, beberapa hari kemaren Author sedang tidak enak badan. Ini juga Author maksain UP. Doakan Author cepat sehat ya...


Jaga kesehatan kalian juga, minum vitamin dan jaga pola makan. Aku Padamu Semuanya ❤️❤️❤️❤️


BANTU LIKE, KOMEN DAN VOTE YA...

__ADS_1


Hatur Nuhun 🙏


__ADS_2