
S2 Bab 94
Alaric sengaja pulang lebih awal untuk menjemput istri kesayangannya. Tidak lama Alaric akhirnya sampai. Antara jarak kantornya dan juga rumah mertua memang tidak terlalu jauh. Ana pun segera pamit pada mama dan adiknya. Tidak lupa Alaric menyapa keduanya sebelum akhirnya mereka pamit untuk pulang.
“Sayang, kita mampir dulu ke mall dekat rumah ya. Aku mau beli bahan-bahan makan yang sudah habis di rumah.” Alaric mengangguk sambil mengusap kepala istrinya.
Sampai di mall, Ana dan Alaric langsung menuju ke swalayan yang berada di lantai bawah dari lobby. Seperti biasa Alaric membawa troli sambil mengikuti langkah istrinya kemana pun dia pergi. Setelah membeli aneka sayur mayur dan juga perdangingan, Ana langsung bergegas ke lorong yang menjual aneka minuman. Dia berhenti sejenak dan melihat bermacam-macam kopi yang ada di sana sambil tersenyum.
“Yank, ngapain?” tanya Alaric heran saat melihat istrinya mengepalkan kedua tangan di atas dada sambil tersenyum. Ana hanya menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan memilih aneka kopi dari berbagai macam merk. Satu persatu dimasukannya ke dalam troli dan itu berhasil membuat Alaric kaget.
”Yank ... Yank! Kok banyak banget sih? Aku 'kan enggak terlalu suka kopi, Yank. Lagi pula ini kopi bukan yang biasa kita beli,” ucap Alaric sambil mengembalikan beberapa bungkus kopi kembali ke dalam raknya. Dengan cepat Ana menepis tangan Alaric saat hendak mengambil kembali kopi yang ada di troli. Dia kembali mengambil kopi-kopi yang Alaric sudah kembalikan.
“Ini buat aku, kata siapa buat kamu,” ucap Ana cuek dan lansung berjalan kembali memilih kopi-kopi yang lainnya.
“Sebanyak ini?” Ana mengangguk sedangkan Alaric menggelengkan kepalanya sambil maju melangkah mengikuti langkah Ana.
Saat di kasir, Alaric sadar ada yang aneh dengan istrinya saat melihat berapa banyak bungkus kopi yang dia beli. 'Kenapa dia tiba-tiba menyukai kopi? Jangan-jangan dia kerasukan jin kopi lagi?' pikir Alaric yang tidak masuk akal menurutnya.
Selesai membayar mereka langsung menuju mobil dan merapihkan barang belanjaan. Setelah semuanya rapih, Ana mengajak suami untuk mencari makanan di Mall. Alaric pasrah dan kembali masuk ke dalam mall.
Ana mencari aneka jajanan yang biasanya tidak pernah dibelinya. Melihat istrinya sangat menikmati makanan cemilan khas Korea itu membuat Alaric merasa Aneh.
“Yank, kamu mau datang bulan ya?” tanya Alaric, karena selama ini memang Ana banyak makan dikala akan datang bulan.
“Mungkin, Sayang. Yank ... aku mau itu juga,” Ana menunjuk ke arah stan jajan lain dan langsung menarik tangan suaminya. Alaric pasrah dan hanya menggelengkan kepalanya.
Melihat istrinya yang sedang mempunyai napsu makan yang baik membuat Alaric cukup bahagia. Hingga di dalam mobil pun Ana masih saja menggiling makanan di mulutnya. Alaric tertawa dan mengusap kepala Ana dengan lembut.
Setelah menurunkan aneka belanjaan dalam mobil, Ana langsung membuka satu bungkus kopi untuk dimakannya.
__ADS_1
“Loh Yank, enggak diseduh?” tanya Alaric heran, karena dia baru melihat istrinya aneh seperti ini.
“Cobaim deh, Yank, enak banget.” Ana menyodorkan kopi itu, tapi Alaric hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.
Kalau dipikir-pikir Ana juga merasa heran, kenapa napsu makannya besar dan juga dia melakukan hal-hal di luar dari kebiasaannya. Dia sempat memikirkan apakah dirinya hamil, tapi dengan cepat Ana menggelengkan kepala dan mengatakan, “Tidak mungkin, aku belum telat.”
Setelah suaminya membersihkan diri, Ana pun langsung menganti baju setelah mencuci wajahnya.
“Loh Yank, kamu enggak mandi?” tanya Alaric aneh. Karena yang dia tahu kalau istrinya sangat apik dengan kebersihan. Selama ini Ana yang cerewet menyuruh suaminya untuk mandi setelah seharian dari luar, tapi kali ini Ana tidak seperti yang biasanya.
Ana merebahkan tubuhnya dan langsung menarik selimut. Dia tidak menggubris apa yang dikatakan suaminya dan dengan cepat memejamkan matanya.
”Yank, serius kamu langsung tidur?”
“Emmm ....” lagi-lagi Alaric menggelengkan kepalanya melihat keanehan istrinya.
“Bi, kalau ibu bangun bilang saya sarapan di kantor ya. Terus biarkan dia i” pesan Alaric pada asisten rumah tangganya.
“Baik, Pak,” jawabnya.
Matahari sudah mulai naik dan sinarnya masuk antara sela-sela jendela membuat Ana bangun dari tidurnya. Dia tampak kaget saat melihat hari sudah nampak siang. Dengan cepat dia keluar dari kamarnya dan berlari keluar.
“Bi, bapak mana?” tanya Ana masih dengan wajah yang kaget.
“Tadi pagi udah berangkat, Bu,” jawabnya. Ana langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Alaric.
Ana :“Halo, Ayank kok enggak bangunin sih?”
Alaric:“Hai Sayang, kamu baru bangun udah siang gini?(sambil tertawa) Kamu tampak lelah, aku tidak berani membangunkan kamu, Sayang.”
__ADS_1
Ana :“Iya Sayang, entah kenapa akhir-akhir ini tubuhku merasa sangat lelah.”
Alaric :“Ya udah Sayang, kamu istirahat aja. Aku lanjut kerja dulu ya. Miss you, Sayang.” Alaric pun mematikan ponselnya.
Memang setelah dipikir-pikir Ana merasa tubuhnya gampang lelah dan mudah sekali lapar. Kali ini dia ingin sekali memakan mie ayam yang berada tidak jauh dari kampusnya dulu. Tanpa pikir panjang, Ana bergegas siap-siap untuk pergi ke sana, tanpa meminta ijin terlebih dahulu sama suaminya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
🌺Vote
Happy Reading guys ....
__ADS_1