
Selama perjalanan Alaric terus saja memikirkan Ana. Dia berniat untuk menjemput Ana ke kostan. Sesampai di sana, lagi-lagi Alaric melihat cowok yang waktu itu menjemput Ana ditempat kerjanya.
Cih ... kenapa dia terus-menerus jemput Ana sih? Ga mungkin dia cuma anggap Ana adiknya, kalau tatapannya seperti itu, kesal Alaric yang bisa membaca perasaan Satria lewat tatapan seorang pria pada wanita yang disukainya.
Saat hendak ingin melajukan mobilnya, Ana melihat kedatangannya dan, “Abang!” teriak Ana, berlari kecil menghampirinya. Niat ingin pergi pun gagal. Jantungnya berdebar saat melihat Ana tersenyum dan berjalan kearahnya.
“... Abang lagi apa disini?” tanya Ana. Alaric turun dari mobilnya dan berdiri dihadapan Ana.
“Ga sengaja lewat. Tadinya mau sekalian jemput kamu kamu, tapi kayanya kamu sudah ada yang jemput,” ucap Alaric sambil melihat ke arah Satria. Ana melambaikan tangan pada satria dan membuat lelaki hitam manis itu menghampiri keduanya.
“Bang, kenalin ini Satria, yang dulu pernah aku ceritain. Kak, ini bang Al dia kakak tingkat aku sekaligus abangnya Aulia,” ucap Ana memperkenalkan mereka. Keduanya pun saling berjabat tangan. Ada tatapan yang beda dari keduanya. Satria menyadari kalau Alaric menyukai Ana begitupun sebaliknya.
“Kalau gitu kakak berangkat kerja dulu ya. Bro, gue jalan duluan,” pamit Satria pada Alaric, dan Al hanya membalasnya dengan senyuman.
“Jangan lupa makan sarapannya!” ucap Satria sambil membelai rambut Ana. Ana hanya mengangguk tersenyum dan Satria pun kembali berjalan ke arah tempat dimana motornya parkir. Ana melambaikan tangannya, saat motor Satria berjalan di depannya. Hati Alaric terasa sakit melihat pemandangan tadi.
Pasti tu orang sengaja bikin gue panas!! kesal Alaric pada Satria.
“Kirain dia mau jemput kamu.”
“Dia cuma anterin sarapan buat aku kok, Bang. Oia kita berangkat sekarang aja ya!” Alaric hanya mengangguk.
“Dia setiap hari kirimin kamu itu?” tanya Alaric sambil menunjuk paper bag kecil yang ada di atas pangkuan Ana.
“Ga juga, Bang. Kalau ibu Sarah menyuruhnya, baru dia antarkan padaku. Kenapa, Bang?”
“Ah ... ga kok, cuma nanya aja. Oia nanti siang kamu kerja?”
“Iya, beres kelas aku langsung kerja.”
“Oh ....” suasana kembali hening. Alaric binggung apalagi yang ingin dibicarakan dengan Ana, begitupun sebaliknya. Keduanya masih sama-sama malu untuk memulai pembicaraan.
Sampai di kampus Alaric memarkirkan mobilnya. Suatu kebetulan dia datang bersamaan dengan Intan, Aulia dan Gibran. Jangan ditanya apa yang terjadi, jelas Intan merasa sangat panas melihat Ana yang baru saja turun dari mobil lelaki pujaan hatinya.
Dasar cewek gatel, gue aja belom pernah naik mobil itu berdua. Cih ... pake apa dia sampe bisa bikin Hati Al luluh? kesal Intan dalam hatinya.
Intan dan kedua orang yang bersamanya langsung menghampiri keduanya yang baru saja turun dari mobil.
__ADS_1
“Ana ....” panggil Aulia langsung memeluk sahabatnya.
“Pagi, Bang. Kalian kok berangkat bareng?” tanyanya dengan berusaha tersenyum depan Alaric.
“Pagi. Gue ga sengaja lewat kostan dia. Kamu tumben pergi bareng sama Gibran. Lagi akur nih?”
“Mobil dia lagi ke bengkel. Jadi gue disuruh jemput bidadari cantik ini,” jawab Gibran sambil melirik ke arah Intan. Berbeda dengan Intan, dia terus menatap sinis ke arah Ana dan membuatnya menjadi merasa tidak enak. Ana takut kalau Intan salah paham sama hubungan dia dengan Alaric. Karena dia takut kalau Intan adalah kekasih dari Alaric. Aulia merasa suasana sudah tidak enak dia pun pamit pada kakak-kakaknya dan menarik Ana masuk ke dalam kampus.
“Bang, makasih ya!” ucap Ana, Alaric hanya tersenyum mengangguk. Dia terus melihat punggung Ana yang perlahan melangkah jauh meninggalkannya. Gibran tersenyum dan langsung merangkul sepupunya itu.
“Kalau suka kejar, Bang!” bisik Gibran, sambil jalan menuju kelas. Hati Intan terasa panas dan ingin rasanya memberontak. Tapi, dia sadar kalau dirinya tidak punya hak untuk itu.
**Di kelas**
“Cieee ....” goda Aulia pada sahabatnya.
“Apaan sih Aul, ga lucu ah,” Ana merasa malu dan wajahnya pun memerah.
“Kemana aja kemaren? Kayanya ada perkembangan nih.”
“Hus, perkembangan apa? Lagi pula kemaren cuma cari buku terus makan, udah itu doang. Oia, ini buku lo. Btw, gimana lo udah merasa enakkan?” seketika Ana mengingat kalau sahabatnya sedang tidak enak badan. Aulia salah tingkah, dia mengambil buku yang dipegang Ana, dan langsung sibuk membuka bukunya.
“Iya ... iya aku udah enakkan kok. Liat sendiri 'kan?” Ana hanya melirik padanya dan berusaha mempercayai apa yang dikatakan sahabatnya.
Kelas akan segera dimulai. Reza, laki-laki yang sejak pertama masuk kuliah selalu mengejar-ngejar Aulia berlari ngos-ngosan masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di sebelah wanita pujaan hatinya.
“Pagi, sayang,” sapa Reza dengan nada yang berbisik.
“Kebiasaan lo telat mulu,” Reza hanya tersenyum.
Setelah dua jam, akhirnya kelas selesai. Dosen yang mengajar kelas pun berjalan keluar meninggalkan kelas. Reza langsung menggubah posisi duduknya menghadap Aulia dan terus menatap wajah cantiknya, membuat gadis cantik itu merasa risih. Dia menggambil buku yang ada di depannya dan memukulnya ke wajah Reza, membuat Reza meringis kesakitan.
“Sayang, galak amat sih. Ga kangen sama gue?”
“Sayang-sayang! Sejak kapan gue jadi pacar lo?” kata Aulia sedikit emosi dan berdiri meninggalkan Reza. Ana tersenyum kecil menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.
“Sejak gue suka sama lo. Bodo, lo mau anggap gue apa, yang jelas gue udah anggap lo pacar gue,” jawab Reza sambil merangkul bahu Aulia berjalan keluar kelas. Aulia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Reza.
__ADS_1
Krisna yang sejak tadi menunggu Aulia keluar kelas kaget saat melihat Reza merangkul wanita yang sangat disukainya itu. Melihat sosok Krisna pun Aulia kanget dan dengan cepat melepaskan rangkulan dari laki-laki yang sudah dianggapnya sahabat.
“Abang, ngapain ke sini?” tanya Aulia saat menghampiri Krisna. Tatapan dia terus menatap kesal Reza, tapi dengan begitu membuat Reza tersenyum sinis merasa menang selangkah darinya. Sebenarnya Reza dan Krisna sama-sama tahu kalau mereka berdua mengejar hati Aulia. Maka dari itu, keduanya selalu merasa menang apabila sedang berduaan dengan Aulia.
“Tadinya mau ngajak kamu makan. Tapi kayanya kamu lagi sibuk. Ya udah Abang pamit ya!” Krisna berdiri mengambil tasnya dan langsung berjalan meninggalkan Aulia. Hatinya merasa sangat sakit melihat sikap dingin Krisna. Aulia menatap Ana, dan Ana menyuruhnya untuk mengejar Krisna dengan gerakan matanya. Aulia pun mengangguk dan mengejar Krisna yang sudah lumayan jauh jaraknya.
“Eits ... mau kemana?” tanya Ana sambil memegang tangan Reza yang hendak menyusul Aulia.
“Gue mau nyusul Aul. Enak aja mereka berduaan,” kesal Reza. Ana tersenyum nakal, menarik tangan Reza dan merangkul lengannya berjalan menuju kantin.
“Jangan ganggu mereka!” ucap Ana yang terus menarik lengan Reza. Ana sejak dulu tahu betul tentang perasaan Aulia buat Krisna. Dan ini waktu yang tepat keduanya untuk lebih dekat, pikir Ana.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Hai-hai lama tak bersua, hehehehe.....
huft aku terlalu sibuk di dunia nyata nih...
maafkan ya teman-teman...
karena kerjaan yang menumpuk aku ga sempat ada waktu untuk ngetik, semoga kalian memahaminya yaa..
Terimakasih yang sudah setia menunggu...
jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaa...
__ADS_1
Aku padamu semuanya.....♥️♥️♥️♥️