Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 64


__ADS_3

S2 Bab 64



*Foto ambil dari google. Foto Hotel Royal Tulip (Top Hotel) Bogor.


Diiringi musik klasik, Alaric berjalan menghampiri Ana yang masih berdiri mematung di depannya. Ana masih tidak bisa percaya dengan semua yang terjadi. Rasanya tubuhnya mendadak kaku, dan suaranya hilanh entah kemana. Sampai di depan Ana, Alaric berlutut dan menarik tangan Ana lalu menggenggamnya.


...Sambut Aku...


...Derit waktu mempertemukan kita diujung asa...


...Membelai lembut rasa mengikat jiwa...


...Mengenali betapa pengecutnya aku...


...Hanya menungguimu di batas mimpiku...


...Cantik, pesona dirimu menarik lukaku...


...Menyibak kerasnya perasaanku...


...Hadirmu bagai angin musim semi...


...Menghempaskan seluruh rasa takut dihati...


...Indah, paras senyummu menggetarkan rindu...


...Memperkenalkan tentang cinta yang bersatu...


...Waktu berlalu tanpa terasa...


...Dan kini aku yakin engkau adalah bahagia...


...Maafkan aku terlalu lama membiarkanmu...


...Meninggalkanmu dalam kesendirianku...


...Sampai saat rasamu menusuk nadiku...


...Menyadarkanku betapa berharga dirimu...


...Seikat bunga kupersembahkan untukmu...

__ADS_1


...Sebuah rasa utuh kuberikan padamu...


...Genggam tanganku dan jadilah istriku...


...Maukah engkau menikah denganku?...


*Puisi by : Kenziki Kyozaki


Alaric pun memberikan seikat bunga mawar itu sambil menunduk, dan menunggu jawaban Ana dari puisi yang disampaikannya. Ana masih tidak percaya dengan yang terjadi. Dia masih diposisinya dengan menutup mulutnya dan meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan terus mengalir di atas wajahnya yang cantik.


Suasana seketika hening, bukan hanya Alaric yang menunggu jawaban dari Ana, tapi seluruh keluarga pun menunggu bagaimana reaksi gadis cantik itu. Ana perlahan mengambil bunga yang diberikan oleh Alaric dan dia mengangguk tersenyum seraya berkata, “Ya ... aku mau.”


Mendengar itu Alaric mengangkat wajahnya dan berdiri. Suara tepuk tangan kembali meramaikan suasana. Alaric pun berdiri dan memeluk tubuh mungil Ana. Dia mengecup ubun-ubunnya dan tak henti-hentinya mengucap syukur.


“Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu.” Ana mengangguk, “Aku juga.” Kebahagiaan keduanya memancar pada seluruh keluarga. Mereka ikut merasakan bahagia yang dirasa sepasang insan yang sedang di mabuk cinta ini.


Alaric pun menarik tangan Ana untuk maju ke depan. Di sana kedua orangtua Ana dan Alaeic sudah menunggu mereka. Sampai di depan, Tina dan Riana melangkah maju menghadap keduanya. Masing-masing dari mereka memasangkan cincin emas putih di balut berlian pada calon menantu mereka. Kini keduanya pun resmi bertunangan.



*Foto diambil di google


Kembali semua orang bertepuk tangan melihat sepasang calon pengantin itu sudah memakai sepasang cincin di jari manis mereka. Tidak lupa fotografer mengabadikan setiap momen yang terjadi. Kini keduanya resmi bertunangan, dan Tanggal pernikahan pun sudah diumumkan. Pihak dari keluarga inti meminta agar para kerabat membantu mereka sampai pernikahan itu digelar.




*Foto diambil dari google


Sambil terus tersenyum, mata Aulia terus tertuju pada sepasang calon pengantin itu. Gibran yang melihat kekasihnya langsung menghampirinya dan berbisik, “Kamu mau bikin acara seperti ini, Yank?” Bisik Krisna sambil melingkarkan lengannya di pinggang Aulia. Aulia menggelengkan kepalanya.


“Enggak perlu, Sayang. Aku tahu kamu orang yang jujur dan saking jujurnya kamu tidak pernah memikirkan hal-hal yang berbau romantis. Sekarang kamu tiba-tiba menawarkan hal romantis seperti ini, buat aku merinding tahu enggak.” Krisna tertawa saat mendengarnya. Entah itu ejekan atau bukan, walaupun begitu dia sangat bersyukur kalau Aulia tidak pernah menuntut apapun darinya.


Setelah pemotretan, tiba-tiba Ana melirik sinis ke arah Alaric, membuat dia merasa heran. Ana mencubit perut Alaric sampai si empunya merasa kesakitan.


“Aw ... Sayang, sakit. Kamu kenapa?” Tanya Alaric sambil memegang perutnya yang kesakitan.


“Bagus ya ... mau jadi artis sinetron, hah? Seharian ga ada kabar, dan sialnya lagi semua orang membodohiku.” Kesal Ana sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya.


Alaric tersenyum, dia menarik tubuh Ana masuk dalam pelukannya. “Maafkan aku ya, Sayang! Pasti kamu sangat mengkhawatirkan aku ya?”


“Cih ... masih nanya,” ucapnya kesal sambil memukul pelan dada tunangannya.

__ADS_1


“Ehem ... belum sah, woy! Ayo gabung, kita foto keluarga,” ucap Gibran memisahkan keduanya yanh sedang berpelukan. Keduanya saling menatap dan melempar senyuman. Mereka pun ikut bergabung untuk mengabadikan momen kebersamaan semuanya.


Hari semakin gelap, masing-masing dari mereka pun kembali ke kamar. Kecuali Ana dan Alaric yang masih menikmati pemandangan malam. Alaric memeluk kekasihnya dari belakang. Dia menopang dagunya di bahu Ana, melepaskan rasa rindu yang sejak kemarin ditahan.


“Sayang, aku rindu,” lirih Alaric sambil mencium pipinya.


“Aku lebih rindu. Janji ya, kamu ga bakal bikin khawatir aku kaya kemaren. Walaupun cuma rencana kamu, tapi aku ga suka dengan cara yang seperti itu. Seharian aku merasa cemas dan tidak tidur tahu!” kesal Ana.


Alaric melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Ana sampai dirinya menghadap pada Alaric.


“Apa?! Beneran kamu enggak tidur?” dengan wajah yang memelas Ana pun mengangguk.


“Sayang, maafin aku ya! Aku enggak tahu semua ini membuat kamu menjadi sangat khawatir. Maafkan aku, Yank!” keluh Alaric. Ana tersenyum menggelengkan kepalanya, “Enggak apa-apa kok, Sayang. Makanya jangan ulangi lagi.”


Alaric mendekatkan keningnya dan menempelkannya pada kening Ana.


“Tidak akan, Sayang. Tidak akan pernah,” lirih Alaric.


Alaric semakin mendekatkan wajahnya. Ingin rasanya dia mencium bibir Ana. Kalau bukan mengingat prinsip hidupnya, sudah sejak dulu dia sudah mecium habis bibir kecil itu. Alhasil mereka hanya saling tatap dan tersenyum. Malam itu terasa sangat romantis dan hangat ditemani bintang-bintang dan rembulan, walaupun sebenarnya udara puncak saat itu sangatlah dingin. Cinta yang dimiliki oleh keduanya dapat menghangatkan suasana.


Riana dan Rendra melihat anak-anak mereka di balik kaca merasa sangat bahagia. Terutama Riana, rasa bahagia dia sampai-sampai tidak bisa digambarkan. Impian dia selama ini akhirnya terwujud juga. Memiliki menantu yang berparas cantik dan lembut seperti Ana adalah salah satu kebahagiaan yang tidak dapat diukur sebesar apa rasanya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Don't Forget


👍 Like


💬 Komen


🌺 Vote sebanyak-banyaknya


Terimakasih atas dukungan kalian semua selama ini. ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2