
Kedatangan kedua sahabat Kalila membuat dia sedikitnya lebih semangat. Walaupun Hesti dan Andri orang yang sangat dekat dengan Kalila, tapi dia tidak pernah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Alhasil Hesti tidak bisa mendapatkan informasi tentang Kalila. Ana pun harus mendapatkan kekecewaan, karena keingintahuan dia tentang anaknya. Hesti sudah mencoba untuk mencari tahu, sebenarnya ada apa yang terjadi dengan Kalila akhir-akhir ini, tapi tetap saja Kalila menutupi semuanya.
Setelah kedua sahabatnya pulang, Kalila kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Tok! Tok!
“Sayang, bolehkah mami masuk?” ucap Ana dari balik pintu kamar Kalila. Kalila yang medengar itu langsung bangun dari tidurnya dan membukakan pintu untuk sang mami.
“Masuk, Mi!” Ana pun masuk dan langsung duduk di tepi kasur.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan kamu, Nak? Sudah enakan?”
“Sudah, Mi. Besok Kalila mau masuk sekolah.” Ana menarik tangan Kalila dan menggenggamnya, “Nak, kalau kamu ada masalah, jangan sungkan-sungkan untuk cerita semuanya sama Mami ya, Nak. Mami akan mendengarkan semuanya, kalau bisa Mami akan memberikan solusi untuk masalah kamu.” Kalila tersenyum mengangguk dan memeluk tubuh maminya.
“Maafin Kalila ya Mi, sudah buat Mami khawatir. Kalila janji nanti kalau Lila sudah siap, Lila akan menceritakan semuanya sama Mami.” Ana mengusap lembut rambut anaknya, “Bener, janji ya! Mami berharap kamu kembali seperti dulu lagi, Nak. Ya sudah, kamu istirahat ya, biar besok bisa masuk sekolah.” Kalila mengangguk tersenyum. Ana melepaskan pelukannya dan keluar kamar sambil tersenyum pada anaknya.
Kalila bergegas mengambil ponselnya, saat ponsel itu bergetar. Dia mengerutkan kening, melihat nomor yang tidak dikenalnya baru saja masuk di daftar panggilan tidak terjawab.
Kalila tidak menyangka orang yang menghubungi dia adalah orang yang selama ini membuat dia enggan masuk ke sekolah. Kalila memegangi dadanya, dengan napas yang tidak beraturan, dia mengambil kembali ponselnya dan dia masih belum percaya kalau Akbar mengirim pesan singkat untuknya. Setelah Kalila merasa cukup tenang, dia pun membuka isi pesan Akbar.
__ADS_1
Akbar :“Lila, bagaimana kabarmu? Saya untuk sementara mengantikan posisi Bu Gendis sebagai wali kelas.” Kalila terus menatap isi pesan Akbar. Entah kenapa ada sedikit kekecewaan dalam hatinya.
Kalila :“Baik, Pak. Oh iya, Pak.” Kalila hanya menjawab pesan Akbar dengan singkat, padat dan jelas. Akbar yang sejak tadi menunggu balasan dari Kalila langsung membuka ponselnya saat ponselnya berbunyi. Sama halnya seperti Kalila, Akbar juga merasa kecewa dengan balasan dari Kalila.
Akbar :“Besok kamu akan masuk sekolah 'kan?”
Kalila :“Iya, Pak.” lagi-lagi Kalila menjawabnya dengan singkat. Entah apa lagi yang harus Akbar tanyakan untuknya. Dia hanya terus menatap layar ponsel, sambil memikirkan topik pembicaraan.
Walaupun Kalila menjawabnya dengan singkat, dia tetap menunggu chat masuk lagi dari Akbar. Ada rasa penyesalan setelah dia menyadari jawaban dia yang singkat untuk Akbar. Kalila juga sedang memikirkan topik pembicaraan agar pesan tidak berakhir begitu saja. Saat Kalila hendak mengetik, satu pesa masuk lagi dan membuat dia seketika tersenyum.
__ADS_1
Akbar :“Kalila, maafkan aku ya!” Mendapat pesan yang sudah tidak mengatasnamakan guru Kalila langsung loncat kegirangan. Rasa sakit dia dahulu langsung hilang entah kemana. Sambil tersenyum dia membalas pesan dari Akbar.
~Bersambung