Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 70


__ADS_3

S2 Bab 70


Setelah bulan madu, Alaric disibukkan dengan berbagai kerjaan yang sudah tertunda selama tiga hari. Banyak berkas-berkas yang harus dia tandatangani dan juga meeting yang harus dia datangi. Karena kesibukannya membuat dirinya harus pulang lebih lambat dari waktu yang seharusnya. Kesibukannya itulah yang membuat sepasang pengantin baru ini belum menyempatkan untuk pindah ke apartemen Alaric yang sudah disiapkannya saat nanti dia menikah.


Komitmen keduanya saat belum mempunyai anak, Ana boleh bekerja di perusahaan papanya. Kesibukan keduanya membuat mereka tidak pernah melakukannya setelah pulang dari bulan madu. Setiap malam Ana selalu menunggu Alaric dan kadang sampai dirinya tertidur Alaric belum juga pulang.


“Kamu sudah tidur lagi,” ucap Alaric sambil membelai rambut istrinya.


Kini sudah pukul 23.00 dan Alaric baru sampai di rumah. Kewajiban dia yang harus menemani tamu-tamu dari luar negeri membuat dirinya harus mengabaikan istrinya. Alaric menatap wajah pulas Ana perlahan mendekati wajahnya dan mengecup bibirnya. Hal itu membuat Ana terbangun dari tidurnya.


“Sayang, kamu sudah pulang?” lirih Ana dengan suara yang berat. Alaric membelai rambut Ana,“Sudah, Sayang. Tidurlah! Aku mau membersihkan diri.”


Ana membuka matanya perlahan dan menatap wajah lelah suaminya, “Kamu sudah makan?” Alaric tersenyum mengangguk.


“Tidurlah kembali!” titah Alaric, Ana mengangguk dan dia kembali memejamkan matanya.


Selesai membersihkan diri, Alaric langsung menuju tempat tidurnya dan terus memandang wajah istrinya. 'Sayang, maafkan aku yang akhir-akhir ini sangat sibuk sampai-sampai aku mengabaikanmu. Sabar sebentar lagi ya!' lirih Alaric dan mengecup kening istrinya.


Pagi hari Ana membantu mertuanya Riana untuk menyiapkan makanan. Semenjak kepergian Arez ke Malaysia beberapa hari yang lalu setelah pernikahan Alaric, untuk study banding di kampusnya membuat Riana tampak muram. Itu terlihat ketika Riana memasak, tapi tatapan dia kosong ke depan.


“Bunda, biar sama aku saja,” ucap Ana mengambil alih spatula yang ada di tangannya.


“Ah ... maaf, Nak. Bunda jadi melamun gini.”


“Bunda pasti sedang merindukan Arez ya?”


“Sangat. Semenjak dia ke luar negeri, rumah terasa sepi. Tapi, bunda beruntung ada kamu dan Alaric di sini. Maka dari itu, kalian jangan dulu pindah ya! Sampai Arez pulang ke Indonesia, setidaknya sampai awal tahun depan. Tanpa kalian entah bagaimana perasaan bunda. Pasti akan lebih kesepian,” keluh Ana memohon pada menantunya.


Ana mengangkat ayam goreng yang sudah matang, dan membalikkan badannya menghampiri Riana yang sedang duduk di dapur. Dia menarik tangan Riana sambil berkata, “Bunda tenang aja! Ana dan abang Al enggak akan kemana-mana. Kita akan terus menemani Bunda di sini sampai Arez membereskan study-nya.” Riana tersenyum dan membalas balik genggaman tangan Ana.

__ADS_1


“Ehem ... wah pagi-pagi udah lihat dua bidadari cantik saling berpegangan tangan bikin hati adem aja,” canda Rendra yang baru saja bergabung, di susul Alaric yang tersenyum mendengar ayahnya. Riana dan Ana pun ikut tersenyum, lalu keduanya langsung menyiapkan aneka masakan yang sudah masak dan disusun di atas meja makan.


Suasana seketika hening saat mereka menikmati aneka makanan yang berada di atas meja. Selesai menyantap makanan, Ana dan Alaric kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.


“Yank, nanti libur besok bagaimana kalau kita beres-beres untuk pindah ke apartemen?” tanya Alaric saat Ana memakaikan dasi untuknya.


“Emmm ... Yank, sebenarnya tadi bunda cerita sama aku.” Alaric mengerutkan keningnya tidak mengerti, dia merangkul Ana duduk di sofa yang ada di pojokan kamar mereka.


“Ada apa dengan bunda? Apa terjadi sesuatu dengannya?” Alaric khawatir.


Ana menggelengkan kepalanya, “Bukan kok, Sayang. Bunda tadi memohon sama aku untuk tidak pindah dulu sebelum Arez pulang dari study-nya. Bunda tidak sanggup kalau harus sendiri di rumah. Jadi dia meminta hal itu padaku. Bukannya enggak mau pindah, tapi aku ingin menepati apa yang aku katakan tadi sama bunda.” Alaric menatap tajam wajah istrinya sambil tersenyum.


“... kenapa? Apa ada yang aneh di wajahku?” tanya Ana heran dengan ratapan suaminya.


“Terima kasih ya, Sayang, kamu sangat mempedulikan bunda. Aku senang kalau kamu berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku mengajak kamu pindah, karena takut kalau kamu merasa tidak leluasan di sini. Tapi ternyata pikiranku salah, dan aku sangat bersyukur. Aku ingin sekali mengatakan kalau kita tinggal untuk sementara di sini dulu, karena aku khawatir sama bunda, tapi kamu sudah memintanya terlebih dahulu dan itu membuat aku merasa senang.” Alaric mencium kening istrinya.


“Sayang, hari ini kamu ada meeting terakhir 'kan sama mereka?” ucap Ana menyadarkan suaminya yang sudah mulai membuka kancing kemeja dirinya. Alaric pun duduk dan membuang napasnya dengan kasar.


“Sayang, haruskah kita bulan madu lagi biar aku punya waktu menikmati tubuh kamu? Sudah hampir satu minggu ini aku tidak merasakannya,” keluh Alaric sambil tertunduk lemas. Ana yang melihatnya tertawa kecil dan langsung memeluk tubuhnya.


“Emmm ... bagaimana akhir pekan nanti kita ke apartemen menghabiskan waktu berdua? Sekalian sesekali bersih-bersih di sana.”


“Apa tidak bisa hari ini ya?” Ana melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alaric yang terlihat masam. Dia merasa gemas pada suaminya dan langsung mencubit kedua pipi Alaric sehingga yang empunya merasa kesakitan.


“... Sayang, aku maunya itu tu, bukan malah dicubit. Enggak peka banget sih jadi istri,” kesal Alaric.


“Aku gemes banget sama kamu. Kamu tuh ya ... kalau di kantor terkenal tegas dan galak, padahal aslinya kalau di rumah sangat manja seperti ini.” Alaric tersenyum, dia menarik tubuh Ana dan menenggelamkan wajahnya di tengah-tengah belahan bukit lembut yang ada di bagian dada.


“Aku kangen banget sama kamu, Yank. Bagaimana aku membatalkan saja meeting hari ini dan menggantinya besok?” Ana menggelengkan kepalanya. Dia mengangkat wajah Alaric yang masih berada di dadanya, lalu berdiri menarik tangan Alaric agar segera berangkat ke kantor.

__ADS_1


“Mereka itu harus pulang ke negara mereka besok. Jangan suka ngaco deh ah! Ayo berangkat, nanti kita kesiangan lagi.” Terpaksa Alaric pun mengakuti langkah Ana sambil memeluk tubuh mungilnya dari belakang.


“Bagaimana kalau malam ini kita bertempur? Peluruku sudah penuh dan ingin sekali dikeluarkan,” lirih Alaric di telinga Ana membuat dia merinding mendengarnya.


“Sayang, ya ... ya ... ya! Aku takut kalau tidak segera dikeluarkan bisa-bisa meledak tak terkendali.” mendengar suara manja suaminya yang terus memohon seperti itu membuat Ana tertawa geli. Dia pun mengangguk dan membuat Alaric tersenyum bahagia.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


👍Like


💬 Komen


🌺 Vote


Jangan lupa follow IG @PENULISMICIN. Di sana kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author.


Terima kasih buat kalian yang sudah mengikut karya Author.

__ADS_1


__ADS_2