
S2 Bab 97
Semakin hari perut Ana semakin terlihat. Walaupun belum genap satu bulan, tapi pertumbuhan perut Ana sangat cepat. Mungkin karena dia mengandung anak kembar. Melihat istrinya yang sangat menyukai makanan dan paling penting dia sangat menyukai kopi, membuat Alaric membeli banyak stok untuk di rumahnya. Hal itu tidak semata-mata dia membelinya, tapi memang Alaric konsultasi dulu ke dokter tentang keanehan ngidam dari istrinya dan dokter pun mengatakan kalau itu wajar untuk seorang ibu hamil.
Berbeda dengan Ana, Aulia masih saja merasa mual terlebih menyium wewangian. Dia tidak tahan dan pasti akan mengeluarkan isi perutnya apabila menyium wangi parfum dan juga bumbu masakan. Kehamilan keduanya hanya berbeda satu minggu menurut perhitungan dokter. Dan mereka berharap kalau nanti mereka akan melahirkan bareng.
Satu bulan sudah berlalu, Ana dan Alaric merasa cemas apakah anak ketiga mereka ada atau yang seperti dikatakan dokter kemaren kalau kantungnya kosong. Siang itu sengaja Alaric tidak berangkat ke kantor, karena ingin mengantarkan istrinya ke dokter.
Wajah Ana tampak cemas. Sambil mengelus perutnya dia terus berdoa dalam hatinya. Ana berharap kalau dia benar-benar mengandung tiga buah hati.
“Sayang, kamu pasti cemas ya?” Tanya Alaric menari tangannya. Ana mengangguk.
“... tenang, Sayang! Anak kita pasti akan baik-baik saja.”
“Aku berharap mereka sehat semua dan tumbuh dengan baik, Yank.”
“Aku akan meminta obat terbaik untuk kandungan kamu, Sayang. Kamu tidak boleh banyak pikiran. Aku enggak mau pikiran kamu berpengaruh terhadap anak kita. Kamu harus tenang ya!” Ana tersenyum mengangguk.
Sampai di rumah sakit, Alaric dengan cepat mengambil kursi roda, yang menurut Ana itu sangat lebay. Karena dia masih sanggup untuk berjalan sendiri. Memang Alaric tidak mengijinkan Ana capek diusia kandungannya yang muda. Jangankan untuk masak, untuk berjalan keluar kamar pun dia sangat marah. Ana tahu betul kalau Alaric sangat menginginkan buah hati, tapi perlakuan Alaric pada Ana terlalu posesif, sehingga Ana kadang bandel di belakang suaminya.
“Sayang, kata orang kalau hamil itu harus banyak jalan. Lagi pula aku malu dilihat banyak orang,” keluh Ana.
“Iya Sayang, aku tahu. Itu 'kan nanti kalau usia kandungan kamu sudah tua. Untuk sekarang usia kandungan kamu masih rawan, Sayang. Jadi kamu harus nurut ya!” Ana memang selalu kalah di depan suaminya. Untuk masalah adu argumen Alaric memang tidak mau mengalah. Ana pun akhirnya pasrah dan mengikuti titah suaminya.
Benar saja, Ana menjadi sorotan semua orang. Bahkan suster pun sempat langsung bertanya, karena takut Ana mengalami hal yang serius. Setelah mendengar dari Alaric, para suster hanya tersenyum, tapi hal itu membuat Ana malu dan hanya tertunduk.
__ADS_1
Kini mereka tinggal menunggu panggilan. Setiap saat Ana tidak lepas dari cemilannya, terutama kopi yang memang harus selalu ada. Dan percaya atau tidak, semua itu disiaplan oleh Alaric. Dia mempunyai satu tas khusus untuk cemilan istrinya. Ana kadang merasa kesal dengan sikap posesif suaminya, tapi dia juga merasa sangat bangga, karena kasih sayang yang diberikan Alaric sangat tulus.
Ana menatap wajah Alaric, sehingga membuat Alaric merasa heran.
“Kenapa yank? Ada yang aneh?” Ana menggelengkan kepalanya dan menyetuh lembut wajah Alaric.
“Makasih ya, Sayang. Aku sangat senang memilikimu.”
“Aku yang harusnya berterima kasih padamu, karena telah bersedia menjadi pendaping hidupku. Terlebih sekarang kamu mengandung anakku. Sudah sepantasnya aku memberikan semuanya untukmu. Maafin aku ya Sayang, kalau sampai saat ini aku belum bisa menjadi suami yang baik.”
“Kok kamu ngomongnya gitu, kamu adalah suami dan calon papi terbaik di dunia.” keduanya saling melempar senyuman. Kalau bukan di tempat umum, sejak tadi Alaric ingin sekali mencium lembut bibir istrinya.
“Ibu Tasyana,” panggil suster dan dengan cepat Alaric langsung membantu istrinya berjalan memasuki ruangan.
“Selamat siang, Dok” sapa keduanya. Dokter cantik itu tersenyum dan menjawab sapaan mereka.
“Untuk keluhan sakit enggak ada, Dok. Tapi ya seperti bulan kemarin, saya masih menyukai kopi dan memakannya tanpa diseduh.” dokter tertawa mendengar itu.
“Itu sih biasa ya. Karena bawaan janin berbeda-beda setiap orang. Tapi sebisa mungkin dibatasi ya, Bu. Karena kafein juga tidak baik kalau kebanyakan. Ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita lihat perkembangan bayinya?” inilah yang sejak tadi ditunggu-tunggu oleh Ana dan juga Alaric.
Seperti biasa Alaric menuntun Ana dan membantunya naik ke atas tempat tidur. Dada Ana berdebar, karena dia akan melihat perkembangan buah hatinya. Saat alat sudah mulai ditempelkan, layar pun langsung mengambarkan rahim Ana. Dokter memperbesar janin yang ada di dalam perutnya dan itu berhasil membuat Ana menangis bahagia.
“Seperti yang saya jelaskan bulan kemarin, kalau Ibu mengalami vanishing twin syndrome. Tapi perkembangan dua bayi Ibu sangat sehat dan sempurna. Bisa dilihat kalau mereka sudah mulai terbentuk. Dan ini satu kantung yang masih terlihat kosong, jadi sudah bisa dipastikan kalau Ibu mengandung hanya dua anak kembar saja. Sejauh ini mereka tampak sehat. Nanti saya akan memberikan kembali vitamin dan juga obat penguat janin ya,” Jelas dokter.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari dokter membuat keduanya bersyukur, terlebih melihat perkembangan kedua anak mereka yang sehat membuat mereka sangat bahagia. Selesai memeriksakan kandungan Ana, keduanya seperti biasa menebus obat dan rencananya akan pergi ke rumah bunda untuk mengampaikan kabar bahagia dan memperlihatkan hasil USG Ana.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
🌺Vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading.
Follow IG aku yuk @PenulisMicin
__ADS_1
Terimakasih ❤️❤️