
Setelah mengantarkan makan siang untuk suaminya, Riana yang diantar supir pribadi mampir terlebih dahulu di bakery yang ada di dekat dengan kampus anak sulungnya. Ana sedang menyusun roti yang baru saja keluar dari panggangan, langsung menghampiri Riana yang baru saja masuk.
“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ana dengan senyumnya yang sangat manis. Riana yang baru saja melihat dia pun sangat kagum dengan kecantikan dan dandannya yang sederhana.
“Siang Mba. Roti yang best seller mana, mba?” Dengan lincahnya Ana memperkenalkan aneka roti dan kue pada Riana. Selagi Ana menjelaskan berbagai macam produk toko, Riana melihat Ana begitu kagum Entah kenapa saat melihat Ana mengingatkan sosok dirinya yang dahulu.
“Maaf Bu, jadi mau yang mana?” tanya Ana membuyarkan lamunan Riana.
“Hah, duh saya sampe lupa niat ke sini mau beli roti, karena terlalu asik melihat wajah kamu yang manis,” ucap Riana membuat Ana tertunduk malu dengan wajah merah merona.
“Ibu bisa aja, saya jadi malu. Ibu juga sangat cantik,”
“Siapa nama kamu?”
“Tasyana, Bu, tapi orang-orang biasa memanggil saya Ana,” jawabnya sambil tersenyum manis. Lagi-lagi Riana terpana dengan senyuman manis gadis yang ada di hadapannya.
“Oke Ana. Ibu mau yang ini, ini dan itu masing-masing empat pcs ya,” ucap Riana sambil menunjuk beberapa roti yang akan dibeli olehnya. Dengan cepat Ana membungkus semua roti yang dipilih oleh Riana, dan membawanya ke kasir.
“Silahkan Bu, lanjut bayar di sini. Terimakasih telah mengunjungi bakery kami.” ucapnya dan kembali merapihkan roti yang belum usai dikerjakannya.
Setelah membayar pesanannya, Riana kembali menghampiri Ana.
“Ana, kamu gadis yang manis. Ibu akan sering-sering berkunjung ke sini untukmu,” spontan Ana langsung tersenyum lebar mendengar perkataan Riana.
“Dengan senang hati, Bu. Ana akan selalu tunggu kedatangan ibu,” Riana tersenyum dan melambaikan tangan pada Ana sambil melangkah keluar.
Ternyata masih ada wanita berhati malaikat seperti ibu tadi. Andaikan aku bisa mempunyai seorang ibu seperti dia. Seketika Ana merasa sedih mengingat dia tidak pernah mengetahui siapa ibu kandungannya. Jujur di lubuk hatinya, Ana sangat ingin mengetahui dari rahim siapa dia dilahirkan, dan dari keluarga mana dia berasal. Ibu Sarah dulu sempat memberikan alamat keluarga dirinya, tapi setelah dia mencarinya sayang sekali mereka sudah pindah sejak lama. Dan mulai sejak itu, Ana pasrah dengan hidup sebatang kara.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, waktunya Ana untuk pulang ke rumah. Dia berkemas membawa barang-barangnya, setelah itu pamit pada rekan kerjanya dan langsung berjalan keluar toko.
“Kakak Satria ....” teriak Ana bahagia saat melihat lelaki yang sedang duduk di atas motor bebek di parkiran depan toko. Sudah hampir dua bulan lamanya Ana tidak bertemu dengan kakak angkatnya. Dia pun berlari menghampiri Satria. Keduanya melempar senyuman satu sama lainnya.
“Kak Satria kok ga bilang mau ke sini. Tau gitu Ana bawain roti,”
“Sengaja, biar kamu ga usah repot-repot bawain kakak roti,” ucapnya sambil mencubit hidung kecil Ana.
“... udah makan belum?” Ana tersenyum menggelengkan kepalanya.
“Laper ....” ucapnya manja. Satria tersenyum, dan memakaikan helm perlahan ke kepalanya.
“Lets go!!” ucap Satria dan keduanya pun pergi ke tempat biasa mereka selalu memesan makanan.
Tanpa disadari, sejak tadi Alaric berada di seberang tempat Ana bekerja, dan memperhatikan mereka. Awalnya dia ingin menjemput Ana dan mengajaknya untuk makan malam. Dia tahu jam segini Ana pulang dari kerjanya dari tukang parkir yang suka mangkal di depan bakery. Dia masih penasaran kenapa hatinya berdebar dikala dekat atau melihat wajah Ana. Tapi, melihat kejadian tadi, Alaric menyadari kalau Ana sudah memiliki kekasih, dan dia tidak ada alasan lagi untuk mendekati dirinya.
**♥️♥️**
“De, ngapain kamu di sana?” tanya Sonia pada anak gadisnya yang duduk di ruang tamu menghadap pintu sambil melipat kedua tangannya.
“Nungguin abang, Mi,”
__ADS_1
“Emang kenapa dengan abang? tumben nungguin, 'kan biasanya juga abang selalu pulang larut,”
“Mulai sekarang dan seterusnya ade ga akan biarin abang pulang malam lagi!” Sonia tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya.
“Ya udah, kalau abang sudah pulang, langsung ke meja makan ya. Papi sama Mami tunggu di sana.” Aulia mengangguk, tapi pandangannya tidak lepas menatap arah pintu.
Penantiannya tidak sia-sia, sepuluh menit setelah maminya pergi, pintu rumah terbuka dengan kedatangan Gibran.
“Astaga!! Dek, ngapain kami disana? ngagetin abang aja deh,” ucapnya sambil memegangi dadanya.
“Kenapa pulangnya malam? Abang habis dari mana ajak sama nenek lampir?” Gibran semakin tidak mengerti apa maksud adik kesayangannya. Dia pun menghampiri Aulia dan duduk di meja agar berhadapan dengan adiknya.
“Nenek lampir? maksud kamu siapa, sayang? abang ga ngerti, sumpah!”
“Cewek nyebelin yang terus-menerus ngekor di belakang abang,” Gibran mengerutkan keningnya, semakin tidak mengerti. Dia memegang tangan Aulia sambil tersenyum, dan seketika membuat hati Aulia luluh. Tapi dia berusaha mempertahankan egonya di depan kakaknya.
“Coba jelasin sama abang, sebenarnya siapa yang kamu maksud?”
“Ish ... abang, masa ga tahu. Itu cewek rese yang abang tarik tangannya.” mendengar itu Gibran langsung tahu siapa yang di maksud Aulia.
“Maksud kamu, Intan? kok kamu ngomong gitu sih ke dia?”
“Ya ... habisnya dia udah menghina sahabat ade, Bang. Ade mendadak ga suka aja sama dia,”
“Sebenarnya dia itu baik loh, De. Cuma mungkin tadi dia lagi bad mood aja. Kayak ade ga gitu aja,”
“Loh ... kok jadi bandingin sama ade sih? pokoknya ade ga suka kalau abang deket-deket lagi sama dia, apalagi abang suka ma dia. Noooooo ... jangan harap abang masih jadi kakak Ade.” jelas Aulia dan langsung berjalan masuk meninggalkan kakaknya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan Lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya....
Dibuka sebesar-besarnya kolom komentar bagi kalian yang mau berkomentar. Membaca komentar kalian itu menjadi mood booster tersendiri buat Author.
Happy day and keep smile ♥️♥️♥️
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Temaram senja di pantai carita
__ADS_1
kini hanya menyisakan sebuah cerita
tentang aku dan kamu
tentang kita yang tak mungkin lagi bertemu
disini
masih di bibir pantai
ukiran nama kita dalam lingkaran hati
luruh terpicu ombak dan hembusan angin
sua hanya tinggal sebuah kisah
jumpa tak lagi jadi sebuah harapan
dirimu telah ada dirinya
diriku entah dengan siapa
~Sudrun
♥️♥️♥️♥️♥️
Seperti biasa aku mau ngasih tau novel recommended, sambil nunggu novel ini up ....
Kekasihku Pangeran Gokil
Pena : Mikha Geka
Pujaku Mayang
Pena : Azis beck
Heavenly White Sword's Princess
Pena : Gibran Ramadhan
Terpaksa Menikahi Pria Culun
Pena : Arip Riko
Boss Come here Please
Pena : Novi Wu
Legenda Sang Monster
__ADS_1
Pena : Adhy Artha